Jalan Mendaki Pembudayaan Olahraga
Rabu, 26 Januari 2022 - 15:08 WIB
loading...
A
A
A
Kedua, parameter angka kebugaran jasmani masyarakat. Terdapat korelasi yang sangat kuat antara angka partisipasi dan kondisi kebugaran masyarakat. Masyarakat partisipatif merepresentasikan sebuah masyarakat yang memiliki gaya hidup aktif-sehat-produktif (baca: budaya olahraga) yang akan membawa kondisi bugar secara kolektif. Kebugaran jasmani masyarakat menjadi parameter inti dari sebuah “product” atau outcome gaya hidup sehat. Kebugaran masyarakat Indonesia masih dalam kondisi yang jauh dari ideal, rata-rata angka kebugaran kini masih 24%. Menjadi sebuah tantangan tersendiri yang membutuhkan langkah extra-ordinary untuk mewujudkan angka kebugaran 65% pada 2045 nanti.
Di samping angka partisipasi dan kebugaran, parameter pembudayaan olahraga perlu ditambah agar memberikan kontribusi pada tujuan keolahragaan yang lain. Skenario pembudayaan olahraga diharapkan dapat berperan sebagai daya dorong, bahkan daya pendobrak bagi perwujudan produktivitas olahraga prestasi nasional berskala dunia, juga tujuan memberhasilkan peningkatan ekonomi berbasis olahraga. Parameter yang ditambahkan tersebut adalah literasi fisik dan ruang terbuka olahraga untuk publik.
Ketiga, parameter literasi fisik menunjuk pada derajat keterdidikan masyarakat tentang olahraga dan/atau melalui olahraga. Tidak benar jika literasi fisik sebatas diperlukan oleh peserta didik pada lingkup olahraga pendidikan formal semata. Literasi fisik diperlukan for everyone yang mencakup keterdidikan paripurna dalam hal pengetahuan, sikap, dan keterampilan. Sebuah “menu bergizi” yang diperlukan pula oleh para atlet, pelatih, serta masyarakat luas. Bagi masyarakat luas diperlukan untuk penguatan pilar pembudayaan olahraga. Indeks Literasi fisik (LF) dalam SDI 2021 diperoleh rata-rata LF Indonesia baru sebesar 0,56 atau 56% dari angka optimalnya. Mendongkrak indeks LF ke 60 % pada Tahun 2024 pun cukup berat bila tidak dilakukan intervensi yang bersifat extraordinary.
Keempat, ruang terbuka olahraga adalah ruang yang diperlukan oleh publik untuk melakukan aktivitas fisik dan olahraga sebagai aktivitas harian. Konotasi ruang terbuka adalah berupa space (indoor maupun outdoor) yang aksesnya terbuka untuk publik. Ruang terbuka berupa space fungsional yang tersedia agar masyarakat leluasa melakukan aktivitas fisik/olahraga. Budaya olahraga akan beku, manakala ketersediaan ruang terbuka jauh dari nilai idealnya yang dibutuhkan. Sesuai dengan standar UNESCO, bahwa indeks ideal ruang terbuka setara dengan 3,5 meter per segi per orang. Berapa kondisi eksisting di Indonesia? Indeks ruang terbuka olahraga pada 2021 adalah baru sebesar: 50 %.
Memberhasilkan Pembudayaan Olahraga
Untuk mewujudkan akselerasi pada jalan mendaki pembudayaan olahraga berorientasi pada berbagai ikhtiar produktif meningkatkan partisipasi, kebugaran, literasi fisik, dan kecukupan ruang terbuka olahraga. Setidaknya ada 4 (empat) formulasi yang semestinya dilakukan secara komprehensif. Pertama, menumbuhkan karakter internal individu dalam berolahraga. Hal tersebut mutlak diperlukan untuk mewujudkan nilai passion individu dan kekuatan motif berolahraga secara internal. Formulasi karakter tersebut dikenal dengan istilah “penularan”. Penularan pertama adalah habituasi yang didesain melalui kebiasaan hidup sehari-hari, mulai dari aktivitas kecil, mulai dari diri sendiri, dan mulai dari sekarang. Berikutnya adalah melalui intervensi dalam keperilakuan, kemudian yang paling penting adalah keteladanan. Memberikan keteladan merupakan tantangan tersendiri dalam proses pembudayaan olahraga.
Kedua, pembudayaan olahraga dilakukan dengan basis komunitas informal, formal, dan nonformal. Jalur informal adalah lingkup yang berada di tataran lingkungan keluarga inti. Betapa keluarga itu dengan sangat kuatnya membentuk passion yang melekat. Pola asuh keluarga dan karakteristik keluarga menjadi faktor pembentuk. Ada sebuah ungkapan joke tapi sesuai fakta, bahwa: “seorang pembalap mobil hanya tumbuh di keluarga pembalap mobil”.
Di samping angka partisipasi dan kebugaran, parameter pembudayaan olahraga perlu ditambah agar memberikan kontribusi pada tujuan keolahragaan yang lain. Skenario pembudayaan olahraga diharapkan dapat berperan sebagai daya dorong, bahkan daya pendobrak bagi perwujudan produktivitas olahraga prestasi nasional berskala dunia, juga tujuan memberhasilkan peningkatan ekonomi berbasis olahraga. Parameter yang ditambahkan tersebut adalah literasi fisik dan ruang terbuka olahraga untuk publik.
Ketiga, parameter literasi fisik menunjuk pada derajat keterdidikan masyarakat tentang olahraga dan/atau melalui olahraga. Tidak benar jika literasi fisik sebatas diperlukan oleh peserta didik pada lingkup olahraga pendidikan formal semata. Literasi fisik diperlukan for everyone yang mencakup keterdidikan paripurna dalam hal pengetahuan, sikap, dan keterampilan. Sebuah “menu bergizi” yang diperlukan pula oleh para atlet, pelatih, serta masyarakat luas. Bagi masyarakat luas diperlukan untuk penguatan pilar pembudayaan olahraga. Indeks Literasi fisik (LF) dalam SDI 2021 diperoleh rata-rata LF Indonesia baru sebesar 0,56 atau 56% dari angka optimalnya. Mendongkrak indeks LF ke 60 % pada Tahun 2024 pun cukup berat bila tidak dilakukan intervensi yang bersifat extraordinary.
Keempat, ruang terbuka olahraga adalah ruang yang diperlukan oleh publik untuk melakukan aktivitas fisik dan olahraga sebagai aktivitas harian. Konotasi ruang terbuka adalah berupa space (indoor maupun outdoor) yang aksesnya terbuka untuk publik. Ruang terbuka berupa space fungsional yang tersedia agar masyarakat leluasa melakukan aktivitas fisik/olahraga. Budaya olahraga akan beku, manakala ketersediaan ruang terbuka jauh dari nilai idealnya yang dibutuhkan. Sesuai dengan standar UNESCO, bahwa indeks ideal ruang terbuka setara dengan 3,5 meter per segi per orang. Berapa kondisi eksisting di Indonesia? Indeks ruang terbuka olahraga pada 2021 adalah baru sebesar: 50 %.
Memberhasilkan Pembudayaan Olahraga
Untuk mewujudkan akselerasi pada jalan mendaki pembudayaan olahraga berorientasi pada berbagai ikhtiar produktif meningkatkan partisipasi, kebugaran, literasi fisik, dan kecukupan ruang terbuka olahraga. Setidaknya ada 4 (empat) formulasi yang semestinya dilakukan secara komprehensif. Pertama, menumbuhkan karakter internal individu dalam berolahraga. Hal tersebut mutlak diperlukan untuk mewujudkan nilai passion individu dan kekuatan motif berolahraga secara internal. Formulasi karakter tersebut dikenal dengan istilah “penularan”. Penularan pertama adalah habituasi yang didesain melalui kebiasaan hidup sehari-hari, mulai dari aktivitas kecil, mulai dari diri sendiri, dan mulai dari sekarang. Berikutnya adalah melalui intervensi dalam keperilakuan, kemudian yang paling penting adalah keteladanan. Memberikan keteladan merupakan tantangan tersendiri dalam proses pembudayaan olahraga.
Kedua, pembudayaan olahraga dilakukan dengan basis komunitas informal, formal, dan nonformal. Jalur informal adalah lingkup yang berada di tataran lingkungan keluarga inti. Betapa keluarga itu dengan sangat kuatnya membentuk passion yang melekat. Pola asuh keluarga dan karakteristik keluarga menjadi faktor pembentuk. Ada sebuah ungkapan joke tapi sesuai fakta, bahwa: “seorang pembalap mobil hanya tumbuh di keluarga pembalap mobil”.
Lihat Juga :