Gus Yahya: Abad Kedua, NU Mesti Lakukan Tajdid Jam'iyah
Kamis, 21 Oktober 2021 - 23:24 WIB
loading...
Katib Aam Syuriyah PBNU, KH Yahya Cholil Staquf menggugah para pengurus, kader dan jamaah Nahdlatul Ulama (NU) di Denpasar, Bali. Foto/SINDOnews
A
A
A
JAKARTA - Katib Aam Syuriyah PBNU, KH Yahya Cholil Staquf menggugah para pengurus, kader dan jamaah Nahdlatul Ulama (NU) untuk bersiap memasuki 100 tahun kedua usia organisasi ini.
Pergantian abad bagi NU, antara lain, dapat ditandai dengan adanya jaminan berlangsungnya regenerasi secara alamiah pada setiap jenjang kepengurusan. "Apakah kita siap melakukan regenerasi?" tanya Gus Yahya--sapaan KH Yahya Staquf kepada puluhan pimpinan cabang dan wilayah di Denpasar, Bali Kamis malam (21/10/2021).
Hadir pada acara silaturrahim tersebut PWNU Bali dan semua cabang, PCNU se PW NU Nusa Tenggara Barat dan semua cabang PWNU Nusa Tenggara Timur. "Siap!" jawab mereka serempak. Baca juga: Silaturahmi ke PWNU Lampung, Kiai Said Diminta Kembali Pimpin PBNU
Tampak di tengah-tengah peserta silaturrahim, Ketua PWNU Bali KH Abdul Wahid, Ketua PWNU Nusa Tenggara Barat Prof Masnun Tahir dan Ketua PWNU Nusa Tenggara Timur, KH Pua Monto Umbu Nay. Di hadapan mereka, Gus Yahya mengakui dirinya memang tengah mencari pekerjaan. "Saya melamar pekerjaan lewat para kiai, bapak-bapak sekalian sebagai pemilik suara perusahaan," katanya disambut tawa.
Karena posisinya melamar, lanjut Gus Yahya, maka dirinya telah mempersiapkan diri semaksimal yang bisa dilakukan. Termasuk permintaan izin dan restu kepada Ketua Umum PBNU KH. Said Aqil Siradj. "Saya sampaikan kepada Kiai Said Aqil bahwa saya akan maju di muktamar. Saya datang, menemui beliau 2 September lalu," kata Gus Yahya soal rencananya itu. Baca juga: Harmoni dalam Bingkai Muktamar NU
Gus Yahya mengaku tidak bisa menyimpan apalagi menyembunyikan keinginannya untuk bekerja di NU. Tidak bisa seperti sejumlah orang yang berniat mengabdi, punya kapasitas, dan siap berbuat yang terbaik, tapi tidak terbuka sehingga tidak semua orang memahami maunya apa. "Kalau saya terang-terangan. Saya mau bekerja di NU. Tidak sembunyi-sembunyi, padahal mau," ujarnya.
Pergantian abad bagi NU, antara lain, dapat ditandai dengan adanya jaminan berlangsungnya regenerasi secara alamiah pada setiap jenjang kepengurusan. "Apakah kita siap melakukan regenerasi?" tanya Gus Yahya--sapaan KH Yahya Staquf kepada puluhan pimpinan cabang dan wilayah di Denpasar, Bali Kamis malam (21/10/2021).
Hadir pada acara silaturrahim tersebut PWNU Bali dan semua cabang, PCNU se PW NU Nusa Tenggara Barat dan semua cabang PWNU Nusa Tenggara Timur. "Siap!" jawab mereka serempak. Baca juga: Silaturahmi ke PWNU Lampung, Kiai Said Diminta Kembali Pimpin PBNU
Tampak di tengah-tengah peserta silaturrahim, Ketua PWNU Bali KH Abdul Wahid, Ketua PWNU Nusa Tenggara Barat Prof Masnun Tahir dan Ketua PWNU Nusa Tenggara Timur, KH Pua Monto Umbu Nay. Di hadapan mereka, Gus Yahya mengakui dirinya memang tengah mencari pekerjaan. "Saya melamar pekerjaan lewat para kiai, bapak-bapak sekalian sebagai pemilik suara perusahaan," katanya disambut tawa.
Karena posisinya melamar, lanjut Gus Yahya, maka dirinya telah mempersiapkan diri semaksimal yang bisa dilakukan. Termasuk permintaan izin dan restu kepada Ketua Umum PBNU KH. Said Aqil Siradj. "Saya sampaikan kepada Kiai Said Aqil bahwa saya akan maju di muktamar. Saya datang, menemui beliau 2 September lalu," kata Gus Yahya soal rencananya itu. Baca juga: Harmoni dalam Bingkai Muktamar NU
Gus Yahya mengaku tidak bisa menyimpan apalagi menyembunyikan keinginannya untuk bekerja di NU. Tidak bisa seperti sejumlah orang yang berniat mengabdi, punya kapasitas, dan siap berbuat yang terbaik, tapi tidak terbuka sehingga tidak semua orang memahami maunya apa. "Kalau saya terang-terangan. Saya mau bekerja di NU. Tidak sembunyi-sembunyi, padahal mau," ujarnya.
Lihat Juga :