Densus 88 Tembak Mati Dokter Sunardi, Pengamat Ungkap Kamuflase Kelompok Teroris
Jum'at, 11 Maret 2022 - 12:05 WIB
loading...
A
A
A
Makmun Rasyid menjelaskan, secara naluriah, jika seseorang merasa bersalah, maka dia akan mencari segala macam cara agar terlepas dari jeratan. Tak terkecuali Sunardi. Kepolisian tidak mungkin menjadikannya sebagai target manakala dia tidak terlibat dalam jaringan terorisme.
"Dan faktanya, Sunardi merupakan seorang penasihat Amir Jamaah Islamiyah (JI) dan juga penanggung jawab Hilal Ahmar Society Indonesia (HASI). HASI merupakan organisasi sayap Jamaah Islamiyah yang beroperasi besar di Jakarta, Semarang, Yogyakarta, Solo, Surabaya, dan Makassar," katanya.
Baca juga: Akal Bulus di Balik Pendanaan Teroris
Banyak pertanyaan yang muncul mengapa Densus 88 menangkap Sunardi padahal dia belum melakukan tindakan teror? Menurut Makmum Rasyid, Sunardi memang tidak mengangkat senjata dan melakukan aksi pengeboman. Sebab, saat ini Jamaah Islamiyah sudah mengubah strategi. Kelompok teroris ini, kata Makmun, paham bahwa jika menggunakan kekerasan, maka akan sangat merugikan karena banyak penangkapan, sehingga mereka memilih konsolidasi dan menunggu momentum yang tepat.
"Makanya kalau jalan-jalan ke rumah Sunardi, tempat dia membuka praktik, ada papan nama namun pasiennya yang datang ke rumah dokter Sunardi sedikit. Mengapa? Sunardi sudah mengerti peraturan organisasinya untuk berhati-hati saat membuka praktik. Tidak semua pasien bisa diterimanya," ungkapnya.
Jamaah Islamiyah memang memiliki kecenderung membuat lembaga-lembaga humanitarian seperti BM-ABA, Syam Organizer, dan Hilal Ahmar Society Indonesia. Uang yang terkumpul digunakan untuk mengirimkan bantuan kepada negara konflik. Beberapa yayasan filantropi di Indonesia, meski bukan sayap Jamaah Islamiyah atau JAD-JAT, tapi di negara-negara konflik mereka bertemu dan membantu kelompok teroris.
"Dan faktanya, Sunardi merupakan seorang penasihat Amir Jamaah Islamiyah (JI) dan juga penanggung jawab Hilal Ahmar Society Indonesia (HASI). HASI merupakan organisasi sayap Jamaah Islamiyah yang beroperasi besar di Jakarta, Semarang, Yogyakarta, Solo, Surabaya, dan Makassar," katanya.
Baca juga: Akal Bulus di Balik Pendanaan Teroris
Banyak pertanyaan yang muncul mengapa Densus 88 menangkap Sunardi padahal dia belum melakukan tindakan teror? Menurut Makmum Rasyid, Sunardi memang tidak mengangkat senjata dan melakukan aksi pengeboman. Sebab, saat ini Jamaah Islamiyah sudah mengubah strategi. Kelompok teroris ini, kata Makmun, paham bahwa jika menggunakan kekerasan, maka akan sangat merugikan karena banyak penangkapan, sehingga mereka memilih konsolidasi dan menunggu momentum yang tepat.
"Makanya kalau jalan-jalan ke rumah Sunardi, tempat dia membuka praktik, ada papan nama namun pasiennya yang datang ke rumah dokter Sunardi sedikit. Mengapa? Sunardi sudah mengerti peraturan organisasinya untuk berhati-hati saat membuka praktik. Tidak semua pasien bisa diterimanya," ungkapnya.
Jamaah Islamiyah memang memiliki kecenderung membuat lembaga-lembaga humanitarian seperti BM-ABA, Syam Organizer, dan Hilal Ahmar Society Indonesia. Uang yang terkumpul digunakan untuk mengirimkan bantuan kepada negara konflik. Beberapa yayasan filantropi di Indonesia, meski bukan sayap Jamaah Islamiyah atau JAD-JAT, tapi di negara-negara konflik mereka bertemu dan membantu kelompok teroris.
Lihat Juga :