Habib Husein Ja'far Sebut Santri Pelopor Toleransi di Indonesia

Jum'at, 22 Oktober 2021 - 01:59 WIB
Habib Husein Jafar Sebut Santri Pelopor Toleransi di Indonesia
Habib Husein Jafar menyebut santri merupakan pelopor toleransi di Indonesia. Foto/SINDOnews
A A A
JAKARTA - Santri merupakan pelopor toleransi di Indonesia. Karenanya, para santri diminta untuk terus menumbuhkan dan mengawal nilai-nilai tersebut di masyarakat.

"DNA nya santri adalah toleransi. Nilai-nilai yang di pelajari setiap hari memiliki nilai tasamuh. Maka sudah selayaknya bagi para santri untuk tetap dan terus menumbuhkan nilai-nilai toleransi di masyarakat," ujar Habib Husein Ja'far saat webinar Hari Santri Nasional 2021 yang digelar FunIslam dengan Forum Komunikasi Mahasiswa Tafsir Hadist Indonesia (FKMTHI), Kamis (21/10/2021).

Peringatan Hari Santri Nasional 2021 yang digelar pada hari kedua ini dibagi dalam dua sesi yaitu, toleransi dan pendidikan. Kegiatan yang dimulai Pukul 11.00 - 12.00 WIB ini dihadiri Kepala Pusat Data dan Teknologi Informasi Kemendikbud Ristek RI sekaligus Ketua PP Ahlit Thariqah al-Muktabarah al-Nahdliyah (Matan) Hasan Cabibie, KH Arif Fakrudin, dan Habib Husein Ja'far yang membawakan tema “Santri Pelopor Toleransi.” Baca juga: Habib Husein Jafar: Penyebab Islamophobia adalah Radikal dan Terorisme

Kegiatan webinar dilaksanakan secara daring dan luring. Secara daring peserta yang hadir lebih dari 150 orang. Sedangkan, secara luring yang digelar di Masjid Istiqlal peserta yang hadiri kurang dari 50 orang dengan tetap menggunakan protokol kesehatan ketat. Baca juga: Solidaritas Antar Sesama Kunci Melawan Wabah Radikalisme



Kepala Pusat Data dan Teknologi Informasi Kemendikbud Ristek RI sekaligus Ketua PP Matan M. Hasan Chabibie mengatakan, kondisi masyarakat yang semakin dekat dengan teknologi informasi menjadi amunisi bagi santri untuk mengawal nilai-nilai toleransi di masyarakat. Santri harus dekat dengan perubahan namun tanpa meninggalkan nilai-nilai keagamaan.

"Santri jangan terlalu heroik dengan romantisme masa lalu. Tapi juga fokus pada perubahan peradaban yang signifikan. Romantisme sejarah dijadikan sebagai motivasi namun, kita tetap fokus pada gerakan perubahan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat" ujarnya.
(cip)
Mungkin Anda Suka
Komentar
Copyright © 2021 SINDOnews.com
read/ rendering in 0.1489 seconds (10.177#12.26)