Rawan Peretasan, Pemerintah Diminta Perkuat Protokol Keamanan Data Siber

Senin, 22 Juni 2020 - 07:55 WIB
loading...
Rawan Peretasan, Pemerintah...
Foto/Istimewa
A A A
JAKARTA - Kasus dugaan bocornya data pribadi 230.000 pasien Covid-19 dan dijual di situs gelap menambah panjang daftar kasus pencurian data di Tanah Air. Pemerintah diminta segera berbenah dengan membuat protokol keamanan siber yang andal agar data lembaga negara maupun swasta bisa aman dan terlindungi.

Kasus dugaan pencurian data pribadi sebelumnya terjadi pada perusahaan startup Tokopedia dan Bukalapak, serta Komisi Pemilihan Umum (KPU) RI. Demi mencegah pencurian data pribadi terus berulang, hal yang dinilai mendesak dilakukan pemerintah saat ini adalah mengoptimalkan peran Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN). Lembaga ini harus menjadi leading sector dalam pengawasan dan perlindungan data. Selain itu, pemerintah dan DPR perlu segera menyelesaikan pembahasan Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi yang tak kunjung selesai.

Ketua Pusat Studi Politik dan Keamanan (PSPK) Universitas Padjajaran Bandung Muradi menilai, protokol keamanan siber harus benar-benar diwujudkan demi mencegah kasus yang sama terus terulang.

“Selama protokol keamanan tidak efektif, kita selamanya akan menjadi surga peretasan para hacker. Ini akan merugikan entitas negara juga swasta,” ujar Muradi kepada KORAN SINDO kemarin.

Peretasan seperti pada kasus data pasien Covid-19 menurut dia bisa membawa dua akibat, pertama kerugian pribadi warga negara terutama soal materi, misalnya ATM dan kartu kredit dibobol, dan kedua menurunnya kepercayaan masyarakat pada keamanan negara. (Baca: Duh, 230.000 Data Pasien Covid-19 Indonesia Dijual di Dark Web)

Diketahui, pelaku peretas dengan nama akun Database Shopping mengklaim memiliki 231.636 data pribadi pasien Covid-19 yang dijual di situs terbuka Raid Forums. Situs ini sebelumnya juga digunakan peretas untuk menjual data pengguna Tokopedia awal Mei 2020. Dalam basis data tersebut terpampang informasi terkait data pasien berupa nama, status kewarganegaraan, tanggal lahir, hingga alamat. Bahkan pada basis data itu juga tersedia informasi tes Covid-19 pasien secara detail berupa gejala, tanggal mulai sakit, hingga tanggal pemeriksaan. Dilaporkan pula data dijual seharga USD300 atau sekitar Rp4,2 juta.

Muradi menyebut, paling tidak ada empat hal yang harus dilakukan agar Indonesia tidak terus menerus menjadi bulan-bulanan para hacker yang dengan mudah melakukan peretasan data pribadi.

Pertama, BSSN harus berperan melakukan pengawasan sekaligus melindungi data apapun, baik yang sifatnya negara maupun swasta. Fungsi ini menurut Muradi dulu juga dijalankan oleh Lembaga Sandi Negara (Lemsaneg) sebelum menjadi BSSN.

Kedua, masyarakat harus dibangun kesadarannya agar bisa memproteksi sendiri datanya. Ketiga, membangun kultur siber. Ini di antaranya membenahi masalah jaringan atau signal, serta dilakukan pengecekan keamanan data pada setiap lembaga secara periodik. Fungsi ini menurut dia bisa dilakukan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika. (Baca juga: Gerhana Matahari di Indonesia 37 Tahun Lalu Sangat Mencekam)

Dan, keempat, negara harus punya kemampuan proteksi, termasuk melakukan takedown terhadap setiap upaya dari penyusup yang ingin melakukan pencurian data.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Registrasi SIM Pakai...
Registrasi SIM Pakai Pengenalan Wajah, Nico DPR: Hati-hati Kebocoran Data
Kemhan Investigasi Dugaan...
Kemhan Investigasi Dugaan Kebocoran 700 Ribu Data Pribadi
Kementerian Komdigi...
Kementerian Komdigi Investigasi Dugaan Kebocoran Data Pegawai
Bareskrim Gandeng BSSN...
Bareskrim Gandeng BSSN Usut Kebocoran 6 Juta Data NPWP
Guru Honorer di Jatim...
Guru Honorer di Jatim Bobol Sistem BKN dan Jual Data Elektronik
6 Juta Data NPWP Bocor,...
6 Juta Data NPWP Bocor, Jokowi Instruksikan Kominfo, Kemenkeu, dan BSSN Mitigasi
Data Rahasia iPhone...
Data Rahasia iPhone Bocor! India Selidiki Tata Electronics
Idul Adha dan Teror...
Idul Adha dan Teror Data: Kita Berkurban atau Justru Jadi Korban?
Komdigi Hentikan Sementara...
Komdigi Hentikan Sementara IGRS, Siap Lakukan Evaluasi
Rekomendasi
Bukan Cuma Harga Minyak,...
Bukan Cuma Harga Minyak, Tata Kelola APBN yang Buruk Jadi Biang Kerok Lemahnya Rupiah
Resor Baru di Tepi Pantai...
Resor Baru di Tepi Pantai Langkawi Hadirkan Panorama Hutan, Gunung, dan Laut Sekaligus
Presiden Israel Ingin...
Presiden Israel Ingin Berdamai dengan Arab Saudi: Saya Menghormati Mohammed bin Salman
Berita Terkini
Don Ritto Dilimpahkan...
Don Ritto Dilimpahkan ke Kejagung, Polisi Serahkan Barang Bukti Kasus Korupsi dan TPPU
Brigjen Pol Irhamni:...
Brigjen Pol Irhamni: Kolaborasi Aparat Penegak Hukum Jadi Kunci Jerat Mafia Lingkungan
Laporan Gratifikasi...
Laporan Gratifikasi Menhut Raja Juli Ditolak, KPK Ungkap Alasannya
Polisi Pastikan Emas...
Polisi Pastikan Emas 74 Kg Sitaan dari Rumah Febrie Adriansyah Asli
Don Ritto Bungkam saat...
Don Ritto Bungkam saat Dilimpahkan ke Kejagung, Ini Penampakannya
Febrie Adriansyah Mulai...
Febrie Adriansyah Mulai Diperiksa Kejagung, Hotman Paris: Sebagai Tersangka
Infografis
Militer Iran Siap Kirim...
Militer Iran Siap Kirim Pasukan untuk Bantu Pemerintah Suriah
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved