Energi Bersih Jadi Pokok Bahasan di G20
Senin, 01 November 2021 - 09:23 WIB
loading...
Negara-negara di dunia berkomitmen menciptakan energi lebih bersih di masa mendatang. FOTO/TAHYUDIN
A
A
A
Isu energi bersih menjadi salah satu pembahasan dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 di Roma, Italia, akhir pekan lalu. Dalam ajang tahunan tersebut negara-negara yang merupakan 20 besar ekonomi terkaya di dunia itu membahas pentingnya dunia yang lebih bersih dari emisi.
Seperti dilansir Reuters, pada pertemuan puncak G20 akhir pekan lalu, pimpinan G20 Italia melalui Perdana Menteri Mario Draghi menyatakan negara-negara di dunia harus mempercepat penghapusan batu bara dan berinvestasi lebih banyak dalam energi terbarukan.
Menurut Draghi, keputusan yang diambil kami tersebut akan berdampak langsung pada keberhasilan KTT Iklim di Glasgow pada awal November ini. Menurutnya, konsensus tersebut juga akan mendorong kemampuan negara-negara G20 dalam upaya mengatasi krisis iklim.
Selain menghapus batu bara dari daftar sumber energi primer secara bertahap, G20 juga mendorong ada investasi yang lebih banyak di energi terbarukan (EBT). Meski demikian, G20 juga mengamanatkan agar otoritas pemerintahan memastikan untuk dapat menggunakan sumber daya yang tersedia dengan bijak.
Apa yang disampaikan oleh Draghi yang mewakili kelompok G20 menjadi pengingat bagi negara-negara yang selama ini mengandalkan batu bara sebagai bahan baku energi. Maklum, sudah lama batu bara dianggap sebagai biang kerok meningkatnya emisi gas buang di tataran global. Kendati demikian, opini tersebut sebenarnya masih bisa diperdebatkan mengingat sumber emisi tidak juga datang dari sektor kehutanan, industri, dan lainnya.
Bahkan, data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyebutkan, sektor energi menghasilkan emisi gas rumah kaca (GRK) sebesar 453,2 juta ton CO2, di bawah sektor kehutanan yang sebesar 647 juta ton CO2.
Seperti dilansir Reuters, pada pertemuan puncak G20 akhir pekan lalu, pimpinan G20 Italia melalui Perdana Menteri Mario Draghi menyatakan negara-negara di dunia harus mempercepat penghapusan batu bara dan berinvestasi lebih banyak dalam energi terbarukan.
Menurut Draghi, keputusan yang diambil kami tersebut akan berdampak langsung pada keberhasilan KTT Iklim di Glasgow pada awal November ini. Menurutnya, konsensus tersebut juga akan mendorong kemampuan negara-negara G20 dalam upaya mengatasi krisis iklim.
Selain menghapus batu bara dari daftar sumber energi primer secara bertahap, G20 juga mendorong ada investasi yang lebih banyak di energi terbarukan (EBT). Meski demikian, G20 juga mengamanatkan agar otoritas pemerintahan memastikan untuk dapat menggunakan sumber daya yang tersedia dengan bijak.
Apa yang disampaikan oleh Draghi yang mewakili kelompok G20 menjadi pengingat bagi negara-negara yang selama ini mengandalkan batu bara sebagai bahan baku energi. Maklum, sudah lama batu bara dianggap sebagai biang kerok meningkatnya emisi gas buang di tataran global. Kendati demikian, opini tersebut sebenarnya masih bisa diperdebatkan mengingat sumber emisi tidak juga datang dari sektor kehutanan, industri, dan lainnya.
Bahkan, data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyebutkan, sektor energi menghasilkan emisi gas rumah kaca (GRK) sebesar 453,2 juta ton CO2, di bawah sektor kehutanan yang sebesar 647 juta ton CO2.
Lihat Juga :