Antihero Zaman Now
Sabtu, 05 Februari 2022 - 08:53 WIB
loading...
A
A
A
Adakah kejujuran belasungkawa dari politisi, teknokrat, birokrat, dan negarawan kita? Mas Bro Dwi Hartanto memantik nostalgik saya untuk membangunkan tragik si Sondang Hutagalung tahun silam. Sondang juga intelektual muda. Dwi Hartanto pun demikian. Namun, jujur underan mereka dalam core ko-teks dan konteks yang berbeda.
Kala itu saya teringat jelas sajak karya Adhie Massardie yang terguris hati. Passion Adhie Massardie tergugah dalam untai sajak yang menyuarakan jerit derita rakyat. Sondang adalah simbol kejujuran. Sondang adalah lambang perjuangan manusia muda. Ikonik intelektual muda. Yuk, kita memule Sondang sejenak lewat sajak ini.
/SONDANG/
Langit runtuh/Hukum tersungkur/di kaki para koruptor yang bercokol/di pusat kekuasaan/
Kau hanya anak sopir angkutan/yang mengais rejeki sepanjang jalan/tak akan sanggup melawan para tiran/yang mengendalikan semua aturan/
Maka kemarahanmu yang membara/menghanguskan tubuhmu/Apimu memercik ke penjuru negeri/Membakar semangat perlawanan/
Tubuhmu kini menyala/di hati sopir taksi, pedagang asongan,/ibu setengah baya yang mulai beruban,/dan kaum marhaen yang kau cintai/
Dan mereka lalu menyeru://”Patriot Perubahan akan terus melawan!”/Jakarta, 11.12.11/
Adakah sajak untuk Mas Bro Dwi Hartanto the next Habibie yang sesakartis si Sondang itu? Cerdas diragukan. Jenius dipalsukan. Jujur disangkakan. Hipokrisi barangkali, ya.
Hasilnya tragis. Kejujuran hancur dihantam gambaran sistem politik yang beringas. Zaman serba menikung, penuh telikung. Dwi dan Sondang adalah gegar intelektual muda. Zaman now adalah millieu sarkas. Dah, klop.
Jujur, ini underannya. Jujur akan hancur. Begitukah adilnya di zaman now yang sarkas?
Lantaskah aksi gimik Mas Bro Dwi Hartanto mati dan mematikan pribadi?
Kala itu saya teringat jelas sajak karya Adhie Massardie yang terguris hati. Passion Adhie Massardie tergugah dalam untai sajak yang menyuarakan jerit derita rakyat. Sondang adalah simbol kejujuran. Sondang adalah lambang perjuangan manusia muda. Ikonik intelektual muda. Yuk, kita memule Sondang sejenak lewat sajak ini.
/SONDANG/
Langit runtuh/Hukum tersungkur/di kaki para koruptor yang bercokol/di pusat kekuasaan/
Kau hanya anak sopir angkutan/yang mengais rejeki sepanjang jalan/tak akan sanggup melawan para tiran/yang mengendalikan semua aturan/
Maka kemarahanmu yang membara/menghanguskan tubuhmu/Apimu memercik ke penjuru negeri/Membakar semangat perlawanan/
Tubuhmu kini menyala/di hati sopir taksi, pedagang asongan,/ibu setengah baya yang mulai beruban,/dan kaum marhaen yang kau cintai/
Dan mereka lalu menyeru://”Patriot Perubahan akan terus melawan!”/Jakarta, 11.12.11/
Adakah sajak untuk Mas Bro Dwi Hartanto the next Habibie yang sesakartis si Sondang itu? Cerdas diragukan. Jenius dipalsukan. Jujur disangkakan. Hipokrisi barangkali, ya.
Hasilnya tragis. Kejujuran hancur dihantam gambaran sistem politik yang beringas. Zaman serba menikung, penuh telikung. Dwi dan Sondang adalah gegar intelektual muda. Zaman now adalah millieu sarkas. Dah, klop.
Jujur, ini underannya. Jujur akan hancur. Begitukah adilnya di zaman now yang sarkas?
Lantaskah aksi gimik Mas Bro Dwi Hartanto mati dan mematikan pribadi?
Lihat Juga :