Anwar Abbas ke Menpan RB: Mana Lebih Berbahaya Radikalisme atau KKN?
Kamis, 09 Desember 2021 - 07:36 WIB
loading...
A
A
A
"Mengapa Menpan RB tidak sibuk dan disibukkan oleh urusan untuk mengetahui asal usul harta kekayaan mereka yang ikut tes tersebut?" tanya Anwar.
Menurutnya, persoalan ini menjadi sangat penting di Indonesia yang sudah dikatakan darurat KKN. Mengutip Menko Polhukam, Anwar mengatakan bahwa korupsi saat ini lebih dahsyat sebab, bukan hanya di eksekutif tapi juga melebar ke legislatif dan yudikatif. Anwar pun kembali melontarkan pertanyaannya mengenai lebih besar bahaya dan daya rusaknya bagi kehidupan bangsa antara paham radikalisme atau praktik korupsi saat ini.
"Untuk amannya saya rasa tentu Menpan RB akan lebih mudah menjawab bahwa kedua-duanya sama besar bahaya dan dampak buruknya sebab kalau Menpan RB berani menjawab bahwa saat ini yang lebih besar dampak buruknya adalah paham radikalisme ketimbang dari bahaya KKN maka masyarakat luas tentu akan marah dan mentertawakan beliau. Karena masyarakat luas sudah tahu bahwa masalah korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) saat ini jauh lebih besar bahayanya dari paham radikalisme," tegas anwar.
"Karena masalah radikalisme masih bisa dikendalikan oleh para aparat keamanan sementara praktik KKN saat ini benar-benar sudah tidak terkendali mulai dari atas sampai ke bawah. Oleh karena itu yang menjadi pertanyaan mengapa Menpan RB ketika menseleksi calon Eselon 1 itu tidak sibuk dengan menelisik kekayaan dari para calon Eselon 1 tersebut?" sambung Anwar.
Tak sampai di situ, Anwar juga mempertanyakan soal lebih bahaya mana paham radikalisme dibandingkan dengan paham komunisme politik serta liberalisme kapitalisme yang juga berkembang. Masih menurutnya, jawaban teraman yakni dengan mengatakan bahwa paham-paham sama berbahayanya karena bertentangan dengan negara dan konstitusi
Menurutnya, persoalan ini menjadi sangat penting di Indonesia yang sudah dikatakan darurat KKN. Mengutip Menko Polhukam, Anwar mengatakan bahwa korupsi saat ini lebih dahsyat sebab, bukan hanya di eksekutif tapi juga melebar ke legislatif dan yudikatif. Anwar pun kembali melontarkan pertanyaannya mengenai lebih besar bahaya dan daya rusaknya bagi kehidupan bangsa antara paham radikalisme atau praktik korupsi saat ini.
"Untuk amannya saya rasa tentu Menpan RB akan lebih mudah menjawab bahwa kedua-duanya sama besar bahaya dan dampak buruknya sebab kalau Menpan RB berani menjawab bahwa saat ini yang lebih besar dampak buruknya adalah paham radikalisme ketimbang dari bahaya KKN maka masyarakat luas tentu akan marah dan mentertawakan beliau. Karena masyarakat luas sudah tahu bahwa masalah korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) saat ini jauh lebih besar bahayanya dari paham radikalisme," tegas anwar.
"Karena masalah radikalisme masih bisa dikendalikan oleh para aparat keamanan sementara praktik KKN saat ini benar-benar sudah tidak terkendali mulai dari atas sampai ke bawah. Oleh karena itu yang menjadi pertanyaan mengapa Menpan RB ketika menseleksi calon Eselon 1 itu tidak sibuk dengan menelisik kekayaan dari para calon Eselon 1 tersebut?" sambung Anwar.
Tak sampai di situ, Anwar juga mempertanyakan soal lebih bahaya mana paham radikalisme dibandingkan dengan paham komunisme politik serta liberalisme kapitalisme yang juga berkembang. Masih menurutnya, jawaban teraman yakni dengan mengatakan bahwa paham-paham sama berbahayanya karena bertentangan dengan negara dan konstitusi
Lihat Juga :