SDM yang Efisien dan Efektif Pasca Pandemi
Rabu, 10 Juni 2020 - 06:57 WIB
loading...
A
A
A
Berikutnya adalah kualitas produk yang dihasilkan, sedangkan variabel keempat adalah tingkat kerusakan produk yang dihasilkan, kebutuhan untuk mengulang kembali pekerjaan, sampai dengan produk yang terpaksa harus disingkirkan atau dibuang karena tidak memenuhi kriteria.
Apabila variabel pertama hingga keempat lebih berfokus pada sisi yang terlihat, seperti produk, lingkungan, hasil pekerjaan, dan sebagainya, maka variabel berikutnya yang memengaruhi produktivitas diletakkan dari sisi internal si pekerja tersebut, seperti kinerja yang dihasilkan oleh SDM bersangkutan. Variabel keenam adalah kemampuan dan motivasi SDM dalam bekerja.
Pascapandemi yang sudah pasti dipersyaratkan harus dipenuhi adalah jarak antarpegawai harus memenuhi protokol kesehatan, yakni minimal dua meter. Ruang-ruang produksi maupun sarana pendukungnya, seperti administrasi, marketing, promosi, keuangan, dan sebagainya, harus mengacu pada standar protokol yang ditentukan tersebut.
Dengan demikian, kerapatan pekerja dalam sebuah ruangan juga telah berubah secara signifikan. Satu ruang kerja yang tadinya bisa diisi dengan 10 pegawai/karyawan, bisa jadi harus dikurangi separuhnya.
Pada organisasi di mana manusia yang bekerja tidak memerlukan peralatan (variabel kedua) yang spesifik dan bersifat stasioner (tidak dapat dipindahkan), pengurangan densitas pekerja dalam suatu ruangan bisa jadi tidak menjadi masalah besar.
Tetapi, jika peralatan tersebut memiliki spesifikasi yang hanya ada dalam ruang kerja itu dan tidak dapat dipindahkan ke tempat lain secara cepat dan mudah, pilihan yang tersedia hanyalah menambah alat-alat itu di tempat lain agar dihasilkan produktivitas yang sama dengan sebelum pandemi. Alternatif lainnya adalah menambah jam kerja operasi dengan cara pembagian kelompok kerja yang berbeda untuk bekerja pada shift berbeda.
Apabila variabel pertama hingga keempat lebih berfokus pada sisi yang terlihat, seperti produk, lingkungan, hasil pekerjaan, dan sebagainya, maka variabel berikutnya yang memengaruhi produktivitas diletakkan dari sisi internal si pekerja tersebut, seperti kinerja yang dihasilkan oleh SDM bersangkutan. Variabel keenam adalah kemampuan dan motivasi SDM dalam bekerja.
Pascapandemi yang sudah pasti dipersyaratkan harus dipenuhi adalah jarak antarpegawai harus memenuhi protokol kesehatan, yakni minimal dua meter. Ruang-ruang produksi maupun sarana pendukungnya, seperti administrasi, marketing, promosi, keuangan, dan sebagainya, harus mengacu pada standar protokol yang ditentukan tersebut.
Dengan demikian, kerapatan pekerja dalam sebuah ruangan juga telah berubah secara signifikan. Satu ruang kerja yang tadinya bisa diisi dengan 10 pegawai/karyawan, bisa jadi harus dikurangi separuhnya.
Pada organisasi di mana manusia yang bekerja tidak memerlukan peralatan (variabel kedua) yang spesifik dan bersifat stasioner (tidak dapat dipindahkan), pengurangan densitas pekerja dalam suatu ruangan bisa jadi tidak menjadi masalah besar.
Tetapi, jika peralatan tersebut memiliki spesifikasi yang hanya ada dalam ruang kerja itu dan tidak dapat dipindahkan ke tempat lain secara cepat dan mudah, pilihan yang tersedia hanyalah menambah alat-alat itu di tempat lain agar dihasilkan produktivitas yang sama dengan sebelum pandemi. Alternatif lainnya adalah menambah jam kerja operasi dengan cara pembagian kelompok kerja yang berbeda untuk bekerja pada shift berbeda.