Selamat Datang 2022, Tahun Kebaikan
Sabtu, 01 Januari 2022 - 09:25 WIB
loading...
A
A
A
Lantas di mana dunia yang damai, aman, tenteram dan penghuninya sejahtera dan bahagia itu? Bisa jadi ada. Tapi seberapa besar ruang lingkupnya? Hanya segelintir. Kesenjangan distribusi kekayaan dan kesejahteraan penduduk Bumi justru semakin njomplang alias menganga. Yang kaya semakin kaya, yang miskin semakin papa dan menderita.Ini bukti bahwa sistem dunia yang disusun berdasar nafsu dan keserakahan itu tak mampu menciptakan perdamaian dunia.
Perdamaian hanya sebatas slogan semu di ruang ruang pertemuan para elit dunia yang merasa dirinya menjadi pahlawan penyelamat Bumi seperti cerita di film-film box office. Proposal proyek-proyek besar global yang mengatasnamakan keadilan, kemanusiaan, demokrasi, persamaan hak masih jauh dari cita-citanya. Praktik praktik di lapangan malah seringkali bertentangan.
Lantas datangkan virus Corona. Terlepas dari seluruh kontroversi yang melingkupinya hingga kini, virus ini adalah bentuk peringatan dari Sang Maha Pencipta. Dunia kalang kabut. Korban berjatuhan. Sistem bertumbangan. Tak peduli dia negara kaya, negara sedang, atau miskin sekalipun. Semua kena. Ekonomi krisis bahkan hampir ambruk karena semua aktivitas dan mobilitas manusia harus dihentikan sementara untuk menghindari penularan.
Serangan virus mereda sebentar, tapi disusul dengan varian varian baru mulai Delta, Delta Plus, Omicron dan entah apalagi namanya. Roda ekonomi tersendat lagi. Pemerintahan terpaksa harus mengalokasikan sebagian besar anggarannya untuk menangani wabah ini. Semua berubah dalam waktu sangat sangat cepat. Perilaku manusia pun harus berubah mengikuti kebiasaan baru yang disebabkan disrupsi pandemi ini.
Tahun 2021 kita bersedih dan berduka. Karena kita sudah banyak kehilangan kawan, saudara, kolega yang harus menghadap Sang Khalik akibat Corona. Jumlah anak yatim meningkat pesat, jumlah anak putus sekolah naik, pengangguran naik, tingkat putus asa juga naik. Kita menghadapi problem yang sama dengan kondisi yang berbeda-beda. Ada yang mampu dan kuat, tapi banyak yang tidak kuat dan menyerah pasrah dengan keadaan. Karena memang tidak punya banyak pilihan.
Perdamaian hanya sebatas slogan semu di ruang ruang pertemuan para elit dunia yang merasa dirinya menjadi pahlawan penyelamat Bumi seperti cerita di film-film box office. Proposal proyek-proyek besar global yang mengatasnamakan keadilan, kemanusiaan, demokrasi, persamaan hak masih jauh dari cita-citanya. Praktik praktik di lapangan malah seringkali bertentangan.
Lantas datangkan virus Corona. Terlepas dari seluruh kontroversi yang melingkupinya hingga kini, virus ini adalah bentuk peringatan dari Sang Maha Pencipta. Dunia kalang kabut. Korban berjatuhan. Sistem bertumbangan. Tak peduli dia negara kaya, negara sedang, atau miskin sekalipun. Semua kena. Ekonomi krisis bahkan hampir ambruk karena semua aktivitas dan mobilitas manusia harus dihentikan sementara untuk menghindari penularan.
Serangan virus mereda sebentar, tapi disusul dengan varian varian baru mulai Delta, Delta Plus, Omicron dan entah apalagi namanya. Roda ekonomi tersendat lagi. Pemerintahan terpaksa harus mengalokasikan sebagian besar anggarannya untuk menangani wabah ini. Semua berubah dalam waktu sangat sangat cepat. Perilaku manusia pun harus berubah mengikuti kebiasaan baru yang disebabkan disrupsi pandemi ini.
Tahun 2021 kita bersedih dan berduka. Karena kita sudah banyak kehilangan kawan, saudara, kolega yang harus menghadap Sang Khalik akibat Corona. Jumlah anak yatim meningkat pesat, jumlah anak putus sekolah naik, pengangguran naik, tingkat putus asa juga naik. Kita menghadapi problem yang sama dengan kondisi yang berbeda-beda. Ada yang mampu dan kuat, tapi banyak yang tidak kuat dan menyerah pasrah dengan keadaan. Karena memang tidak punya banyak pilihan.
Lihat Juga :