Harmoni dalam Bingkai Muktamar NU
Kamis, 21 Oktober 2021 - 09:04 WIB
loading...
Harmoni dalam Bingkai Muktamar NU
A
A
A
Sayyid Muh Hilal
Penasihat Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor
Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) bagi para pengurus wilayah dan cabang adalah dalam bingkai penantian keseruan. Namun bagi para kiai sepuh, muktamar ialah sebuah renungan dari istisyarah yang melahirkan gerakan istikharah serta ikhtiar dalam menirakati keputusan yang menghasilkan pemimpin berkualitas. Keputusan itu diharapkan mencakup seluruh akhlak, adab, fathanah serta bithaah Mbah KH Hasyim Asy’ari, Mbah KH Wahab Hasbullah dam Mbah KH Bisri Syansuri. Bahkan pemimpin itu akan mampu bergerak seperti pergerakan Gus Dur bagi lintasan zaman kebangkitan memasuki abad kedua NU.
Akhir-akhir ini warga NU di seluruh pelosok Tanah Air digembirakan dengan pemberitaan keputusan PBNU dengan memutuskannya tanggal 23-25 Desember mendatang sebagai gelaran muktamar setelah sempat tertunda pada 2020. Tentu kabar ini disambut baik bagi para nahdlyin. Akan tetapi kabar ini pun sedikit membuat sedih hati para "rombongan liar" (romli) karena tidak bisa mengikuti dan memantau jalannya muktamar langsung dari lokasi. Bahkan kalangan romli juga tak bisa membawa oleh-oleh dari cerita perputaran muktamar karena dibatasi oleh Covid-19.
Setiap warga NU memiliki harapan besar terhadap masa depan NU, dan sudah mulai saling bertanya siapa calon ketua tanfidznya dan siapa rais aamnya. Ada yang mengatakan masih yang lama. Ada pula yang berpandangan apa tidak ada kader NU selain itu (yang lama). Apalagi diperkuat dengan survei yang memaparkan data bahwa tentang kecenderungan warga NU lebih nyaman dengan pemimpin yang mampu berkolaborasi dengan semua pihak.
Lebih-lebih, kebetulan adat masyarakat kita juga senang dengan yang baru. Dalam artian, ketua umumnya ketua baru. Namun terlepas semua itu, ini sejatinya menggambarkan semua pihak yang merasa peduli dan cinta terhadap kebangkitan terhadap NU. Ini juga tak lain dan tak bukan sebuah bentuk dari kemurnian kecintaan mereka terhadap NU.
Penasihat Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor
Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) bagi para pengurus wilayah dan cabang adalah dalam bingkai penantian keseruan. Namun bagi para kiai sepuh, muktamar ialah sebuah renungan dari istisyarah yang melahirkan gerakan istikharah serta ikhtiar dalam menirakati keputusan yang menghasilkan pemimpin berkualitas. Keputusan itu diharapkan mencakup seluruh akhlak, adab, fathanah serta bithaah Mbah KH Hasyim Asy’ari, Mbah KH Wahab Hasbullah dam Mbah KH Bisri Syansuri. Bahkan pemimpin itu akan mampu bergerak seperti pergerakan Gus Dur bagi lintasan zaman kebangkitan memasuki abad kedua NU.
Akhir-akhir ini warga NU di seluruh pelosok Tanah Air digembirakan dengan pemberitaan keputusan PBNU dengan memutuskannya tanggal 23-25 Desember mendatang sebagai gelaran muktamar setelah sempat tertunda pada 2020. Tentu kabar ini disambut baik bagi para nahdlyin. Akan tetapi kabar ini pun sedikit membuat sedih hati para "rombongan liar" (romli) karena tidak bisa mengikuti dan memantau jalannya muktamar langsung dari lokasi. Bahkan kalangan romli juga tak bisa membawa oleh-oleh dari cerita perputaran muktamar karena dibatasi oleh Covid-19.
Setiap warga NU memiliki harapan besar terhadap masa depan NU, dan sudah mulai saling bertanya siapa calon ketua tanfidznya dan siapa rais aamnya. Ada yang mengatakan masih yang lama. Ada pula yang berpandangan apa tidak ada kader NU selain itu (yang lama). Apalagi diperkuat dengan survei yang memaparkan data bahwa tentang kecenderungan warga NU lebih nyaman dengan pemimpin yang mampu berkolaborasi dengan semua pihak.
Lebih-lebih, kebetulan adat masyarakat kita juga senang dengan yang baru. Dalam artian, ketua umumnya ketua baru. Namun terlepas semua itu, ini sejatinya menggambarkan semua pihak yang merasa peduli dan cinta terhadap kebangkitan terhadap NU. Ini juga tak lain dan tak bukan sebuah bentuk dari kemurnian kecintaan mereka terhadap NU.
Lihat Juga :