Gus Yahya: Abad Kedua, NU Mesti Lakukan Tajdid Jam'iyah
Kamis, 21 Oktober 2021 - 23:24 WIB
loading...
A
A
A
Gus Yahya lalu berkisah sepenggal perjalanan hidupnya dari sejak nyantri, jadi mahasiswa hingga diajak Gus Dur jadi juru bicara presiden. Pengalaman ini, katanya, akan sangat berguna baginya saat melamar "pekerjaan" kepada cabang dan wilayah sebagai calon Ketua Umum PBNU. Diakui Gus Yahya, NU ke depan, membutuhkan kesiapan untuk menerima perubahan.
Menyitir kisah Nabi Yusuf As, Gus Yahya menjelaskan, putra Nabi Ya'qub As itu menyadari dirinya punya kemampuan untuk pekerjaan yang dia lamar kepada raja Mesir. Ia menganalisis musim tanam dan memberi kesimpulan. Nabi Yusuf datang dengan proposal ketika melamar sebagai pengelola kekayaan negara. "Jabatan semacam bendahara negara," jelas Gus Yahya.
Di antara sejumlah gagasan yang ditawarkan Gus Yahya, salah satunya adalah "The Governing NU" alias menjadikan pola kerja PBNU seperti sebuah pemerintahan. Seorang Ketua Umum, ujarnya, mesti berfungsi seperti seorang presiden. Dia memimpin rapat, seperti seorang presiden memimpin sidang kabinet. Seluruh program dan agenda kerja diputuskan bersama.
Ketua PWNU Bali KH Abdul Aziz menyatakan sangat memahami gagasan yang diusung Gus Yahya. ”Kalau itu bisa dilaksanakan maka itu akan menjadi perubahan yang spektakuler. Rasanya gagasan-gagasan besar Kiai Yahya, kalau dilaksanakan, akan mengubah wajah NU sehingga manfaatnya akan kian terasa," ujarnya.
Dia berharap, PBNU ke depan lebih memperpendek jarak dengan wilayah dan cabang. Sebab, kata Kiai Abdul Wahid, selama dua periode memimpin NU Bali, dia belum pernah dapat sapaan dari PBNU. "Memang kita dimbau mendirikan institut. Tapi jelas itu adalah jerih payah teman-teman di sini. Mohon maaf, serupiah pun kami belum pernah dapat dari PBNU," akunya.
Tidak jauh berbeda, Ketua PWNU Nusa Tenggara Barat, Masnun Tahir juga memberi respons serupa. Ketika tahu Gus Yahya akan ke Bali, semua cabang NU di wilayah Nusa Tenggara Barat bersemangat untuk datang. "Jadi, kami ini datang full team, Gus. Kami tertarik dengan gagasan Gus Yahya soal NU masa depan," kata Pak Rektor itu.
Menyitir kisah Nabi Yusuf As, Gus Yahya menjelaskan, putra Nabi Ya'qub As itu menyadari dirinya punya kemampuan untuk pekerjaan yang dia lamar kepada raja Mesir. Ia menganalisis musim tanam dan memberi kesimpulan. Nabi Yusuf datang dengan proposal ketika melamar sebagai pengelola kekayaan negara. "Jabatan semacam bendahara negara," jelas Gus Yahya.
Di antara sejumlah gagasan yang ditawarkan Gus Yahya, salah satunya adalah "The Governing NU" alias menjadikan pola kerja PBNU seperti sebuah pemerintahan. Seorang Ketua Umum, ujarnya, mesti berfungsi seperti seorang presiden. Dia memimpin rapat, seperti seorang presiden memimpin sidang kabinet. Seluruh program dan agenda kerja diputuskan bersama.
Ketua PWNU Bali KH Abdul Aziz menyatakan sangat memahami gagasan yang diusung Gus Yahya. ”Kalau itu bisa dilaksanakan maka itu akan menjadi perubahan yang spektakuler. Rasanya gagasan-gagasan besar Kiai Yahya, kalau dilaksanakan, akan mengubah wajah NU sehingga manfaatnya akan kian terasa," ujarnya.
Dia berharap, PBNU ke depan lebih memperpendek jarak dengan wilayah dan cabang. Sebab, kata Kiai Abdul Wahid, selama dua periode memimpin NU Bali, dia belum pernah dapat sapaan dari PBNU. "Memang kita dimbau mendirikan institut. Tapi jelas itu adalah jerih payah teman-teman di sini. Mohon maaf, serupiah pun kami belum pernah dapat dari PBNU," akunya.
Tidak jauh berbeda, Ketua PWNU Nusa Tenggara Barat, Masnun Tahir juga memberi respons serupa. Ketika tahu Gus Yahya akan ke Bali, semua cabang NU di wilayah Nusa Tenggara Barat bersemangat untuk datang. "Jadi, kami ini datang full team, Gus. Kami tertarik dengan gagasan Gus Yahya soal NU masa depan," kata Pak Rektor itu.
Lihat Juga :