Antihero Zaman Now

Sabtu, 05 Februari 2022 - 08:53 WIB
loading...
A A A
Yes, nostalgia lagi, aksi Sondang Hutagalung mengingatkan aksi serupa Mohamed Bouazizi (pedagang buah) di depan gedung gubernur di Tunisia. Namun, aksi Moh Bouazizi frontal menyulut gerakan rakyat yang serempak pro perubahan. Sayang, Sondang deadlock. Dan bhaaaa, deadlock-kah Dwi Hartanto di zaman now yang serba sarkas ini?

Beberapa tahun silam kita juga kehilangan Soe Hok-gie. Aktivis penggagas bangsa yang genial demi integritas dan militansi. Idenya menguar, membara, membius, cerdas, dan selalu progresif. Namun, Hok-gie mati muda. Penyebab kematian Sondang berbeda dengan Hok-gie. Hok-gie mengisap gas beracun ketika bertualang ke gunung. Namun, tragika kematian mereka serupa. Prof Kuntowijoyo menabalkannya dengan abortus intellectual. Pemikir-muda, intelegensia-muda, meninggal di usia-muda.

Untuk Mas Bro Dwi Hartanto, saya terngiang lema negative capability (pinjam istilah Prof Budi Darma) yang melenceng. Sungguhkah Dwi Hartanto tergolong abortus intellectual?

Dwi Hartanto telah mendapat gelar akademik yang mentereng. Gelar ini now setara dengan buka lapak gelar pahlawan di kuburan. Aksi jujur atas kepalsuan Dwi Hartanto ini menyiratkan pesan samar untuk kinerja penggawa NKRI. Dwi Hartanto penat, nalar hidup mampat, klimaks kekecewaan, berkali-kali tegar-tengkuk alias ndableg. Manusia muda, pemikir muda, intelektual muda era neolib yang sarkastik adalah karakter rigid, generasi yang menghalalkan prinsip hipokrit instan dibumbui virus lupa.

Sungguh, suatu ingkaran yang mencekik nalar manusia muda. Padahal, jauh hari sang proklamator RI lantang berkumandang. Kutipannya laris terpacak: ”Berikan aku seribu orang tua, niscaya Semeru akan kucabut akarnya; Berikan aku satu pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia”.

Mengapa manusia muda sebagai anutan pemikir muda di barisan zaman neolib ini justru berulah negatif? Mengapa manusia muda beramai-ramai mengguncang dunia dengan korupsi dan menipu rakyat? Inikah tuah? Jangan heran jika gambaran ini adalah siluet Sodoma dan Gomora.

Hentakan Mas Bro Dwi Hartanto seolah membeningkan keadaan, menggugah empati manusia muda buat berkaca. Jasad dikorbankan. Ide abadi digelembungkan seakan mengingatkan gagasan pesakitan Antonio Gramsci (Italia) yang menggelontorkan pilahan perlawanan kaum intelektual antara proletar dan borjuasi. Muncullah keutamaan ide dari balik bilik jeruji besi tentang intelektual tradisional dan intelektual organik. Apa keistimewaan intelektual ini? Adakah sengkarutnya dengan tegar-tengkuk ala Mas Bro Dwi Hartanto?

Konteks dengan Indonesia memang berbeda, tetapi esensi ”perang posisi” dan ”perang pergerakan” menjadi serupa. Sayang, barisan pemikir muda bangsa kita hanya sebatas wacana intelektual tradisional. Fakta membuktikan bahwa jabatan, kedudukan, kuasa, dan posisi yang mampu meraup uanglah akan membungkam daya kritis. Pemikir muda bangsa masih membebek tiran penguasa mayor (benarkah politik hitam, ekonomi hitam, hukum hitam?).

Kenapa pemikir muda kita tidak sanggup membangun intelektual organik yang diwacanakan Gramsci? Sebenarnya, sinergi intelek yang dibangun Mas Bro Dwi Hartanto menjadi wujud sublim pertaruhan antara intektual tradisional dan organik. Sayang seribu sayang, sang aktor protagoni yang sekaligus hero harus tumpas-kelor diri oleh kebuntuan manusiawi. Sedangkan intelektual pengekor mati-mulut. Inilah tragika Mas Bro Dwi Hartanto the next Habibie, goresan sejarah sang intelektual muda yang keburu mati-ilmu muda. Sudah dicatat sejarah!

Memang, berita sudah basi. Tetapi jujur itu kian mengelana. Jujur, adab kita tamsil “esuk dhele sore tempe”. Ingatan tersebut mengepul kembali gegara jemawa Arteria Dahlan. Kita kembali mengelap-lap karakter. Jatuhlah karakter madya. *
(hdr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Lima Korban SPPI dan...
Lima Korban SPPI dan Momentum Membenahi Program Bela Negara bagi Sipil
5 Peserta Meninggal...
5 Peserta Meninggal Dunia, Kemhan Evaluasi Latsarmil Calon Manajer Kopdes Merah Putih
Peserta SPPI Meninggal...
Peserta SPPI Meninggal Akibat TBC, Tim Seleksi Ungkap Pemeriksaan Awal hanya Terdeteksi Infeksi Paru
5 Peserta SPPI Meninggal...
5 Peserta SPPI Meninggal saat Latsarmil, Ini Kronologi Tiap Kasus
Kembali Bertambah, 5...
Kembali Bertambah, 5 Orang Meninggal Dunia saat Latsarmil Calon Manajer KDKMP/KNMP
1 Lagi Calon Manajer...
1 Lagi Calon Manajer Kopdes Merah Putih Meninggal Dunia saat Latsarmil, Total 3 Orang
Cetak Generasi Berkarakter,...
Cetak Generasi Berkarakter, PHG Dirikan Sekolah Dian Harapan di Bandung
Resmikan SDH Global...
Resmikan SDH Global di Bali, PHG: Perkuat Pendidikan Pencetak Generasi Berkarakter
SDH Depok Komitmen Bangun...
SDH Depok Komitmen Bangun Pendidikan Karakter hingga Pengembangan Kepemimpinan
Rekomendasi
PLN EPI-eFUELS SEA Jajaki...
PLN EPI-eFUELS SEA Jajaki Pengembangan Rantai Pasok Hidrogen Hijau RI-Singapura
Garudafood Resmikan...
Garudafood Resmikan Rumah Maggot di Depok, Kelola 100 Ton Sampah Organik Jadi Nilai Ekonomi
Bersama Rumah Baca Empat...
Bersama Rumah Baca Empat Jagoan, MNC Peduli Berbagi Buku Dongeng dan Lomba Mewarnai
Berita Terkini
UU PFII Bukti Pemerintah...
UU PFII Bukti Pemerintah Serius Bangun Fondasi Ekonomi Jangka Panjang
BGN Perkenalkan Deputi-Sestama...
BGN Perkenalkan Deputi-Sestama Baru, Ada Mantan Kapuspenkum Kejagung
Dugaan Penyamaran Aset...
Dugaan Penyamaran Aset Mantan Jampidsus Febrie Adriansyah Disorot
Jadi Investor Fiktif,...
Jadi Investor Fiktif, 10 WNA Ditangkap Imigrasi
Penguatan Kualitas Lulusan...
Penguatan Kualitas Lulusan Terus Digencarkan SGU
Cerita Megawati Pergoki...
Cerita Megawati Pergoki Intelijen: Hidup Saya Ini Diinteli Terus
Infografis
Asal Usul Gaza Palestina,...
Asal Usul Gaza Palestina, Kota Penting Sejak Zaman Romawi
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved