Kisah Hendropriyono Diuji Buya Syafii Maarif soal Terorisme, Hasilnya Bikin Salut!
Sabtu, 28 Mei 2022 - 15:21 WIB
loading...
A
A
A
"Dengan ini, tim penguji memutuskan Saudara Hendropriyono berhasil memeroleh gelar doktor dengan predikat cumlaude," kata Ketua Tim Penguji Mukhtasar.
Baca juga: SBY Jenguk Hendropriyono di RSPAD
Berdasarkan keterangan UGM, dalam disertasinya Hendropriyono menyebutkan bahwa terorisme adalah suatu fenomena sosial yang sulit untuk dimengerti, bahkan oleh para teroris sendiri. Tanpa pendidikan yang memadai pun, sesorang dapat melakukan aksi terorisme yang menggetarkan dunia dan berimplikasi sangat luas.
Menurutnya, taktik dan teknik teroris terus berkembang seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, sedangkan strateginya berkembang seiring dengan keyakinan ontologis atas ideologi atau filsafat yang menjadi motifnya.
Terorisme, kata dia, menggunakan cara-cara, ungkapan-ungkapan, dan bahasa sendiri dalam perjuangan mewujudkan tujuannya. Lebih jauh, Hendro menjelaskan bahwa para teroris menggunakan pembenaran epistemologis sendiri dan menafsirkan ideologi-ideologi serta ungkapan kebenaran dengan cara melakukan manipulasi makna.
“Manipulasi ungkapan bahasa kebenaran tersebut kerap kali bersumber dari kaidah-kaidah agama, yang ditafsirkan dan dimanipulasikan dengan ungkapan bahasa. Hal tersebut dijadikan dasar pembenaran bagi segala tindakannya yang revolusioner dan dramatis,” ucapnya.
Baca juga: SBY Jenguk Hendropriyono di RSPAD
Berdasarkan keterangan UGM, dalam disertasinya Hendropriyono menyebutkan bahwa terorisme adalah suatu fenomena sosial yang sulit untuk dimengerti, bahkan oleh para teroris sendiri. Tanpa pendidikan yang memadai pun, sesorang dapat melakukan aksi terorisme yang menggetarkan dunia dan berimplikasi sangat luas.
Menurutnya, taktik dan teknik teroris terus berkembang seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, sedangkan strateginya berkembang seiring dengan keyakinan ontologis atas ideologi atau filsafat yang menjadi motifnya.
Terorisme, kata dia, menggunakan cara-cara, ungkapan-ungkapan, dan bahasa sendiri dalam perjuangan mewujudkan tujuannya. Lebih jauh, Hendro menjelaskan bahwa para teroris menggunakan pembenaran epistemologis sendiri dan menafsirkan ideologi-ideologi serta ungkapan kebenaran dengan cara melakukan manipulasi makna.
“Manipulasi ungkapan bahasa kebenaran tersebut kerap kali bersumber dari kaidah-kaidah agama, yang ditafsirkan dan dimanipulasikan dengan ungkapan bahasa. Hal tersebut dijadikan dasar pembenaran bagi segala tindakannya yang revolusioner dan dramatis,” ucapnya.
(muh)
Lihat Juga :