Family Megashift in the New Normal
Sabtu, 20 Juni 2020 - 09:02 WIB
loading...
A
A
A
“After pandemic, everyone is a good cook”
Survei dari Bernstein menunjukkan, perilaku makan berubah selama masa pandemi dimana 59,5% responden menjawab mereka lebih sering memasak mulai dengan mengolah bahan mentah.
Studi ini berkebalikan dengan saat kondisi normal dimana milenial disebut sebagai generasi yang paling tidak bisa memasak. Milenial lebih senang mengejar karir. Namun, ketika pekerjaan mereka bisa dikerjakan di rumah, milenial menjadi lebih fleksibel work-life balance mereka. Terutama untuk mengasah keahlian baru.
Pada mulanya, memasak hanya sebagai aktivitas mengisi waktu luang. Namun, seiring tren WFH yang permanen, kebiasaan makan ini akan mengubah pola konsumsi. Seperti mengurangi membeli menu indulgence dan berganti ke belanja groseri. (Lihat videonya: Terpisah dari Rombongan, Seorang Pesepeda Dibegal di Jakarta Selatan)
#6. "Work-Life-Play" Balance
Ketika flexible working hour (FWH) menjadi kenormalan baru, maka batas antara bekerja (working), mengurus keluarga dan menjalankan parenting ke anak (living) serta menikmati leisure time (playing) menjadi kian kabur.
Di masa sebelumnya (era normal), waktu karyawan mayoritas untuk bekerja dan sedikit sekali bisa digunakan untuk living dan playing. Dengan FWH, maka mereka lebih leluasa mengatur waktunya dimana porsi living dan playing akan lebih besar dari sebelumnya. (Baca juga: Menkeu Rogoh Rp607,7 T untuk Pemulihan Ekonomi, Ini Realisasinya)
Keseimbangan work-live-play yang lebih baik ini pada akhirnya akan meningkatkan kualitas dan kebahagiaan (well-being). Menjalani WFH, ibarat seperti juggling dalam atraksi sirkus. Awalnya kerepotan. Namun, seiring waktu working parents akan piawai berusaha menyeimbangkan waktu untuk working-living-playing.
Dengan WFH dan FWH keluarga bisa memiliki waktu yang lebih intimate dan orang tua bisa mengamati tumbuh kembang anak.
Welcome the well-being revolution.
Survei dari Bernstein menunjukkan, perilaku makan berubah selama masa pandemi dimana 59,5% responden menjawab mereka lebih sering memasak mulai dengan mengolah bahan mentah.
Studi ini berkebalikan dengan saat kondisi normal dimana milenial disebut sebagai generasi yang paling tidak bisa memasak. Milenial lebih senang mengejar karir. Namun, ketika pekerjaan mereka bisa dikerjakan di rumah, milenial menjadi lebih fleksibel work-life balance mereka. Terutama untuk mengasah keahlian baru.
Pada mulanya, memasak hanya sebagai aktivitas mengisi waktu luang. Namun, seiring tren WFH yang permanen, kebiasaan makan ini akan mengubah pola konsumsi. Seperti mengurangi membeli menu indulgence dan berganti ke belanja groseri. (Lihat videonya: Terpisah dari Rombongan, Seorang Pesepeda Dibegal di Jakarta Selatan)
#6. "Work-Life-Play" Balance
Ketika flexible working hour (FWH) menjadi kenormalan baru, maka batas antara bekerja (working), mengurus keluarga dan menjalankan parenting ke anak (living) serta menikmati leisure time (playing) menjadi kian kabur.
Di masa sebelumnya (era normal), waktu karyawan mayoritas untuk bekerja dan sedikit sekali bisa digunakan untuk living dan playing. Dengan FWH, maka mereka lebih leluasa mengatur waktunya dimana porsi living dan playing akan lebih besar dari sebelumnya. (Baca juga: Menkeu Rogoh Rp607,7 T untuk Pemulihan Ekonomi, Ini Realisasinya)
Keseimbangan work-live-play yang lebih baik ini pada akhirnya akan meningkatkan kualitas dan kebahagiaan (well-being). Menjalani WFH, ibarat seperti juggling dalam atraksi sirkus. Awalnya kerepotan. Namun, seiring waktu working parents akan piawai berusaha menyeimbangkan waktu untuk working-living-playing.
Dengan WFH dan FWH keluarga bisa memiliki waktu yang lebih intimate dan orang tua bisa mengamati tumbuh kembang anak.
Welcome the well-being revolution.
(ysw)
Lihat Juga :