Cegah Provokasi dan Perpecahan, Mimbar Agama Harus Steril dari Penceramah Radikal
Jum'at, 11 Maret 2022 - 10:47 WIB
loading...
Mantan Direktur Eksekutif Maarif Institute Muhammad Abdullah Darraz. FOTO/IST
A
A
A
JAKARTA - Ruang dan mimbar agama selama ini terbukti sangat masif digunakan kelompok yang kerap mendistorsi agama untuk memprovokasi, memecah belah, dan mendoktrin masyarakat untuk membenci yang berbeda dan anti-Pancasila. Bahkan tidak hanya masyarakat umum, keluarga TNI-Polri pun tak luput dari sasaran penceramah radikal.
Tak salah bila masalah ini menimbulkan keprihatinan mendalam Presiden Joko Widoodo (Jokowi). Pada Rapim TNI-Polri di Mabes TNI di Cilangkap, pekan lalu, Presiden Jokowi meminta seluruh jajaran TNI-Polri dan keluarganya untuk mempertegas urgensi untuk memutus mata rantai radikalisme dan terorisme yang telah menginfiltrasi di lingkungan aparat TNI-Polri, yang notabene sebagai benteng pertahanan NKRI dan Pancasila.
Mantan Direktur Eksekutif Maarif Institute Muhammad Abdullah Darraz mengaku prihatin dengan keberadaan penceramah radikal. Menurutnya, infiltrasi radikalisme kerap kali diakibatkan faktor ketidaktahuan masyarakat, baik terhadap muatan radikal-ekstrem maupun ketidakpahaman terkait peta aktor dan kelompok yang membawa misi dan narasi radikal.
"Yang menjadi persoalan dalam setiap proses infiltrasi radikalisme (kelompok radikal) di tengah masyarakat adalah lemahnya resistensi, sebagai akibat dari ketidaktahuan masyarakat itu sendiri," ujar Muhammad Abdullah Darraz di Bogor, Jumat (11/3/2022).
Dia melanjutkan, lemahnya resistensi masyarakat ditandai oleh ketidakpahaman terhadap pandangan radikal ekstrem yang dibalut dengan penjelasan keagamaan yang memukau. Hal tersebut membingungkan masyarakat untuk membedakan mana pandangan yang memiliki muatan radikal dan mana yang tidak.
Tak salah bila masalah ini menimbulkan keprihatinan mendalam Presiden Joko Widoodo (Jokowi). Pada Rapim TNI-Polri di Mabes TNI di Cilangkap, pekan lalu, Presiden Jokowi meminta seluruh jajaran TNI-Polri dan keluarganya untuk mempertegas urgensi untuk memutus mata rantai radikalisme dan terorisme yang telah menginfiltrasi di lingkungan aparat TNI-Polri, yang notabene sebagai benteng pertahanan NKRI dan Pancasila.
Mantan Direktur Eksekutif Maarif Institute Muhammad Abdullah Darraz mengaku prihatin dengan keberadaan penceramah radikal. Menurutnya, infiltrasi radikalisme kerap kali diakibatkan faktor ketidaktahuan masyarakat, baik terhadap muatan radikal-ekstrem maupun ketidakpahaman terkait peta aktor dan kelompok yang membawa misi dan narasi radikal.
"Yang menjadi persoalan dalam setiap proses infiltrasi radikalisme (kelompok radikal) di tengah masyarakat adalah lemahnya resistensi, sebagai akibat dari ketidaktahuan masyarakat itu sendiri," ujar Muhammad Abdullah Darraz di Bogor, Jumat (11/3/2022).
Dia melanjutkan, lemahnya resistensi masyarakat ditandai oleh ketidakpahaman terhadap pandangan radikal ekstrem yang dibalut dengan penjelasan keagamaan yang memukau. Hal tersebut membingungkan masyarakat untuk membedakan mana pandangan yang memiliki muatan radikal dan mana yang tidak.
Lihat Juga :