Rusia Serang Ukraina, Ujian Polugri Indonesia
Selasa, 01 Maret 2022 - 12:01 WIB
loading...
A
A
A
Jika kita melihat sedikit ke belakang, apa yang menyebabkan konflik ini berlangsung memanas hingga Rusia menyerang Ukraina? Berawal dari tergulingnya Presiden Ukraina Keempat Victor Yanukovich pada 2014 yang pro-Rusia, yang membatalkan hasil referendum kehendak rakyat Ukraina bergabung dengan masyarakat Uni Eropa. Yanukovich melarikan diri ke Rusia hingga saat ini. Presiden selanjutnya Petro Poroshenko yang dilantik pada Juni 2014 atas hasil pemilihan umum dihadapkan pada okupasi semenanjung Crimea oleh Rusia dengan alasan referendum rakyat Crimea yang memilih bergabung dengan Rusia dan pemberontakan gerakan separatis di wilayah timur Ukraina yang berbatasan dengan Rusia. Kedua front konflik tidak dapat diatasi oleh kekuatan militer saat itu. Ukraina dan masyarakat dunia meyakini bahwa Rusia berada di belakang gerakan separatisme dan secara terbuka mencaplok Crimea yang berada dalam kedaulatan Ukraina tanpa perlawanan perang.
Saat pertama kali tiba di Ibu Kota Kiev, musim semi April 2017, saya berusaha mengenal budaya dan sosiologi masyarakat Ukraina, selain mencermati keadaan sosial ekonomi dan keamanan negara tersebut. Beberapa bulan kemudian, kami yang bertugas di KBRI Kiev menyimpulkan bahwa status negara zona kuning berbahaya bagi diplomat dan WNI yang ditetapkan Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI agar dicabut. Ukraina aman, nyaman, dan damai. Sepanjang lebih dari empat tahun melaksanakan tugas diplomatik di Ukraina, diperolah kesan yang dalam akan masyarakatnya yang ramah, sederhana, dan cinta damai. Bahkan terhadap wilayah kedaulatannya yang dirampas pun Ukraina tidak menggunakan kekuatan bersenjata untuk merebutnya. Yang Ukraina lakukan di dalam wilayahnya di timur adalah menjaga agar gerakan separatis tidak masuk lebih jauh ke dalam wilayah Ukraina yang telah disepakati dalam perjanjian Minks oleh para pihak berkonflik, termasuk Rusia. Dalam kurun waktu 2017–2021, situasi keamanan dan stabilitas ekonomi serta politiknya cukup kondusif, tidak ada keraguan dan kekhawatiran hidup di negara tersebut.
Saya bersama para kepala perwakilan negara-negara sahabat lainnya beberapa kali mengunjungi wilayah perbatasan konflik, suasananya biasa saja. Justru kekhawatiran akan meletusnya perang terjadi setelah dalam tiga bulan terakhir ini Amerika Serikat dan NATO menarasikan akan terjadinya perang Rusia-Ukraina tanpa kehadiran mereka di wilayah Ukraina menghadapi serangan Rusia saat ini.
Indonesia dan masyarakat internasional tentunya sangat menyayangkan tindakan Rusia menyerang Ukraina yang damai. Apa pun alasannya, perang harus dihentikan. Dunia yang damai adalah tujuan berhimpunnya negara-negara dalam organisasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Perang pasti selalu membawa derita bagi semua pihak. Dunia tidak menghendaki lagi terjadinya peperangan dengan alasan apa pun. Banyak cara yang dapat ditempuh untuk menyelesaikan setiap sengketa melalui jalan diplomasi yang damai. Serangan yang baru dua hari berlangsung sudah menimbulkan dampak ekonomi dunia, harga minyak dan gas bumi sebagai sumber energi melejit. Transportasi udara dan laut di kawasan tersebut terhenti. Hubungan diplomatik antarnegara terganggu. Sanksi yang dijatuhkan Amerika Serikat terhadap Rusia berdampak luas. Jika berlarut, dunia merasakan dampaknya dalam waktu dekat.
Kini masyarakat Ukraina pada umumnya dan WNI kita yang tinggal di sana dalam keadaan khawatir akan keadaan yang lebih buruk di hari mendatang. Antrean pengisian BBM sudah memanjang, supermarket sudah mulai diserbu pembeli bahan kebutuhan pokok, gerai-gerai pengambilan mesin uang dipenuhi antrean. Amerika Serikat sudah memulangkan semua warganya dari wilayah Ukraina, diikuti negara- negara lain.
KBRI di Kiev mulai mengevakuasi seratusan WNI ke Gedung KBRI yang relatif lebih aman sebagai tempat perlindungan. Beberapa kota besar di Ukraina seperti Odessa, Kharkiv, Chernihiv, Kyiv Oblast, dan lainnya sudah dihujani tembakan misil Rusia. Ratusan ribu penduduk Ukraina mulai bergerak ke perbatasan Polandia untuk mencari tempat yang aman, sebagian lainnya berlindung di stasiun-stasiun kereta api bawah tanah jika mendengar sirine peringatan.
Saat pertama kali tiba di Ibu Kota Kiev, musim semi April 2017, saya berusaha mengenal budaya dan sosiologi masyarakat Ukraina, selain mencermati keadaan sosial ekonomi dan keamanan negara tersebut. Beberapa bulan kemudian, kami yang bertugas di KBRI Kiev menyimpulkan bahwa status negara zona kuning berbahaya bagi diplomat dan WNI yang ditetapkan Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI agar dicabut. Ukraina aman, nyaman, dan damai. Sepanjang lebih dari empat tahun melaksanakan tugas diplomatik di Ukraina, diperolah kesan yang dalam akan masyarakatnya yang ramah, sederhana, dan cinta damai. Bahkan terhadap wilayah kedaulatannya yang dirampas pun Ukraina tidak menggunakan kekuatan bersenjata untuk merebutnya. Yang Ukraina lakukan di dalam wilayahnya di timur adalah menjaga agar gerakan separatis tidak masuk lebih jauh ke dalam wilayah Ukraina yang telah disepakati dalam perjanjian Minks oleh para pihak berkonflik, termasuk Rusia. Dalam kurun waktu 2017–2021, situasi keamanan dan stabilitas ekonomi serta politiknya cukup kondusif, tidak ada keraguan dan kekhawatiran hidup di negara tersebut.
Saya bersama para kepala perwakilan negara-negara sahabat lainnya beberapa kali mengunjungi wilayah perbatasan konflik, suasananya biasa saja. Justru kekhawatiran akan meletusnya perang terjadi setelah dalam tiga bulan terakhir ini Amerika Serikat dan NATO menarasikan akan terjadinya perang Rusia-Ukraina tanpa kehadiran mereka di wilayah Ukraina menghadapi serangan Rusia saat ini.
Indonesia dan masyarakat internasional tentunya sangat menyayangkan tindakan Rusia menyerang Ukraina yang damai. Apa pun alasannya, perang harus dihentikan. Dunia yang damai adalah tujuan berhimpunnya negara-negara dalam organisasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Perang pasti selalu membawa derita bagi semua pihak. Dunia tidak menghendaki lagi terjadinya peperangan dengan alasan apa pun. Banyak cara yang dapat ditempuh untuk menyelesaikan setiap sengketa melalui jalan diplomasi yang damai. Serangan yang baru dua hari berlangsung sudah menimbulkan dampak ekonomi dunia, harga minyak dan gas bumi sebagai sumber energi melejit. Transportasi udara dan laut di kawasan tersebut terhenti. Hubungan diplomatik antarnegara terganggu. Sanksi yang dijatuhkan Amerika Serikat terhadap Rusia berdampak luas. Jika berlarut, dunia merasakan dampaknya dalam waktu dekat.
Kini masyarakat Ukraina pada umumnya dan WNI kita yang tinggal di sana dalam keadaan khawatir akan keadaan yang lebih buruk di hari mendatang. Antrean pengisian BBM sudah memanjang, supermarket sudah mulai diserbu pembeli bahan kebutuhan pokok, gerai-gerai pengambilan mesin uang dipenuhi antrean. Amerika Serikat sudah memulangkan semua warganya dari wilayah Ukraina, diikuti negara- negara lain.
KBRI di Kiev mulai mengevakuasi seratusan WNI ke Gedung KBRI yang relatif lebih aman sebagai tempat perlindungan. Beberapa kota besar di Ukraina seperti Odessa, Kharkiv, Chernihiv, Kyiv Oblast, dan lainnya sudah dihujani tembakan misil Rusia. Ratusan ribu penduduk Ukraina mulai bergerak ke perbatasan Polandia untuk mencari tempat yang aman, sebagian lainnya berlindung di stasiun-stasiun kereta api bawah tanah jika mendengar sirine peringatan.
Lihat Juga :