Hikmah Ramadhan Mengontrol Ketamakan
Sabtu, 09 April 2022 - 12:59 WIB
loading...
A
A
A
Melihat hal ini, KPK memandang perlu mendesain pendidikan di republik ini agar tetap memiliki integritas yang berakhlakul karimah dengan mengajarkan idealisme yang sarat dengan nilai-nilai antikorupsi yakni kesederhanaan, kejujuran, dan rasa tanggung jawab tinggi, untuk membentuk karakter kuat bangsa Indonesia sebagai bangsa antikorupsi. KPK melihat pola pendidikan yang saat ini lebih banyak mengandalkan porsi pengajaran dan pembelajaran yang bermuara pada peningkatan akal, jasmani, serta keterampilan, dan itu tidak salah.
Namun pola pendidikan tersebut seyogianya dapat ditambahkan unsur dan nilai-nilai antikorupsi sejak dini, mulai dari usia anak Kelompok Bermain (KB) hingga mahasiswa dan berlanjut sampai mereka bekerja, untuk membentuk sekaligus menjaga karakter anak bangsa antikorupsi. Berbicara tentang hikmah puasa di Bulan Ramadhan, tentu memiliki esensi dan pandangan multidimensi yang positif, bagi siapa pun yang menghayati, memahami, dan mencerna dengan baik nilai-nilai puasa dalam kehidupan sehari-hari.
Hikmah puasa menurut orang-orang yang beriman adalah untuk menggapai ketaqwaan, dimana ketaqwaan itu sifatnya universal dan sangat luas. Saya teringat firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang sering kita dengar dan selalu disampaikan berulang kali oleh para khotib dalam khutbahnya :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa” (QS. Al Baqarah[2]: 183).
Menurut bahasa, kata taqwa berarti "memelihara" atau "menghindari". Sederhananya, taqwa adalah perwujudan Amar Ma'ruf Nahi Munkar, melaksanakan segala perintah dan menjauhi seluruh larangan Allah SWT.
Menurut pandangan saya, memerangi korupsi salah satu bentuk ketaqwaan kita kepada Allah SWT. Puasa di Bulan Ramadhan seyogianya menjadi stimulus bagi segenap umat manusia untuk belajar membiasakan diri berbuat jujur dan sederhana agar terhindar dari perilaku koruptif, senantiasa teguh mempertahankan nilai-nilai kebaikan dan kebajikan yang sejatinya menjadi Keutamaan Ramadhan.
Namun pola pendidikan tersebut seyogianya dapat ditambahkan unsur dan nilai-nilai antikorupsi sejak dini, mulai dari usia anak Kelompok Bermain (KB) hingga mahasiswa dan berlanjut sampai mereka bekerja, untuk membentuk sekaligus menjaga karakter anak bangsa antikorupsi. Berbicara tentang hikmah puasa di Bulan Ramadhan, tentu memiliki esensi dan pandangan multidimensi yang positif, bagi siapa pun yang menghayati, memahami, dan mencerna dengan baik nilai-nilai puasa dalam kehidupan sehari-hari.
Hikmah puasa menurut orang-orang yang beriman adalah untuk menggapai ketaqwaan, dimana ketaqwaan itu sifatnya universal dan sangat luas. Saya teringat firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang sering kita dengar dan selalu disampaikan berulang kali oleh para khotib dalam khutbahnya :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa” (QS. Al Baqarah[2]: 183).
Menurut bahasa, kata taqwa berarti "memelihara" atau "menghindari". Sederhananya, taqwa adalah perwujudan Amar Ma'ruf Nahi Munkar, melaksanakan segala perintah dan menjauhi seluruh larangan Allah SWT.
Menurut pandangan saya, memerangi korupsi salah satu bentuk ketaqwaan kita kepada Allah SWT. Puasa di Bulan Ramadhan seyogianya menjadi stimulus bagi segenap umat manusia untuk belajar membiasakan diri berbuat jujur dan sederhana agar terhindar dari perilaku koruptif, senantiasa teguh mempertahankan nilai-nilai kebaikan dan kebajikan yang sejatinya menjadi Keutamaan Ramadhan.
Lihat Juga :