Persiapkan Strategi Terbaik Hadapi Risiko Terburuk Dampak Krisis Rusia-Ukraina
Rabu, 16 Maret 2022 - 19:41 WIB
loading...
A
A
A
Baca juga: Amanat Konstitusi Harus Jadi Pegangan dalam Menyikapi Konflik Rusia-Ukraina
Duta Besar RI untuk Polandia Periode 2014 – 2019 Peter F. Gontha mengatakan bahwa secara geografis Rusia memiliki perbatasan darat dengan banyak negara. Jadi, ujar Peter, apa pun yang terjadi terhadap Rusia akan mengakibatkan dampak ekonomi terhadap banyak negara.
Peter sangat berharap pemerintah dapat menyikapi dampak krisis Rusia-Ukraina dengan kebijakan yang tepat, sehingga perdagangan sektor energi dan komoditas nasional dapat sepenuhnya bermanfaat bagi negara dan masyarakat luas. Sanksi ekonomi yang dijatuhkan Amerika Serikat terhadap Rusia, menurut Peter, akan menjadi preseden bagi negara-negara yang berniat berinvestasi ke negara lain.
Di sisi lain, ungkapnya, rencana Rusia untuk melakukan serangan cyber ke pasar modal, perbankan dan perdagangan di Amerika Serikat juga akan menciptakan dampak negatif bagi negara-negara di dunia termasuk Indonesia. "Saya harap rencana Rusia ini tidak akan terjadi, tetapi Indonesia harus mewaspadai ancaman serangan cyber tersebut," ujar Peter.
Baca: Nilai-nilai Kebangsaan Harus Diimplementasikan dalam Tindakan Keseharian
Sementara itu, CEO SAIAC untuk Asia Pasifik, Eropa, Timur Tengah dan Amerika Shaanti Shamdasani berpendapat bahwa dampak krisis Rusia-Ukraina di sejumlah sektor harus mampu dimanfaatkan oleh negara-negara ASEAN untuk mengisi gap komoditas yang terjadi.
Shaanti menyatakan Indonesia harus segera melakukan penyesuaian dalam perjanjian perdagangan dengan sejumlah negara untuk merespon berbagai perubahan akibat konflik Rusia-Ukraina. Shaanti optimistis inflasi di Indonesia masih terkendali dalam 2-3 bulan mendatang, karena kondisi fundamental ekonomi nasional cukup kuat.
Direktur Eksekutif Energy for Policy sekaligus Sekretaris Umum PP ISNU Kholid Syeirazi berpendapat Rusia merupakan negara yang kerap mendapat sanksi dunia. Namun, ujar Kholid, Rusia merupakan negara yang kuat dan produsen minyak dunia dengan produksi 6,5 juta barel per hari dan memasok 17% kebutuhan gas dunia.
Duta Besar RI untuk Polandia Periode 2014 – 2019 Peter F. Gontha mengatakan bahwa secara geografis Rusia memiliki perbatasan darat dengan banyak negara. Jadi, ujar Peter, apa pun yang terjadi terhadap Rusia akan mengakibatkan dampak ekonomi terhadap banyak negara.
Peter sangat berharap pemerintah dapat menyikapi dampak krisis Rusia-Ukraina dengan kebijakan yang tepat, sehingga perdagangan sektor energi dan komoditas nasional dapat sepenuhnya bermanfaat bagi negara dan masyarakat luas. Sanksi ekonomi yang dijatuhkan Amerika Serikat terhadap Rusia, menurut Peter, akan menjadi preseden bagi negara-negara yang berniat berinvestasi ke negara lain.
Di sisi lain, ungkapnya, rencana Rusia untuk melakukan serangan cyber ke pasar modal, perbankan dan perdagangan di Amerika Serikat juga akan menciptakan dampak negatif bagi negara-negara di dunia termasuk Indonesia. "Saya harap rencana Rusia ini tidak akan terjadi, tetapi Indonesia harus mewaspadai ancaman serangan cyber tersebut," ujar Peter.
Baca: Nilai-nilai Kebangsaan Harus Diimplementasikan dalam Tindakan Keseharian
Sementara itu, CEO SAIAC untuk Asia Pasifik, Eropa, Timur Tengah dan Amerika Shaanti Shamdasani berpendapat bahwa dampak krisis Rusia-Ukraina di sejumlah sektor harus mampu dimanfaatkan oleh negara-negara ASEAN untuk mengisi gap komoditas yang terjadi.
Shaanti menyatakan Indonesia harus segera melakukan penyesuaian dalam perjanjian perdagangan dengan sejumlah negara untuk merespon berbagai perubahan akibat konflik Rusia-Ukraina. Shaanti optimistis inflasi di Indonesia masih terkendali dalam 2-3 bulan mendatang, karena kondisi fundamental ekonomi nasional cukup kuat.
Direktur Eksekutif Energy for Policy sekaligus Sekretaris Umum PP ISNU Kholid Syeirazi berpendapat Rusia merupakan negara yang kerap mendapat sanksi dunia. Namun, ujar Kholid, Rusia merupakan negara yang kuat dan produsen minyak dunia dengan produksi 6,5 juta barel per hari dan memasok 17% kebutuhan gas dunia.
Lihat Juga :