DPR Anggap Capaian Vaksinasi Covid-19 Patut Diapresiasi

Jum'at, 04 Maret 2022 - 21:09 WIB
loading...
DPR Anggap Capaian Vaksinasi...
Capaian vaksinasi Covid-19 nasional saat ini diapresiasi kalangan DPR RI. Foto/Dok.SINDOnews
A A A
JAKARTA - Capaian vaksinasi Covid-19 nasional saat ini diapresiasi kalangan DPR RI. Diketahui, sebanyak 146,577,204 orang menerima vaksin dosis kedua atau setara 70.38% berdasarkan data Kementerian Kesehatan hingga Jumat 4 Maret 2022 pukul 18.00 WIB.

“Saya mengapresiasi kerja keras pemerintah yang telah mencapai target vaksinasi. Indikator penting keberhasilan penanganan Covid 19,” kata Anggota Komisi IX DPR Edy Wuryanto, Jumat (4/3/2022).

Dia menuturkan bahwa capaian vaksinasi tersebut menciptakan kekebalan komunitas di Indonesia. “Terbukti meski insidensi Omicron lebih tinggi, tapi sebagian besar ringan-sedang yang tidak membutuhkan dirawat di rumah sakit, angka kematian juga lebih rendah,” katanya.

Baca juga: Puluhan Warga Antusias Ikuti Vaksin Booster di Lapangan Futsal Citos



Dengan melihat data capaian vaksinasi tersebut, lanjut dia, tidak ada keraguan lagi pemerintah untuk segera menyiapkan skenario secara bertahap dari pandemi ke endemi agar pemulihan ekonomi segera terjadi. “Bagi daerah yang belum mencapai target vaksinasi terus pro aktif, jemput bola, atau door to door,” ungkapnya.

Anggota Komisi IX DPR Yahya Zaini menilai capaian vaksinasi nasional itu merupakan kerja keras pemerintah pusat, pemda, dibantu TNI, Polri, dan Badan Intelijen Negara (BIN). Dia juga menilai capaian vaksinasi nasional itu patut diapresiasi.

“Kita harus bangga dalam pencapaian vaksin Indonesia menempati rangkin ke-4 di dunia. Ini merupakan prestasi yang patut dihargai dan diacungi jempol,” ujar Yahya Zaini.

Kendati demikian, dia mengungkapkan bahwa capaian vaksinasi yang lebih tinggi lagi harus dikejar, terutama untuk lansia. “Karena capaian untuk vaksin lansia baru mencapai 70,17 % untuk dosis pertama dan 45,36 % untuk vaksin kedua dan baru sekitar 20 provinsi yang capaian vaksin lansianya di atas 60 %,” ucapnya.

Dia pun berharap penentuan peralihan status pandemi ke endemi harus dilakukan dengan cermat dan hati-hati serta mempertimbangkan pendapat dari para pakar, khususnya pakar epidemologi. “Jangan sampai Covid-19 nya masih naik, lalu kita menentukan status endemi. Sehingga pada akhirnya masyarakat yang dirugikan,” kata dia.

Sebab, menurutnya, peralihan status akan merubah strategi dan kebijakan penanganan pandemi, termasuk anggarannya. “Kita perlu mengambil pelajaran dari negara-negara yang sudah menentukan status endemi dan negara-negara yang belum menentukan status endemi. Apa saja faktor-faktor yang menjadi penentunya, karena setiap negara berbeda ketahanan kesehatannya,” katanya.

Sementara itu, Anggota Komisi IX DPR Rahmad Handoyo sepakat dengan Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang menekankan bahwa perubahan pandemi ke endemi tidak perlu tergesa-gesa. Menurutnya, peralihan pandemi ke endemi memerlukan persiapan yang matang.

Lebih lanjut dia mengatakan perubahan perilaku masyarakat dibutuhkan untuk peralihan pandemi ke endemi, selain vaksinasi. Karena, dia mengungkapkan banyak negara yang capaian vaksinasinya sudah tinggi, namun fatalitas rate-nya juga masih tinggi.

“Dibutuhkan perubahan perilaku dalam bentuk protokol kesehatan, kalau vaksinasinya sudah bagus, kemudian protokol kesehatan tetap berjalan, saya kira untuk menuju endemi itu masih bisa, tapi kalau saat ini menurut saya belum memungkinkan, tapi bolehlah untuk wacana itu,” pungkasnya.
(rca)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
DPR Minta Pemerintah...
DPR Minta Pemerintah Evaluasi Harga BBM Non-Subsidi Pascaanjloknya Harga Minyak Dunia
Singgung Peran KPRP,...
Singgung Peran KPRP, Pakar: Kritik Mahfud MD Terhadap UU Polri Sangat Aneh
Pakar Hukum: Pernyataan...
Pakar Hukum: Pernyataan Mahfud MD Soal UU Polri Abaikan KPRP Membingungkan
Pakar Hukum: UU Polri...
Pakar Hukum: UU Polri yang Baru Akomodasi Kepentingan Masyarakat dan Kepolisian
Revisi UU Polri Disahkan...
Revisi UU Polri Disahkan Jadi Undang-Undang, Pelayanan Kepolisian Diharapkan Meningkat
Wamenkum: 20 DIM RUU...
Wamenkum: 20 DIM RUU Polri Bakal Dibahas Bareng DPR
Ratusan Mahasiswa Trisakti...
Ratusan Mahasiswa Trisakti Bergerak dari Tugu 12 Mei Reformasi Menuju Gedung DPR
Ratusan Mahasiswa Trisakti...
Ratusan Mahasiswa Trisakti Bakal Geruduk DPR, Bawa Tiga Tuntutan Rakyat
DPR dan Pemerintah Pastikan...
DPR dan Pemerintah Pastikan Tak Ada Kendala Besar saat Puncak Haji
Rekomendasi
Tips MotionTrade: Lindungi...
Tips MotionTrade: Lindungi Data Pribadi Anda dari Ancaman Sniffing di Era Investasi Digital
Atasi Kekeringan, Warga...
Atasi Kekeringan, Warga Bekasi Bisa Dapat Bantuan Air Bersih Gratis
Kisah Bulan Muharram...
Kisah Bulan Muharram : Nabi Yunus AS 40 Hari di Perut Ikan, dan Pelajaran tentang Kesabaran
Berita Terkini
Terima Rp20 juta, Muhammad...
Terima Rp20 juta, Muhammad Abdimaludin Dinonaktifkan dari Ketua BEM FH Universitas Bung Karno
Yusril Prihatin Mahasiswa...
Yusril Prihatin Mahasiswa UBK Terima Uang usai Demo: Perjuangan Harus Murni dan Berintegritas
Ketua BEM FH Abdimaludin...
Ketua BEM FH Abdimaludin Akui Terima Uang Rp20 Juta dari Alumni, Diberikan oleh Polisi
Jokowi Respons Penangguhan...
Jokowi Respons Penangguhan Penahanan Roy Suryo dan Tifa: Itu Kewenangan Kejaksaan
Kejagung Tolak Permohonan...
Kejagung Tolak Permohonan Justice Collaborator Sony Sonjaya Terkait Kasus Korupsi MBG
Pembangunan Tanpa Ekologi:...
Pembangunan Tanpa Ekologi: Keteledoran yang Harus Dibayar Mahal
Infografis
Profil Rahayu Saraswati,...
Profil Rahayu Saraswati, Keponakan Prabowo yang Mundur dari DPR
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved