Mengawal Dana PEN 2022
Senin, 03 Januari 2022 - 07:02 WIB
loading...
A
A
A
Di sektor kesehatan, tidak kurang dari Rp117,9 triliun siap digelontorkan. Beberapa fokus di sektor ini antara lain dialokasikan untuk testing, tracing dan treatment atau perawatan Covid-19 yang dikerjasamakan dengan BPJS Kesehatan. Selain itu, termasuk di dalamnya untuk insentif tenaga kesehatan, vaksinasi dan insentif perpajakan vaksin.
Pada pos perlindungan sosial masyarakat, sedikitnya Rp158,4 triliun telah disiapkan. Beberapa sasaran program ini hampir sama dengan tahun sebelumnya yakni berupa bantuan bagi keluarga tidak mampu melalui program keluarga harapan, kartu sembako, kartu pekerja, dan bantuan langsung tunai (BLT) desa.
Adapun untuk program penguatan pemulihan ekonomi disediakan anggaran Rp141,4 triliun yang akan disalurkan untuk kegiatan infrastruktur konektivitas, pariwisata/ekonomi kreatif, investasi pemerintah, dan insentiof perpajakan.
Secara keseluruhan, APBN 2022 menetapkan anggaran belanja sebesar Rp1.944,5 triliun, naik Rp6,3 triliun dari usulan sebelumnya Rp1.938,3 triliun. Sedangkan, pos penerimaan negara ditargetkan sebesar Rp1.846,1 triliun yang bersumber dari penerimaan perpajakan Rp1.510 triliun dan penerimaan negara bukan pajak Rp335,6 triliun, serta hibah Rp0,6 triliun. Dari komposisi penerimaan dan pendapatan negara seperti di disebutkan di atas, pemerintah masih memberikan peluang defisit anggaran lebih dari 3% dari produk domestik bruto (PDB).
Melihat porsi dan arah kebijakan pemerintah yang masih fokus pada penanganan pandemi, maka sudah sewajarnya strategi itu dilakukan. Hanya saja, mesti diingat bahwa efektivitas penyaluran dana PEN harus melalui tahapan yang jelas, terutama mekanisme bagi pelaku usaha yang masih terdampak. Pekerjaan rumah selanjutnya adalah, mengawal agar PEN bisa membantu daya beli masyarakat yang selama ini menjadi andalan dalam menopang pertumbuhan ekonomi.
Pada pos perlindungan sosial masyarakat, sedikitnya Rp158,4 triliun telah disiapkan. Beberapa sasaran program ini hampir sama dengan tahun sebelumnya yakni berupa bantuan bagi keluarga tidak mampu melalui program keluarga harapan, kartu sembako, kartu pekerja, dan bantuan langsung tunai (BLT) desa.
Adapun untuk program penguatan pemulihan ekonomi disediakan anggaran Rp141,4 triliun yang akan disalurkan untuk kegiatan infrastruktur konektivitas, pariwisata/ekonomi kreatif, investasi pemerintah, dan insentiof perpajakan.
Secara keseluruhan, APBN 2022 menetapkan anggaran belanja sebesar Rp1.944,5 triliun, naik Rp6,3 triliun dari usulan sebelumnya Rp1.938,3 triliun. Sedangkan, pos penerimaan negara ditargetkan sebesar Rp1.846,1 triliun yang bersumber dari penerimaan perpajakan Rp1.510 triliun dan penerimaan negara bukan pajak Rp335,6 triliun, serta hibah Rp0,6 triliun. Dari komposisi penerimaan dan pendapatan negara seperti di disebutkan di atas, pemerintah masih memberikan peluang defisit anggaran lebih dari 3% dari produk domestik bruto (PDB).
Melihat porsi dan arah kebijakan pemerintah yang masih fokus pada penanganan pandemi, maka sudah sewajarnya strategi itu dilakukan. Hanya saja, mesti diingat bahwa efektivitas penyaluran dana PEN harus melalui tahapan yang jelas, terutama mekanisme bagi pelaku usaha yang masih terdampak. Pekerjaan rumah selanjutnya adalah, mengawal agar PEN bisa membantu daya beli masyarakat yang selama ini menjadi andalan dalam menopang pertumbuhan ekonomi.
(ynt)
Lihat Juga :