Plus Minus Duet Anies Baswedan - Ridwan Kamil di Pilpres 2024
Minggu, 20 Februari 2022 - 06:33 WIB
loading...
A
A
A
Baca juga: 3 Momen Kedekatan Anies - Ridwan Kamil, Sinyal Duet di Pilpres 2024?
“Kalau menentukan capres lebih pada faktor elektabilitas, tapi, untuk menentukan cawapres, tiket partai dan logistik biasanya mendapat porsi yang lebih tinggi,” pungkasnya.
Sementara itu, Direktur Eksekutif Indostrategic Ahmad Khoirul Umam menilai Anies dan RK sedang memainkan gimmick politik untuk menaikkan "saham politik" masing-masing jelang kontestasi 2024. Bahkan, kata dia, jika dicermati intensitasnya, belakangan RK lebih banyak merapat ke Anies daripada ke kekuatan merah atau PDIP.
“Artinya, besar kemungkinan jika Pilpres 2024 dijalankan, RK akan lebih mengerahkan kekuatannya untuk mendukung gerbong Anies. Problemnya, RK kurang cocok untuk disandingkan dengan Anies dengan skema simulasi Anies-RK,” kata Umam.
Karena, kata Umam, pendukung utama Anies lebih banyak didorong oleh kekuatan Islam yang terkonsentrasi di Jawa Barat, Banten, dan Sumatera. “Sementara magnitude elektabiltas RK sendiri juga hanya bertahan di wilayah yang sama, yakni Jawa Barat dan Banten yang memiliki kesamaan sosiologis budaya Sunda. Artinya, basis pemilihnya berpotensi overlapped (tumpang tindih, red), dan tidak mampu menghasilkan insentif elektoral baru,” ungkapnya.
Baca: Survei SMRC: Anies Baswedan Capres Teratas
Menurut Umam, kesempatan paling rasional bagi Anies untuk maju adalah menggandeng Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), yang memiliki mesin politik riil dan jaringan logistik yang lebih memadai. Di sisi lain, menurut Umam, AHY bisa mengonsolidasikan kekuatan dukungan segmen nasionalis-religius yang menjadi basis kekuatan Partai Demokrat selama ini.
“Artinya, skema smimulasi Anies-AHY akan menghadirkan pengaruh dan magnitude elektabilitas yang lebih besar untuk memenangkan Pilpres 2024 mendatang. Jika RK juga berada di gerbong Anies-AHY, maka RK bisa ikut menasional dengan bergabung dalam kabinet pemerintahan selanjutnya,” pungkasnya.
“Kalau menentukan capres lebih pada faktor elektabilitas, tapi, untuk menentukan cawapres, tiket partai dan logistik biasanya mendapat porsi yang lebih tinggi,” pungkasnya.
Sementara itu, Direktur Eksekutif Indostrategic Ahmad Khoirul Umam menilai Anies dan RK sedang memainkan gimmick politik untuk menaikkan "saham politik" masing-masing jelang kontestasi 2024. Bahkan, kata dia, jika dicermati intensitasnya, belakangan RK lebih banyak merapat ke Anies daripada ke kekuatan merah atau PDIP.
“Artinya, besar kemungkinan jika Pilpres 2024 dijalankan, RK akan lebih mengerahkan kekuatannya untuk mendukung gerbong Anies. Problemnya, RK kurang cocok untuk disandingkan dengan Anies dengan skema simulasi Anies-RK,” kata Umam.
Karena, kata Umam, pendukung utama Anies lebih banyak didorong oleh kekuatan Islam yang terkonsentrasi di Jawa Barat, Banten, dan Sumatera. “Sementara magnitude elektabiltas RK sendiri juga hanya bertahan di wilayah yang sama, yakni Jawa Barat dan Banten yang memiliki kesamaan sosiologis budaya Sunda. Artinya, basis pemilihnya berpotensi overlapped (tumpang tindih, red), dan tidak mampu menghasilkan insentif elektoral baru,” ungkapnya.
Baca: Survei SMRC: Anies Baswedan Capres Teratas
Menurut Umam, kesempatan paling rasional bagi Anies untuk maju adalah menggandeng Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), yang memiliki mesin politik riil dan jaringan logistik yang lebih memadai. Di sisi lain, menurut Umam, AHY bisa mengonsolidasikan kekuatan dukungan segmen nasionalis-religius yang menjadi basis kekuatan Partai Demokrat selama ini.
“Artinya, skema smimulasi Anies-AHY akan menghadirkan pengaruh dan magnitude elektabilitas yang lebih besar untuk memenangkan Pilpres 2024 mendatang. Jika RK juga berada di gerbong Anies-AHY, maka RK bisa ikut menasional dengan bergabung dalam kabinet pemerintahan selanjutnya,” pungkasnya.
(rca)
Lihat Juga :