Menjelajahi Cerpen-cerpen Religi

Minggu, 29 Mei 2022 - 09:21 WIB
loading...
Menjelajahi Cerpen-cerpen...
Menjelajahi Cerpen-cerpen Religi
A A A
Megawaty S
Penikmat buku sastra, pendidik di SMAN 11 Kota Jambi

Bagi generasi milenial, bisa jadi nama penulis buku ini kurang begitu akrab. Hal ini karena selama 2009-2019 Marwanto seakan menghilang dari kancah sastra. Sebenarnya sastrawan Yogyakarta ini sudah cukup lama malang melintang di dunia sastra. Sejak 2006 ia menggerakkan aktivitas sastra di daerahnya, namun “takdir” mengharuskan ia menjadi penyelenggara pemilu selama satu dasawarsa.

Di tahun 2019, saat pensiun dari komisioner KPU Kulonprogo, ia kembali ke habitatnya. Tapi Marwanto tidak sekadar comeback di dunia sastra. Ia kembali dengan prestasi. Sejumlah capaian ia raih selama tiga tahun bergiat kembali di dunia sastra. Puisinya yang berjudul “Celengan Jago Warisan Ibu” meraih juara pertama lomba cipta puisi Pekan Literasi Bank Indonesia tahun 2020. Lalu dua cerpennya menyabet juara lomba cerpen tingkat nasional: “Aroma Wangi Anak-anak Serambi” (Universitas Negeri Malang Jawa Timur, 2021) dan “Trah Wongso Cukur” (Institut Seni Indonesia Padang Sumatera Barat, 2021).

Buku ini merupakan kumcernya yang ketiga. Sebelumnya ia menerbitkan Kado Kemenangan (Sabdamedia, 2016) dan Hujan Telah Jadi Logam (Interlude, 2019). Buku ini terdiri dari lima belas cepen yang ditulis dalam rentang waktu cukup panjang (2004 hingga 2021). Dari 15 cerpen, dua belas diantaranya pernah dimuat media cetak dan online (Kedaulatan Rakyat, Minggu Pagi, Koran Merapi, Majalah Gong, Basabasi, dan Cendana.news), dua cerpen belum pernah dimuat media dan satu cerpen memenangi lomba sastra tingkat nasional.

Kesan pertama yang muncul setelah membaca buku ini adalah menarik dan mudah dipahami pembaca awam. Marwanto mengembangkan ide ke dalam cerita, yang tentu saja disertai konflik, bagai air yang mengalir dari pegunungan: jernih dan tak terhentikan menuju muara. Konflik yang ditampilkan buku ini memang terkesan landai, namun sering diakhiri ending yang mengejutkan. Di sinilah menariknya, karena salah satu ciri cerpen yang baik adalah ending-nya yang berkesan.

Kemudian jika melihat tampilan sampul buku, pembaca juga akan langsung merasakan begitu banyak cerita yang dikemas dan mendatangkan aroma harum (wangi) dalam bingkai diksi yang rapi dan terjaga, sehingga mudah mengantarkan pembaca masuk ke dalam alur ceritanya.

Ke-15 cerpen di buku ini menceritakan perihal kehidupan sehari-hari: dinamika sosial, politik, agama, hingga romantika berkeluarga. Tema yang diambil dari fenomena keseharian dengan garapan sederhana ini justru berkesan karena selain pembaca merasa tidak berjarak, juga tidak perlu terlalu mengerutkan kening untuk mengikuti alur cerita dari awal hingga akhir. Hanya pembaca mesti “hati-hati” ketika memasuki akhir cerita, sebab sebagian besar pesan cerpen di buku ini diletakkan di ending.

Secara umum, cerpen-cerpen di buku ini menawarkan sikap toleransi dalam menghadapi dinamika hidup di tanah air, yang memang dihuni oleh warga dengan latar belakang beragam. Toleransi tidak hanya antar agama, tapi pemahaman dalam satu agama. Selebihnya, mengangkat fenomena sosial yang menyertai perayaan ritual keagamaan, juga pergeseran tradisi dalam merayakan hari raya keagamaan yang mulai tergerus oleh gaya hidup modern atau diterjang perubahan zaman. Juga tentang masifnya penetrasi politik dalam kehidupan beragama.

Cerpen yang mengangkat toleransi antar umat beragama secara menonjol ditemui di cerpen yang berjudul “Aroma Wangi Anak-anak Serambi”. Di cerpen tersebut sebenarnya penulis tidak hanya menyampaikan pesan toleransi, tapi juga mencoba memberi makna yang lebih luas pada fungsi tempat ibadah, yakni ketika terjadi polemik boleh tidaknya masjid digunakan untuk mengumumkan berita kematian seorang Nasrani.

Cerpen yang menggambarkan toleransi dalam pemahaman satu agama, bisa ditemui di cerpen yang berjudul “Mendengar Suara Azan”. Cerpen ini berkisah mengenai perbedaan pandangan antara generasi tua dan muda dalam membangun nasjid di tempat yang angker. Sementara cerpen yang mengangkat fenomena dinamika sosial dalam balutan perayaan ritual keagamaan, juga pergeseran tradisi dalam merayakan hari raya keagamaan, kebanyakan bercerita tentang momentum hari lebaran.

Setidaknya ada enam judul cerpen yang berkaitan dengan lebaran, yakni: “Seperti Lebaran Tahun Lalu”, “Teriakan Hari Raya (THR)”, “Oleh-oleh Lebaran”, “Nostalgia Lebaran”, “Paku yang Keseratus”, dan “Di Beranda, Jika Saatnya Tiba”. Di cerpen-cerpen tersebut diangkat tokoh utama dengan beragam profesi (TKW, pembantu rumah tangga, pensiunan, tukang tambal ban) saat menghadapi peliknya persoalan hidup dan harus merayakan lebaran –tapi sebgian menyajikan bahwa momentum lebaran selalu mendatangkan kegembiraan untuk dijalani.

Cerpen berjudul “Kado Kemenangan” juga bercerita ihwal lebaran, namun lebih menitikberatkan pencarian eksistensi diri dari sang tokoh, pengembaraannya mencari dan menemukan (terlebih akhirnya mempercayai) Tuhan beserta agama yang dianutnya. Cerpen ini secara isi berat, tapi dua strategi yang digunakan penulis untuk membuat cerpen ini terkesan cair tampaknya berhasil. Pertama, cerpen ini dibuka dengan puisi dari teman sang tokoh utama. Kedua, ada banyak dialog yang kocak dan ringan tentang dua tokoh yang diceritakan.

Hemat saya, buku kumcer ini bisa dijadikan sebagai salah satu alternatif bacaan sastra yang mengasyikan di antara bacaa-bacaan sastra yang tersedia. Meski hampir keseluruhan cerpen-cerpen di buku ini mengangkat tema keagamaan dalam dinamika sosial, tapi karena di tiap judul selalu menghadirkan fenomena unik dan pendekatan yang khas, pembaca ditanggung tidak akan merasa bosan dan jenuh membacanya.

Akhirnya, membaca cerpen-cerpen di buku ini seperti menjelajahi aroma wangi fenomena keagamaan di sekitar kita.

Judul Buku : Aroma Wangi Anak-anak Serambi

Penulis : Marwanto

Penerbit : Poesies Indonesia, Cirebon Jawa Barat.

Cetakan : Pertama, November 2021

Tebal : vi+102 Halaman

ISBN : 978-623-97730-9-0
(hdr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Mengelola Sawit untuk...
Mengelola Sawit untuk Indonesia yang Kuat
Mengenal System Shift,...
Mengenal System Shift, Kerangka Baru Membaca Perubahan Dunia
Mudiruna, Kisah Ulama...
Mudiruna, Kisah Ulama Cahaya dari Rumah Sederhana
Bukan Motivasi Kosong,...
Bukan Motivasi Kosong, Positivo Theory Jadi Panduan Nyata Anak Muda Bangun Masa Depan
Rustini Muhaimin Tekankan...
Rustini Muhaimin Tekankan Budaya Literasi dengan Gerakan Membaca
Prosumenesia: Era Baru...
Prosumenesia: Era Baru Konsumen Jadi Produsen Digital
Buku “Misi untuk Raka”...
Buku Misi untuk Raka Diluncurkan, Edukasi Anak Usia Dini agar Seru Tanpa Gawai
Berani Sehat, Tak Perlu...
Berani Sehat, Tak Perlu Takut Kuman
3 Manfaat Membacakan...
3 Manfaat Membacakan Buku untuk Anak: Asah Kemampuan Komunikasi, Emosi, dan Imajinasi
Rekomendasi
Dari Iran ke Indonesia,...
Dari Iran ke Indonesia, Pesepeda Arezoo Tampil Memukau Lewat Sentuhan Ade Fitri Kirana
Justin Hubner Bisa Absen...
Justin Hubner Bisa Absen Perkuat Timnas Indonesia Lawan Mozambik
Ruben Onsu Tak Lagi...
Ruben Onsu Tak Lagi Harapkan Permintaan Maaf Sarwendah, Hanya Ingin Bertemu Anak
Berita Terkini
Hery Susanto Diberhentikan...
Hery Susanto Diberhentikan Tidak Hormat dari Ketua Ombudsman, Mensesneg: Nanti Kita Tindak Lanjuti
Jadi Penasihat Presiden,...
Jadi Penasihat Presiden, Said Iqbal Siap Perjuangkan Kepastian Kerja dan Upah Layak
Eks Ketua Ombudsman...
Eks Ketua Ombudsman Hery Susanto Segera Disidang
Usia Pensiun Personel...
Usia Pensiun Personel Polri Tidak Sama, Ini Penjelasan Pemerintah
Perjuangkan Nasib Dokter...
Perjuangkan Nasib Dokter Muda, PDMI Minta Pemerintah Buka Kembali Akses Ujian Kompetensi
OTT di Muara Enim dan...
OTT di Muara Enim dan Jakarta, KPK Sita Uang Ratusan Juta
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved