Rusia Serang Ukraina, Ujian Polugri Indonesia
Selasa, 01 Maret 2022 - 12:01 WIB
loading...
A
A
A
Serangan Rusia terhadap Ukraina sesungguhnya adalah serangan untuk Rusia sendiri. Negara-negara di dunia akan memberi sanksi yang berat kepada Rusia atas keputusan presidennya menyerang Ukraina tanpa landasan objektif.
Di tengah keraguan Ukraina yang merasa sendirian membela dirinya menghadapi kekuatan militer Rusia yang digdaya dan arogansi Rusia yang tidak menghormati hukum internasional, Indonesia sebagai negara netral yang bersahabat dengan keduanya memiliki momentum menjadi penengah.
Indonesia memiliki hubungan historis dengan kedua negara di era kejayaan Uni Soviet. Hubungan ekonomi dagang antara Indonesia dengan keduanya terus meningkat prospektif (USD1,3 T dengan Ukraina dan USD2,7 T dengan Rusia, 2021). Indonesia adalah pasar ekonomi masa depan bagi keduanya. Sebagai negara berpenduduk muslim terbesar dunia, penggagas Gerakan Nonblok, pemimpin ASEAN, Ketua G-20 Tahun 2022, peran diplomasi Indonesia dibutuhkan oleh kepentingan kedua negara. Lebih jauh dari itu, Indonesia menganut nilai-nilai universalisme dalam hubungan internasionalnya yang menentang segala bentuk agresi, pemaksaan kehendak, penggunaan kekuatan bersenjata, intervensi wilayah, dan diplomasi jalan damai dalam penyelesaian sengketa.
Inilah politik luar negeri (polugri) Indonesia yang bebas dan aktif. Pembelaan kita karena prinsip-prinsip internasional yang kita anut. Bukan saatnya mengambil posisi di tengah saat kita tahu kebenaran ada di sebelah kiri atau kanan kita. Indonesia tidak memiliki beban dan ketergantungan kepada Ukraina maupun Rusia. Indonesia bisa mengambil sikap atas dasar keyakinan kebenaran yang kita anut. Inilah ujian bagi Indonesia di tengah perang Ukraina yang membela diri dari serangan Rusia. Sekaligus amanat konstitusi kita bagi pemerintah untuk turut serta menjaga perdamaian dunia yang berdasarkan keadilan dan kemanusiaan.
Kita meyakini para pemimpin kita sadar akan hal ini, tergerak untuk melakukan tindakan diplomatiknya menghentikan perang di Ukraina demi perdamaian dunia.
Di tengah keraguan Ukraina yang merasa sendirian membela dirinya menghadapi kekuatan militer Rusia yang digdaya dan arogansi Rusia yang tidak menghormati hukum internasional, Indonesia sebagai negara netral yang bersahabat dengan keduanya memiliki momentum menjadi penengah.
Indonesia memiliki hubungan historis dengan kedua negara di era kejayaan Uni Soviet. Hubungan ekonomi dagang antara Indonesia dengan keduanya terus meningkat prospektif (USD1,3 T dengan Ukraina dan USD2,7 T dengan Rusia, 2021). Indonesia adalah pasar ekonomi masa depan bagi keduanya. Sebagai negara berpenduduk muslim terbesar dunia, penggagas Gerakan Nonblok, pemimpin ASEAN, Ketua G-20 Tahun 2022, peran diplomasi Indonesia dibutuhkan oleh kepentingan kedua negara. Lebih jauh dari itu, Indonesia menganut nilai-nilai universalisme dalam hubungan internasionalnya yang menentang segala bentuk agresi, pemaksaan kehendak, penggunaan kekuatan bersenjata, intervensi wilayah, dan diplomasi jalan damai dalam penyelesaian sengketa.
Inilah politik luar negeri (polugri) Indonesia yang bebas dan aktif. Pembelaan kita karena prinsip-prinsip internasional yang kita anut. Bukan saatnya mengambil posisi di tengah saat kita tahu kebenaran ada di sebelah kiri atau kanan kita. Indonesia tidak memiliki beban dan ketergantungan kepada Ukraina maupun Rusia. Indonesia bisa mengambil sikap atas dasar keyakinan kebenaran yang kita anut. Inilah ujian bagi Indonesia di tengah perang Ukraina yang membela diri dari serangan Rusia. Sekaligus amanat konstitusi kita bagi pemerintah untuk turut serta menjaga perdamaian dunia yang berdasarkan keadilan dan kemanusiaan.
Kita meyakini para pemimpin kita sadar akan hal ini, tergerak untuk melakukan tindakan diplomatiknya menghentikan perang di Ukraina demi perdamaian dunia.
(bmm)
Lihat Juga :