Begini Penjelasan Stafsus Menaker Soal Heboh Upah Minimum Indonesia Ketinggian
Jum'at, 19 November 2021 - 22:25 WIB
loading...
Stafsus Menaker Dita Indah Sari menjelaskan pernyataan Menaker Ida Fauziyah yang menyebut upah minimum Indonesia terlalu tinggi pembandingannya adalah nilai produktivitas tenaga kerja. Foto/Ist
A
A
A
JAKARTA - Kementerian Ketenagakerjaan buka suara soal heboh upah minimum Indonesia disebut ketinggian. Pernyataan tersebut awalnya diungkapkan Menteri Ketenagakerjaan Ida Fauziyah. Pernyataan tersebut kemudian heboh di media sosial. Tidak sedikit netizen yang memprotes pernyataan tersebut dan menyatakan upah minimum di Indonesia saat ini justru masih terlalu rendah.
Staf Khusus Menaker Dita Indah Sari menjelaskan pernyataan Menaker yang menyebut upah minimum terlalu tinggi komparasi atau pembandingannya adalah nilai produktivitas tenaga kerja di Indonesia.
“Jadi begini, ketika Ibu (Menaker) mengatakan upah minimum yang ada ketinggian, itu bukan menganggap bahwa pekerja itu sah pekerja mendapatkan upah lebih rendah. Ketinggian itu, komparasinya kalau dilihat dari nilai produktivitas, produktivitas kan kemampuan kita bekerja efektif dan efisien," ungkap Dita di Jakarta, Jumat (19/11/2021).
Baca juga: Menaker Sebut Upah Buruh di Indonesia sudah Sangat Tinggi
Dita menyebutkan nilai produktivitas tenaga kerja di Indonesia sebetulnya masih cenderung rendah dibandingkan dengan upahnya. Dia mengatakan nilai efektivitas tenaga kerja di Indonesia itu masuk ke dalam urutan ke 13 di Asia. "Baik jam kerjanya, maupun tenaga kerjanya, ini umum secara nasional. Komparasinya ketinggian itu dengan itu, bukan berarti semua orang layak dikasih gaji kecil," ungkap Dita.
Datanya, sambung Dita, dari sisi jam kerja saja, di Indonesia sudah terlalu banyak hari libur bagi pekerja. Bila dibandingkan dengan negara Asia Tenggara saja, jumlah hari libur di Indonesia masih terlalu banyak. "Dari segi jam kerja dan jumlah libur kita ini gede, banyak," ujar Dita.
Baca juga: Kemnaker: Pekerja dengan Masa Kerja Lebih 1 Tahun Tapi Upah Minimum, Laporkan!
Staf Khusus Menaker Dita Indah Sari menjelaskan pernyataan Menaker yang menyebut upah minimum terlalu tinggi komparasi atau pembandingannya adalah nilai produktivitas tenaga kerja di Indonesia.
“Jadi begini, ketika Ibu (Menaker) mengatakan upah minimum yang ada ketinggian, itu bukan menganggap bahwa pekerja itu sah pekerja mendapatkan upah lebih rendah. Ketinggian itu, komparasinya kalau dilihat dari nilai produktivitas, produktivitas kan kemampuan kita bekerja efektif dan efisien," ungkap Dita di Jakarta, Jumat (19/11/2021).
Baca juga: Menaker Sebut Upah Buruh di Indonesia sudah Sangat Tinggi
Dita menyebutkan nilai produktivitas tenaga kerja di Indonesia sebetulnya masih cenderung rendah dibandingkan dengan upahnya. Dia mengatakan nilai efektivitas tenaga kerja di Indonesia itu masuk ke dalam urutan ke 13 di Asia. "Baik jam kerjanya, maupun tenaga kerjanya, ini umum secara nasional. Komparasinya ketinggian itu dengan itu, bukan berarti semua orang layak dikasih gaji kecil," ungkap Dita.
Datanya, sambung Dita, dari sisi jam kerja saja, di Indonesia sudah terlalu banyak hari libur bagi pekerja. Bila dibandingkan dengan negara Asia Tenggara saja, jumlah hari libur di Indonesia masih terlalu banyak. "Dari segi jam kerja dan jumlah libur kita ini gede, banyak," ujar Dita.
Baca juga: Kemnaker: Pekerja dengan Masa Kerja Lebih 1 Tahun Tapi Upah Minimum, Laporkan!
Lihat Juga :