Bisikan Prabowo ke Soeharto Buat Jenderal Kopassus Ini Terjungkal dari Istana

Kamis, 24 Februari 2022 - 06:05 WIB
loading...
A A A
Benny berkata jika untuk menjaga keamanan pribadi Presiden, memang sudah cukup satu batalion Paspampres. Tapi, untuk pengamanan politik Presiden mutlak harus didukung oleh keterlibatan keluarga dan Presiden sendiri. Setelah mendengar ucapan yang demikian, Pak Harto lantas masuk kamar tidur. Maksud di balik "teguran" Benny ini adalah berkenaan dengan sepak terjang anak-anak Soeharto di bidang bisnis.

Ikhwal mengenai keberanian Benny dalam "menegur", mengutarakan hal-hal sensitif kepada pribadi Presiden Soeharto tidak cukup sampai di situ. Menurut versi Sudomo yang pernah menjabat Wapangab/Pangkopkamtib Laksamana Sudomo, Benny Moerdani pernah menyampaikan saran kepada Soeharto untuk mempertimbangkan pengunduran diri secara sukarela, karena 20 tahun adalah masa periode yang terlampau lama. Baca juga: Hanya Mimpi Jadi Kapten, Putera Blora Ini Melambung Jadi Jenderal Kepercayaan Soeharto

Menjelang Sidang Umum (SU) MPR 1988, Soeharto mencium upaya dan kabar bahwa Pangab Jenderal Benny Moerdani sangat berambisi menjadi wakil presiden. Rencana dan siasat pun dijalankan, termasuk menjadikan Fraksi ABRI di MPR lokomotif yang mendukung dirinya.

Tak terduga, menjelang SU Presiden Soeharto melakukan percepatan penggantian Panglima ABRI dari Jenderal Benny Moerdani kepada Jenderal Tri Sutrisno. Pergantian mendadak yang menggagalkan ambisi Benny Moerdani ini tidak lain atas informasi yang diberika Prabowo sebagai rivalnya kepada Presiden Soeharto.

Lalu muncul kekhawatiran adanya kelompok Benny yang akan "mengganggu" jalannya SU melalui kudeta. Prabowo lalu unjuk diri. Bahkan untuk mengantisipasi gangguan itu ia menyiapkan 1 Batalion Kopassus, Batalion Infantri Linud 328, Batalion Infantri 315, yang dipercayainya untuk melakukan kontra kudeta. Tapi kekhawatiran itu tidak terjadi. Yang ada hanya gangguan-gangguan kecil lainnya.

Gagal dalam mengganggu SU MPR, kelompok Benny kembali melancarkan isu suksesi yang didukung gencarnya Petisi 50, oleh mantan jenderal dan menteri untuk menjatuhkan presiden. Tahun 1989 Soeharto berkata: "Biar jenderal atau pun menteri yang bertindak inkonstitusional akan saya gebuk".

Memudarnya pamor Benny membuat semakin gencarnya gerakan pembersihan terhadap perwira-perwira militer yang berafiliasi ke grup Benny-seperti gerakan serupa yang pernah Benny gencarkan membersihkan perwira militer yang bersimpati pada Jenderal M Jusuf dan Islam. Mayjen Sintong Panjaitan adalah salah satu korbannya, empat tahun setelah Jenderal Benny Moerdani tidak menjadi Pangab, karier militernya akhirnya tamat.

Konflik yang terjadi antara M Jusuf dengan Benny Moerdani hampir mirip dengan konflik yang terjadi antara Ali Moertopo dengan Soemitro. Di mana, masing-masing pihak menjatuhkan demi sebuah kemenangan. Baca juga: Rivalitas 2 Jenderal Kepercayaan Presiden, Penuh Intrik dan Saling Jegal

Konflik yang diduga sengaja dibiarkan oleh Soeharto selaku Presiden RI kala itu. Karena, siapapun yang menang, tetaplah dia pemenangnya.
(kri)
Halaman :
Komentar
Copyright © 2023 SINDOnews.com
read/ rendering in 0.2542 seconds (10.55#12.26)