Solidaritas Antar Sesama Kunci Melawan Wabah Radikalisme

loading...
Solidaritas Antar Sesama Kunci Melawan Wabah Radikalisme
Pendakwah millenial dan penulis, Habib Husein Jafar Al Hadar mengatakan bahwa wabah virus radikalisme dan terorisme tidak kalah berbahayanya dengan virus Covid-19. FOTO/IST
JAKARTA - Indonesia sedang menghadapi wabah Covid-19 selama kurang lebih hampir 2 tahun ini. Kunci untuk melawan teror wabah ini adalah solidaritas sesama, saling membantu dan saling mengingatkan satu sama lain. Tidak terkecuali juga wabah radikalisme juga memiliki solusi yang sama untuk mengatasinya.

Pendakwah millenial dan penulis, Habib Husein Ja'far Al Hadar mengatakan bahwa wabah virus radikalisme dan terorisme tidak kalah berbahayanya dengan virus Covid-19. Dia menyebut kunci untuk mengalahkannya adalah solidaritas di antara sesama.

"Di tengah wabah Covid-19 seperti saat ini, justru gerakan-gerakan terorisme secara sunyi dan senyap bisa melakukan koordinasi atau bahkan ancaman-ancaman yang serius. Karena itu kita harus tetap waspada dengan terus melakukan berbagai upaya-upaya kontra terhadap radikalisme dan terorisme," ujar Habib Husein Ja'far Al Hadar dalam keterangan tertulisnya, Sabtu (17/7/2021).

Baca juga: Ketum PB Matla’ul Anwar: Mengenali Narasi Radikalisme Penting karena Virus Berbahaya

Sudah sepatutnya masyarakat menggalang solidaritas bukan hanya terhadap teror wabah COVID-19, tetapi juga teror virus radikalisme dan ekstremisme yang selama ini terus mengancam di sekitar kita. Menurutnya, kelompok radikal dan intoleran ini melakukan paparan kepada masyarakat dengan memasukkan paham radikalisme dan ekstremisme.



"Maka kuncinya adalah memapar balik mereka dengan konten-konten yang anti pada radikalisme dan terorisme atau pun ekstremisme. Melalui konten-konten toleransi, konten-konten perdamaian dan lain sebagainya," tutur pria yang akrab disapa Habib Ja'far ini.

Dia meyakini bahwa kelompok moderat yang ada saat ini pasti akan menang. Sebab pada dasarnya manusia itu diciptakan dengan penuh cinta. Menurut Habib Ja'far, kuncinya adalah memapar masyarakat dengan konten-konten toleran dari contoh kegiatan sehari-hari.

Baca juga: Puluhan Ribu Konten Radikalisme Terorisme Telah Diblokir

"Misalnya kita punya teman yang non muslim, lalu kita foto bareng atau bikin video bareng lalu disebarkan di media sosial," katanya.

Lebih lanjut, pria kelahiran Bondowoso, 21 Juni 1988 ini menyebut bahwa semua pihak harus bersama-sama share konten-konten yang sudah ada tentang toleransi sampai pada titik di mana ada foto seorang pendeta berjalan dengan seorang ustaz bukan lagi viral. Karena itu bukan lagi sesuatu yang luar biasa. Justru menjadi hal yang biasa banget melihat perbedaan dihadapi dengan toleransi dan penuh perdamaian.

"Kalau masih ada foto-foto toleransi yang masih viral, di satu sisi kita sedih karena toleransi masih dianggap sesuatu yang luar biasa. Apalagi kita tahu bahwa kelompok toleran ini mayoritas sebenarnya di Indonesia, namun mereka masih silent," ucap lulusan Magister Tafsir Quran dari Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta ini.
halaman ke-1
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top