Nekat! Kolonel Pentolan Intelijen Ini Berani Lawan Sepupunya yang Berpangkat Jenderal

Minggu, 09 Januari 2022 - 05:29 WIB
loading...
A A A
Baca juga: Zulkifli Lubis, Bapak Intelijen Indonesia yang Tak Bisa Dikuasai Komunis

Lantas Lubis mengusulkan agar Markas Besar Angkatan Darat membagi dua wilayah kerja kepada Nasution. Lubis memegang administrasi markas besar merasa bisa menangani urusan ke dalam guna membantu Nasution yang lebih kerap fokus di luar, membawa Angkatan Darat di pentas perpolitikan nasional.

Usulan Lubis itu ditolak mentah-mentah oleh Nasution. Nasution merasa usulan Lubis tersebut sama saja dengan dualisme kepemimpinan.

Pertentangan keduanya makin keras ketika Nasution bermaksud memperbaiki rantai komando TNI yang sempat rusak karena Peristiwa 17 Oktober 1952. Dia merencanakan mutasi sejumlah perwira senior, dikenal sebagai tour of duty. Lubis masuk dalam rencana mutasi.

Gatot Subroto ditunjuk mengantikan posisinya. Sementara Lubis dipercaya mengisi pos baru menjadi Panglima Tentara Teritorium I di Sumatera Utara. Namun, rencana itu mendapat respons negatif dari Lubis. Dia merasa disingkirkan oleh Nasution.

Mendapat dukungan dari panglima teritorium lainnya, Lubis bersama Kolonel Alex Kawilarang, Panglima Tentara Teritorium III yang juga masuk dalam rencana mutasi menggerakkan upaya pemberantasan korupsi. Kasus yang kemudian mencuat adalah upaya penangkapan Menteri Luar Negeri Roeslan Abdulgani, yang tersangkut perkara korupsi di Percetakan Negara.

Akan tetapi, upaya ini berhasil digagalkan Nasution. Dia bisa mengambil alih situasi dan meneruskan rencana mutasinya. Akhirnya, Lubis mengundurkan diri pada 20 Agustus 1958.

Belum berakhir sampai di situ, Lubis diam-diam mempersiapkan pukulan telak untuk Nasution dan kabinet yang dia anggap korup. Lubis dan sejumlah perwira Siliwangi menyusun gerakan perlawanan. Sebuah kerusuhan rakyat akan diciptakan sebagai dalih.

Mereka menuntut penurunan kabinet, pembatasan peran politik Soekarno, dan pencopotan KSAD AH Nasution beserta wakilnya Kolonel Gatot Subroto. Nasution keburu menciumnya dan menggagalkan rencana itu.

Dia bahkan memanggil sejumlah perwira untuk meminta pertanggungjawaban, termasuk Lubis. Lubis memilih buron. Nasution memerintahkan panglima-panglima yang kenal dengan Lubis supaya membujuknya agar menyerah ketimbang ditangkap. Namun, upaya Nasution gagal.

Nasution lantas menuduh Lubis makar dan menamai percobaan kudeta itu sebagai "Peristiwa Lubis". Pendapat Nasution berangkat dari dokumen pribadi Lubis yang berhasil disita dari sekretarisnya di Pandeglang. Dokumen itu kemudian diterbitkan Penerangan Angkatan Darat dengan judul Kin Tabir Dapat Dibuka, Di "Djalan Menudju Realisasi 'Tjita'".

Lubis kemudian mengajak agar menyudahi penilaian miring terhadap pemerintah pusat karena tak ada gunanya. Lubis pun menawarkan dua poin alternatif. Lubis mengusulkan proklamasi negara sebagai satu move taktis yang maksimum dan pembentukan pemerintahan pusat tandingan. Poin-poin ini dimanfaatkan dengan baik oleh Nasution untuk memukul Lubis.

Lubis lalu membalas argumen Nasution dengan pamflet yang dikeluarkan dari tempat persembunyiannya di Tanah Abang. Lubis mengakui telah melakukan percobaan kudeta, tapi dia mengembalikan kepada khalayak apakah yang dia lakukan benar atau salah.

"Nasution marah atas jawaban itu dan memberhentikan Lubis dari TNI AD dan membatalkan pengangkatannya menjadi Panglima Divisi Bukit Barisan sebagai pengganti Maludin Simbolon," tulis Peter Kasenda dalam Zulkifi Lubis: Kolonel Misterius di Balik Pergolakan TNI AD.

Peristiwa Cikini
Setelah Peristiwa Lubis, kejadian yang semakin memanaskan hubungan Lubis dan Nasution adalah Peristiwa Cikini. Pasalnya, Lubis dituding menjadi dalang peristiwa berdarah ini. Meski akhirnya tidak pernah terbukti.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Kolonel Inf Achmad Fikri...
Kolonel Inf Achmad Fikri Dalimunthe, Prajurit TNI Pertama yang Lulus National Defence College Yordania
Harumkan Nama Bangsa,...
Harumkan Nama Bangsa, Kolonel Cpn Jimmy Sirait Raih Gelar Master di US Army War College
Pangdivif 1 Kostrad...
Pangdivif 1 Kostrad Mayjen TNI Fikri Musmar Pimpin Sertijab Danyonkav 1 Kostrad
750 Yonif Teritorial...
750 Yonif Teritorial Pembangunan, Strategi TNI Menghadapi Ancaman Baru
Ryamizard Ryacudu Meninggal...
Ryamizard Ryacudu Meninggal Dunia, TNI AD Berduka: Pengabdiannya Inspirasi bagi Prajurit
Soal Film Pesta Babi,...
Soal Film Pesta Babi, TNI AD: Kami Tak Antikritik, tapi Kritik Harus Berdasarkan Data dan Fakta
10 Mata-mata Perang...
10 Mata-mata Perang Dingin yang Tak Pernah Takut Mati
Gandeng TNI, Kemendikdasmen...
Gandeng TNI, Kemendikdasmen Percepat Rekonstruksi Sekolah Terdampak Bencana di Aceh
Tiru Israel, Taiwan...
Tiru Israel, Taiwan Gunakan AI untuk Rekrut Informan dan Whistleblower China
Rekomendasi
Telkom Catat Pendapatan...
Telkom Catat Pendapatan Rp146,7 Triliun, DPR Minta Soliditas Dijaga
KPR Rumah Subsidi Bisa...
KPR Rumah Subsidi Bisa Dicicil hingga 40 Tahun, Bunga Tetap 5%
RPN dan BPDP Latih Keterampilan...
RPN dan BPDP Latih Keterampilan Panen Sawit Rakyat di Sumsel
Berita Terkini
Buku Sang Arsitek Presisi...
Buku Sang Arsitek Presisi Polri Ulas Kepemimpinan Kapolri Listyo Sigit Prabowo
Dokter Tifa: Dakwaan...
Dokter Tifa: Dakwaan Jaksa Penuntut Umum Berisi Pasal Lemah
Dokter Tifa Mulai Disidang...
Dokter Tifa Mulai Disidang 2 Juli: Insya Allah Kami Siap
Gus Yaqut Sakit, KPK...
Gus Yaqut Sakit, KPK Bantarkan Penahanannya ke RS Polri Kramatjati
1 Lagi Calon Manajer...
1 Lagi Calon Manajer Kopdes Merah Putih Meninggal Dunia saat Latsarmil, Total 3 Orang
ASPEK Indonesia Dorong...
ASPEK Indonesia Dorong Reformasi Jaminan Sosial Jilid II
Infografis
10 Bendera Negara Paling...
10 Bendera Negara Paling Unik di Dunia, Ada yang Bergambar Naga
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved