Pancasila Bukan Bidah
Rabu, 25 Mei 2022 - 18:37 WIB
loading...
A
A
A
Ayat-ayat Pancasila
Memang istilah Pancasila tidak ada di Alquran dan hadis, akan tetapi sila persilanya terdapat dalam Alquran, hadis hingga khazanah hukum Islam. Terkait istilah, Piagam Madinah (mistaq al-Madinah) yang disusun oleh Nabi Muhammad di Madinah juga tidak ada di Alquran, meskipun tentu ada dalam sejarah kehidupan Nabi. Istilah yang mirip dengan Pancasila terdapat dalam literatur hukum Islam, yakni ushul al-khams (lima pokok) hal-hal yang niscaya ada dalam kehidupan manusia, yang merupakan tujuan turunnya syariah Islam (maqashid al-syari’ah). Ushul al-khams tersebut ialah perlindungan terhadap agama, nyawa, akal, keturunan dan harta.
Meskipun istilah Pancasila tidak ada dalam Alquran dan hadis, namun sila-silanya terdapat dalam Alquran dan hadis. Dimulai dari sila Ketuhanan Yang Maha Esa yang terdapat di surat al-Ihlas: 1, atau al-Baqarah: 177. Dalam al-Ihlas ditegaskan Keesaan Allah SWT, sedangkan dalam al-Baqarah: 177 ditekankan pengamalan iman kepada Allah harus melalui kepedulian kepada fakir miskin, satu hal yang menggambarkan kesatuan sila Ketuhanan dengan sila Kemanusiaan dan Keadilan Sosial.
Sila Kemanusiaan Pancasila juga terdapat dalam al-Maidah: 32 di mana Allah memuliakan martabat manusia dengan melarang pembunuhan terhadap manusia, dan memerintahkan untuk membantu kehidupan sesama manusia. Sila Kebangsaan terdapat dalam al-Maidah: 48 di mana Allah memerintahkan manusia untuk menghormati perbedaan sebagai Sunnatullah. Penghormatan terhadap kemajemukan adalah inti kebangsaan, meskipun ayat tersebut tidak menyebut bangsa.
Sila permusyawaratan terdapat dalam Ali Imran: 159 di mana Allah memerintahkan manusia untuk memusyawarahkan setiap hal. Serta sila Keadilan Sosial terdapat dalam surat al-Ma’un: 1-7 di mana Allah menyebut orang (yang mengaku beriman) namun tega menghardik anak yatim dan pelit membantu fakir miskin, sebagai orang yang mendustakan agama.
Selain Alquran, sila-sila Pancasila juga terdapat di hadist, misalnya sila Kedaulatan Rakyat. Dalam hadist riwayat Bukhari, Nabi Muhammad SAW bersabda: Ma min ‘abdin yastar’ihillahu ra’iyyatan yatumu yauma yamutu wahuwa ghasyun lira’iyyatihi harramallahu ‘alaihil jannah. Artinya: Barangsiapa diamanahi oleh Allah sebuah kepemimpinan, lalu ia meninggal, di hari meninggalnya sebagai pemimpin yang zalim kepada rakyatnya, maka diharamkan oleh Allah surga baginya. Hadist ini menegaskan bahwa pemimpin yang zalim (yang tidak sesuai dengan sila keempat Pancasila) tidak akan masuk surga.
Berdasarkan fakta-fakta ini, maka tuduhan Ustad Sofyan dan kawan-kawannya tidak berdasar, sebab sila-sila Pancasila ternyata terdapat, baik di Alquran maupun hadist. Dengan demikian, nilai-nilai Pancasila bukanlah bidah seperti yang dituduhkan, karena nilai-nilai tersebut telah lama dianjurkan oleh Islam.
Memang istilah Pancasila tidak ada di Alquran dan hadis, akan tetapi sila persilanya terdapat dalam Alquran, hadis hingga khazanah hukum Islam. Terkait istilah, Piagam Madinah (mistaq al-Madinah) yang disusun oleh Nabi Muhammad di Madinah juga tidak ada di Alquran, meskipun tentu ada dalam sejarah kehidupan Nabi. Istilah yang mirip dengan Pancasila terdapat dalam literatur hukum Islam, yakni ushul al-khams (lima pokok) hal-hal yang niscaya ada dalam kehidupan manusia, yang merupakan tujuan turunnya syariah Islam (maqashid al-syari’ah). Ushul al-khams tersebut ialah perlindungan terhadap agama, nyawa, akal, keturunan dan harta.
Meskipun istilah Pancasila tidak ada dalam Alquran dan hadis, namun sila-silanya terdapat dalam Alquran dan hadis. Dimulai dari sila Ketuhanan Yang Maha Esa yang terdapat di surat al-Ihlas: 1, atau al-Baqarah: 177. Dalam al-Ihlas ditegaskan Keesaan Allah SWT, sedangkan dalam al-Baqarah: 177 ditekankan pengamalan iman kepada Allah harus melalui kepedulian kepada fakir miskin, satu hal yang menggambarkan kesatuan sila Ketuhanan dengan sila Kemanusiaan dan Keadilan Sosial.
Sila Kemanusiaan Pancasila juga terdapat dalam al-Maidah: 32 di mana Allah memuliakan martabat manusia dengan melarang pembunuhan terhadap manusia, dan memerintahkan untuk membantu kehidupan sesama manusia. Sila Kebangsaan terdapat dalam al-Maidah: 48 di mana Allah memerintahkan manusia untuk menghormati perbedaan sebagai Sunnatullah. Penghormatan terhadap kemajemukan adalah inti kebangsaan, meskipun ayat tersebut tidak menyebut bangsa.
Sila permusyawaratan terdapat dalam Ali Imran: 159 di mana Allah memerintahkan manusia untuk memusyawarahkan setiap hal. Serta sila Keadilan Sosial terdapat dalam surat al-Ma’un: 1-7 di mana Allah menyebut orang (yang mengaku beriman) namun tega menghardik anak yatim dan pelit membantu fakir miskin, sebagai orang yang mendustakan agama.
Selain Alquran, sila-sila Pancasila juga terdapat di hadist, misalnya sila Kedaulatan Rakyat. Dalam hadist riwayat Bukhari, Nabi Muhammad SAW bersabda: Ma min ‘abdin yastar’ihillahu ra’iyyatan yatumu yauma yamutu wahuwa ghasyun lira’iyyatihi harramallahu ‘alaihil jannah. Artinya: Barangsiapa diamanahi oleh Allah sebuah kepemimpinan, lalu ia meninggal, di hari meninggalnya sebagai pemimpin yang zalim kepada rakyatnya, maka diharamkan oleh Allah surga baginya. Hadist ini menegaskan bahwa pemimpin yang zalim (yang tidak sesuai dengan sila keempat Pancasila) tidak akan masuk surga.
Berdasarkan fakta-fakta ini, maka tuduhan Ustad Sofyan dan kawan-kawannya tidak berdasar, sebab sila-sila Pancasila ternyata terdapat, baik di Alquran maupun hadist. Dengan demikian, nilai-nilai Pancasila bukanlah bidah seperti yang dituduhkan, karena nilai-nilai tersebut telah lama dianjurkan oleh Islam.
Lihat Juga :