Cerita Sebuah Gerai Pizza di Pittsburgh
Sabtu, 18 Desember 2021 - 09:21 WIB
loading...
Ichwan Arifin Alumnus Pascasarjana Undip dan Wakil Ketua DPD PA GMNI Jawa Timur. Foto/Ist
A
A
A
Ichwan Arifin
Alumnus Pascasarjana Undip dan Wakil Ketua DPD PA GMNI Jawa Timur
JAM menunjukkan 14.30 saat American Airline lepas landas dari Ronald Reagan Airport (DCA), Washington DC menuju Pittsburgh International Airport, Pennsylvania. Pesawat kecil itu dengan lincah terbang menembus hujan yang mengguyur langit ibu kota Amerika Serikat. Sedikit turbulensi di sela-sela penerbangan. Sekitar 1 jam kemudian, pesawat mendarat di Pittsburgh dengan mulus.
Bandara Pittsburg memang tidak terlalu besar, nampak jelas bandara adalah bangunan lama. Tetapi sangat bersih dan rapi, menunjukkan perawatan yang bagus. Petunjuk informasi pun sangat komunikatif. Orang asing dengan mudah memahaminya.
Hujan masih turun deras saat kami keluar bandara. Bahkan mengandung sedikit salju. Istilahnya “flurry” atau salju yang turun di awal. Bentuknya seperti gumpalan kapas kecil-kecil. Cepat mencair begitu menyentuh tanah. Namun lengket di kaca mobil jika dibiarkan lama. Wiper tak cukup kuat membersihkannya.
Beruntung ada sahabat yang menjemput. Harry, nama panggilannya. Jadi tak perlu mencari taksi atau moda transportasi publik lainnya. Berbeda dengan Washington D.C. atau New York City dimana mobilitas menggunakan transportasi publik sangat mudah. Di Pittsburgh sebaliknya, tak banyak pilihan moda transportasi publik. Jadi sangat sulit bepergian kemana-mana jika tidak mengendarai mobil. Kondisi ini mirip dengan kota-kota di negara Bagian California atau Texas, misalnya Los Angeles, Sacramento, Houston, Austin dan sebagainya.
Harry, sudah lebih dari 11 tahun tinggal di Pittsburgh, sehingga sudah paham seluk beluk kota, kehidupan masyarakat, maupun budaya setempat. Saat mengawali hidup di negeri Paman Sam, Harry bekerja serabutan dengan menjadi driver pengantar pizza. Namun justru dari situlah, ia bisa belajarmengenai seluk beluk bisnis di negeri orang, khususnya usaha rumah makan.
Alumnus Pascasarjana Undip dan Wakil Ketua DPD PA GMNI Jawa Timur
JAM menunjukkan 14.30 saat American Airline lepas landas dari Ronald Reagan Airport (DCA), Washington DC menuju Pittsburgh International Airport, Pennsylvania. Pesawat kecil itu dengan lincah terbang menembus hujan yang mengguyur langit ibu kota Amerika Serikat. Sedikit turbulensi di sela-sela penerbangan. Sekitar 1 jam kemudian, pesawat mendarat di Pittsburgh dengan mulus.
Bandara Pittsburg memang tidak terlalu besar, nampak jelas bandara adalah bangunan lama. Tetapi sangat bersih dan rapi, menunjukkan perawatan yang bagus. Petunjuk informasi pun sangat komunikatif. Orang asing dengan mudah memahaminya.
Hujan masih turun deras saat kami keluar bandara. Bahkan mengandung sedikit salju. Istilahnya “flurry” atau salju yang turun di awal. Bentuknya seperti gumpalan kapas kecil-kecil. Cepat mencair begitu menyentuh tanah. Namun lengket di kaca mobil jika dibiarkan lama. Wiper tak cukup kuat membersihkannya.
Beruntung ada sahabat yang menjemput. Harry, nama panggilannya. Jadi tak perlu mencari taksi atau moda transportasi publik lainnya. Berbeda dengan Washington D.C. atau New York City dimana mobilitas menggunakan transportasi publik sangat mudah. Di Pittsburgh sebaliknya, tak banyak pilihan moda transportasi publik. Jadi sangat sulit bepergian kemana-mana jika tidak mengendarai mobil. Kondisi ini mirip dengan kota-kota di negara Bagian California atau Texas, misalnya Los Angeles, Sacramento, Houston, Austin dan sebagainya.
Harry, sudah lebih dari 11 tahun tinggal di Pittsburgh, sehingga sudah paham seluk beluk kota, kehidupan masyarakat, maupun budaya setempat. Saat mengawali hidup di negeri Paman Sam, Harry bekerja serabutan dengan menjadi driver pengantar pizza. Namun justru dari situlah, ia bisa belajarmengenai seluk beluk bisnis di negeri orang, khususnya usaha rumah makan.
Lihat Juga :