Cerita tentang Gelar Doktor Honoris Causa dari UGM kepada Soekarno-Hatta

Sabtu, 27 November 2021 - 10:23 WIB
loading...
Cerita tentang Gelar...
Soekarno dan Hatta pernah menerima gelar doktor honoris causa dari Universitas Gadjah Mada (UGM). Penganugerahan gelar tersebut dilakukan pada tahun yang berbeda. Foto/Wikipedia
A A A
JAKARTA - Proklamator Indonesia, Soekarno dan Mohammad Hatta , tercatat menerima gelar doktor honoris causa dari Universitas Gadjah Mada (UGM) . Penganugerahan gelar tersebut dilakukan pada tahun yang berbeda.

Diketahui, honoris causa merupakan sebuah gelar yang diberikan kepada seseorang oleh perguruan tinggi sebagai penghormatan atas jasa-jasanya yang luar biasa dalam bidang ilmu atau dalam bidang kemasyarakatan. Sejak resmi berdiri pada tanggal 19 Desember 1949, UGM telah memberikan gelar doktor honoris causa kepada puluhan tokoh nasional dan internasional dalam berbagai disiplin bidang ilmu.

Dua di antara tokoh tersebut adalah Soekarno dan Mohammad Hatta. Soekarno menerima gelar doktor honoris causa dari UGM dalam bidang Ilmu Hukum pada tanggal 19 September 1951. Dikutip dari alumni.ugm.ac.id, upacara pemberian gelar dilaksanakan dalam Rapat Senat Terbuka Promosi Honoris Causa dalam Ilmu Hukum kepada PJM. Ir. Soekarno, Presiden RI, di Siti Hinggil Keraton Yogyakarta.

Bertindak sebagai promotor adalah Sekretaris Senat Universitas, Guru Besar dalam Pengantar Ilmu Hukum dan Filsafat Hukum Universitas Gadjah Mada, Prof. Mr. Drs. Notonagoro dengan pidato berjudul “Pantjasila Dasar Filsafat Negara Republik Indonesia".

Baca juga: Fadli Zon ke PDIP : Jangan Belokkan Sejarah Seolah Proklamator itu Soekarno Sendirian

Dalam kesempatan tersebut, Soekarno memberikan sambutan. "Apakah saya sudah berjasa besar? Apa lagi berjasa, yang manfaat bagi hidupnya dan suburnya ilmu pengetahuan? Universitas Gadjah Mada menganggap ya, dan Tuanku Promotor tadi pun mengemukakan hal-hal yang dikatakan jasa saya. Saya menganggap bahwa saya belum pernah berjasa besar. Tetapi saya terima kemurahan hati Universitas Gadjah Mada dan pernyataan-pernyataan Tuanku Promotor itu sebagai satu penghargaan, satu apresiasi, atas apa-apa yang telah saya perbuat buat Tanah Air dan bangsa, dan atas itulah saya mengucapkan banyak-banyak terima kasih," papar Soekarno.

Lima tahun kemudian, giliran Mohammad Hatta atau Bung Hatta yang dianugerahi gelar doktor honoris causa (HC) oleh UGM. Penganugerahan dilakukan pada 27 November 1956. Saat menerima gelar tersebut, Bung Hatta menyampaikan pidato berjudul Lampau dan Datang.

Menurut Rektor UGM Profesor Panut Mulyono, Bung Hatta menyampaikan pidato Inaugurasi Penganugerahan Gelar Doktor Honoris Causa dari UGM yang acaranya digelar di Keraton. Saat itu, Kampus UGM belum berada di Bulaksumur.

Baca juga: Fadli Zon Tak Setuju Patung Soekarno Dibangun di Semua Daerah, Politikus PDIP Ini Bilang Begini

"Bung Hatta menyampaikan pidato dengan judul Lampau dan Datang. Yang intinya adalah di pidato ini, Bung Hatta menyampaikan kondisi pada saat dulu, jauh sebelum kemerdekaan, pada zaman Hindia Belanda, bagaimana keadaan Indonesia, ada kesengsaraan, ada kezaliman, dan sebagainya," ujarnya dalam Webinar Membangun Keteladanan Bung Hatta yang juga ditayangkan di Channel YouTube Universitas Bung Hatta TV, dikutip SINDOnews, Kamis (12/8/2021).

Dalam pidato tersebut, lanjut Panut, Bung Hatta juga mengungkap tentang kondisi struktur sosial yang menyebut ada dua dasar hidup yang bertentangan yakni kolektivisme dan individualisme. Kolektivisme merupakan dasar pergaulan hidup masyarakat Indonesia yang lama. Sementara, individualisme merupakan semangat masyarakat Hindia Belanda yang kemudian ditanamkan kepada masyarakat Indonesia.

Hatta juga menyampaikan tentang sistem ekonomi Indonesia saat itu yang merupakan campuran kolektivisme dan individualisme. "Kita juga kagum kepada Bung Hatta, Beliau belajar di Barat, lama, tetapi Beliau sangat menentang individualisme dan juga liberalisme, tetap pada demokrasi dan ekonomi yang bercorak asli Indonesia," jelasnya.

Kemudian, Bung Hatta menyampaikan kondisi tentang situasi di Tanah Air setelah merdeka hingga sebelum 1956. Disinggung pula soal Pancasila dan UUD 1945. Bung Hatta juga menyoroti adanya penyimpangan terhadap Pancasila dan UUD 1945. "'Selama terjajah banyak bercita-cita. Setelah merdeka kehilangan rupa'. Misalnya ada kalimat-kalimat seperti itu," ujarnya.

Selain itu, Bung Hatta juga menyoroti sejumlah hal lain di antaranya infrastruktur yang telantar. Pembangunan demokrasi telantar karena percekcokan politik terjadi terus-menerus. Indonesia adil yang ditunggu-tunggu semakin jauh.

"Jadi, hal-hal itu yang dikritisi oleh Bung Hatta dan semuanya benar. Artinya, bahwa kondisi yang memprihatinkan saat itu disampaikan secara baik oleh Bung Hatta, tetapi bukan bermaksud menebarkan perasaan pesimis. Fakta diungkap bukan untuk menebarkan perasaan pesimis, tetapi bagaimana kita ke depan, agar bisa terjadi hal yang lebih baik," jelas Panut.

Di akhir pidatonya, lanjut Panut, Bung Hatta menyampaikan harapannya kepada UGM. Antara lain, meminta perhatian UGM terhadap persoalan negara di masyarakat yang intinya adanya realitas yang tidak sesuai dengan idealisme yang tertanam dan tumbuh dalam hati yang murni. "Bahwa cita-cita untuk Indonesia merdeka begitu mulia, begitu bagus, tetapi implementasinya pada saat itu menjadi kurang baik."
(zik)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Polemik Ijazah Jokowi,...
Polemik Ijazah Jokowi, Bonatua Silalahi Gugat KPU, Bawaslu, hingga Rektor UGM
Pangi Chaniago: Kisruh...
Pangi Chaniago: Kisruh Dialog UGM Cerminan Menumpuknya Kemarahan Publik
Diskusi Budiman-Nusron-Sudaryono...
Diskusi Budiman-Nusron-Sudaryono di UGM Dibubarkan Mahasiswa, Foksi: Sungguh Menggelikan
Budiman Sesalkan Pembubaran...
Budiman Sesalkan Pembubaran Diskusi di UGM: Seharusnya Kita Bisa Berdialog dengan Sehat
Harga Pertamax Naik,...
Harga Pertamax Naik, Pengamat UGM: Tak Bisa Ditahan Lagi Pemerintah
Refleksikan Cita-cita...
Refleksikan Cita-cita Bung Karno, PDIP Minta Pemerintah Wujudkan Keadilan Hukum dan Ekonomi
Kisah Syahla, Anak Driver...
Kisah Syahla, Anak Driver Ojol dan Penjual Nasi Lolos UGM lewat Jalur SNBP
UGM Masuk Peringkat...
UGM Masuk Peringkat 41 Dunia THE Sustainability Impact Ratings 2026, Naik Signifikan
Cerita Nurma, dari Belajar...
Cerita Nurma, dari Belajar di Perpustakaan hingga Malam Kini Bisa Kuliah Gratis di UGM
Rekomendasi
Rencana Batasan Tar-Nikotin...
Rencana Batasan Tar-Nikotin dan Penyeragaman Kemasan Dinilai Ancam Industri Kretek Nasional
HUT ke-499 Jakarta,...
HUT ke-499 Jakarta, Ribuan Warga Padati CFD Sudirman-Thamrin Saksikan Karnaval Budaya
JAECOO Catat 20.000...
JAECOO Catat 20.000 Pengiriman J5 EV di Indonesia, Ini Target Selanjutnya
Berita Terkini
Jokowi Injak Kepala...
Jokowi Injak Kepala Kerbau saat Terima Gelar Adat, PDIP: Bagian Adat atau Simbol Perendahan Politik?
MUI Susun Naskah Akademik...
MUI Susun Naskah Akademik RUU Pidana LGBT, Dorong Masuk Prolegnas
Kecam Dugaan Intimidasi...
Kecam Dugaan Intimidasi Dokter di NTT, Ninik: Sanksi Disiplin Jika Kader PKB Terlibat
Satgas Lundup Polri...
Satgas Lundup Polri Bongkar Kasus Impor Ilegal Senilai Hampir Rp1 Triliun
Presiden Prabowo Hadiri...
Presiden Prabowo Hadiri Resepsi Pernikahan Putri Ketua KPK
29 Brigjen Pol Dimutasi...
29 Brigjen Pol Dimutasi Kapolri pada Juni 2026, Ini Nama-namanya
Infografis
7 Perang Besar di Selat...
7 Perang Besar di Selat Malaka, dari Jalur Rempah hingga Medan Tempur Kekuatan Dunia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved