Muktamar Ditunda, Abdul Hamid: NU Tetap Butuh Pemimpin yang Manajerial

Jum'at, 19 November 2021 - 10:31 WIB
loading...
Muktamar Ditunda, Abdul...
Tokoh muda NU Indonesia Timur Abdul Hamid Rahayaan. Foto/Dok.SINDOnews
A A A
JAKARTA - Pelaksanaan Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-34 yang rencananya digelar di Lampung pada 23-25 Desember 2021 ditunda. Tokoh muda NU Indonesia Timur Abdul Hamid Rahayaan menilai diundur atau dimajukan pelaksanaan Muktamar NU merupakan urusan panitia.

Namun, saat ini warga nahdliyin dan rakyat Indonesia dinilai sangat merindukan sosok pemimpin NU yang bisa menjadi teladan bagi umat dan bangsa, termasuk memiliki kemampuan manajerial yang baik dalam mengelola NU. "Dan yang tak kalah penting adalah mampu membangun kebersamaan antara sesama umat Islam (Ukhuwah Islamiyah), sesama umat beragama (Ukhuwah Wathaniyah) dan sesama Umat Manusia (Ukhuwah basyariyah)," ujarnya di Jakarta, Jumat (19/11/2021).

Dia mengatakan semua perbedaan dapat dijadikan sebagai rahmat dalam rangka memajukan bangsa dan negara. Karena tantangan bangsa saat ini dan ke depan sangat besar, sehingga membutuhkan figur yang memahami dan mengerti bagaimana membentengi Indonesia dari radikalisme dan paham atau ajaran yang dapat memecah belah persatuan bangsa, baik yang sudah ada dan berkembang maupun yang masih dalam upaya masuk ke Indonesia. "Sehingga kita tidak mendengar lagi ada penangkapan teroris dan sejenisnya pada bangsa kita," ungkapnya.

Baca juga: Muktamar NU Ditunda, Pelaksanaannya Diputuskan 31 Januari 2022

Soal teroris, menurut dia, sangat memalukan karena Indonesia seolah-olah menjadi sarangnya. Kemudian, tumbuh dan berkembangnya kelompok teroris di Tanah Air juga menjadi pertanyaan.

"Mungkin juga karena kelemahan negara dalam hal ini pemerintah menertibkan rakyatnya agar tidak terlibat dalam soal doktrin dan ajaran sesat yang menjadikan mereka sebagai teroris atau juga pemimpin ormas, seperti NU dan Muhammadiyah tidak dapat menjalankan misi pencerahan kepada umat dan sebagai perekat persatuan umat dan rakyat Indonesia," imbuhnya.

Dia berharap Muktamar NU ke-34 bisa menghasilkan ketua umum PBNU yang punya sifat keteladanan serta bermanfaat bagi warga nahdliyin dan seluruh rakyat Indonesia. Indonesia merupakan negara dengan jumlah penduduk muslim terbanyak di dunia.

Maka itu, karena NU sebagai organisasi Islam terbesar, maka peranan pemimpinnya sangat strategis dalam membantu pemerintah untuk menciptakan stabilitas keamanan negara maupun keamanan dunia internasional agar tercipta perdamaian dan kebersamaan yang hakiki. "Maka menjadi modal bagi pemerintah untuk membangun dalam suasana damai dan dapat dijadikan dasar untuk meyakinkan dunia usaha di mancanegara untuk berinvestasi di Indonesia," katanya.

Sebab, jika Indonesia aman, maka akan tercipta banyak lapangan pekerjaan, jumlah pengangguran berkurang dan mengurangi angka kemiskinan yang dampaknya terhadap peningkatan sumber pendapatan negara dan kesejahteraan rakyat.

Sehingga, kata dia, apa yang menjadi tujuan negara dan visi misi Presiden Jokowi dan Wakil Presiden KH Ma’ruf Amin dapat terwujud, yakni terciptanya stabilitas keamanan negara dan terwujudnya kesejahteraan rakyat Indonesia. "Untuk itu saya mengajak kita semua sebagai warga bangsa Indonesia agar mendoakan semoga memberikan pemimpin yang terbaik bagi NU untuk kebaikan rakyat, serta bangsa dan negara kita tercinta," pungkasnya.
(rca)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
PBNU Gelar Munas dan...
PBNU Gelar Munas dan Konbes di Ploso Kediri pada 20-23 Juni 2026, Presiden Prabowo Diundang
Kritik Menggema Jelang...
Kritik Menggema Jelang Muktamar, Warga NU Depok Soroti Tata Kelola PBNU
GP Ansor Rombak Kepengurusan,...
GP Ansor Rombak Kepengurusan, Sejumlah Tokoh Muda NU Masuk Struktur
Jelang Muktamar ke-35,...
Jelang Muktamar ke-35, Calon Ketum PBNU Gus Salam Silaturahmi dengan PWNU dan PCNU se-NTT
Tata Kelola Saja Tidak...
Tata Kelola Saja Tidak Cukup, Gus Ma’shum: NU juga Butuh Tata Krama
Nahdlatul Ulama: Pesantren...
Nahdlatul Ulama: Pesantren dan Kedaulatan Masyarakat Sipil
Lulus PMKNU, Gus Salam...
Lulus PMKNU, Gus Salam Penuhi Syarat Administratif Calon Ketua Umum PBNU
Bertemu PWNU dan PCNU...
Bertemu PWNU dan PCNU se-Bengkulu, Gus Salam: Soliditasnya Bisa Jadi Teladan PBNU
Calon Ketum PBNU Gus...
Calon Ketum PBNU Gus Salam Sowan ke Rais Syuriyah dan Ketua PWNU Sulsel
Rekomendasi
Risiko Geopolitik dan...
Risiko Geopolitik dan Dampaknya terhadap Pasar Mata Uang
BMKG: 9 Gempa Susulan...
BMKG: 9 Gempa Susulan Terjadi Pascagempa M6,7 di Palu
Wapres AS Sebut Iran...
Wapres AS Sebut Iran Bisa Dapat Rp5.312 Triliun, tapi Trump Ragu
Berita Terkini
Denny JA Soroti Kerusuhan...
Denny JA Soroti Kerusuhan Agustus 2025 dalam Perspektif Kelas Rentan Digital
Nasaruddin Umar Ingin...
Nasaruddin Umar Ingin Indonesia Jadi Epicentrum Peradaban Dunia Islam Modern
Menag: Tahun Baru Islam...
Menag: Tahun Baru Islam 1 Muharram Momentum Transformasi Diri dan Sosial
Tepis Media Nasional...
Tepis Media Nasional Tak Liput Demo Mahasiswa, KPI Sebut 9 Televisi Telah Memberitakan
Pigai Semprot Komnas...
Pigai Semprot Komnas HAM usai Singgung Dugaan Pelanggaran HAM di Program MBG
Singgung Peran KPRP,...
Singgung Peran KPRP, Pakar: Kritik Mahfud MD Terhadap UU Polri Sangat Aneh
Infografis
Sejarah Panjang Persia...
Sejarah Panjang Persia Menjadi Iran yang Mengubah Timur Tengah
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved