Agenda Lelah Pengulik Sastra Akademis

Jum'at, 15 Oktober 2021 - 07:33 WIB
loading...
A A A
baca juga: Apresiasi Sastra, PBSI UIN Jakarta Gelar Ziarah dan Persembahan untuk WS Rendra

Lantas, arifkah kini tatkala media tersebut terengah dan mati kehilangan napas, justru kita jotos dengan “pengarang melaju tanpa kritik” sehingga mudah menuduh “kritisi sastra kita sudah mati”? Nah, kalau pelaku sastra kini hanya bisa mengelap-lap “zaman emas” bersastra seperti itu, tentu bahaya dahsyat akan menggerogotinya. Kenanglah inertia, cuma tahu satu kemungkinan di bidangnya. Bukankah ini sebuah penyakit, parasit dalam kesastraan?

Lalu sikap kita? Ketika era sastra di majalah telah mati, penyerbuan sastra kini eksis di koran, web atau portal digital, dan penerbitan karbitan ala komunitas menulis. Akan tetapi, kendala besar pun terus menghadang. Publikasi kritikan sastra menjadi sempit yang mengakibatkan kritik sumir, dangkal, dan cenderung verbalitas literer atau kritik sastra sambil lalu. Untuk alasan inilah dibutuhkan media alternatif demi publikasi karya kritikan sastra. Kegagalan penikmat sastra terkini adalah taklid buta terhadap media alternatif ini, sehingga dengan enteng menuliskan tiada kontinuitas kritik dan kritisi sastra yang mumpuni hingga kiwari.

baca juga: 8 Profesi yang Cocok untuk Mahasiswa Lulusan Sastra

Ada pergeseran dalam publikasi kritik sastra. Mula-mula berorientasi majalah sastra yang Jakarta sentris, kemudian diimbangi oleh koran-koran yang bertumbuh di Jakara juga. Lalu berkat ledakan teknologi, ruang sastra semakin tertutup. Sastra tak ber-uang, ruang sastra budaya kini makin ditepikan oleh kebijakan redaksi. Mediasi sastra Jakarta sentris bubar. Menyikapi penyempitan kavling inilah, muncul media alternatif untuk memublikasikan kritik sastra yang begitu ilmiah dan mapan. Media ini hadir dalam kemasan majalah, jurnal, buletin yang diterbitkan oleh kalangan akademisi. Ke mana mereka kini?

Menagih Media Bersastra

Ketika siar sastra Jakarta sentris bubar, muncullah kerinduan pikir sinergis di kota tertentu dengan kolaborasi Balai Bahasa atau Kantor Bahasa di provinsi tertentu dengan media koran tertentu di kota tersebut. Cupliklah contoh Kantor Bahasa Riau bersama harian Riau Pos dengan rubrik Alinea. Kantor Bahasa Sulawesi Tenggara bergandeng dengan Harian Rakyat Sultra dengan rubrik Bahasa, Sastra, dan Budaya.

baca juga: 7 Artis Lokal dan Luar Negeri yang Kuliah Jurusan Sastra

Cobalah kita arif menagih media berkala seperti: Widya Parwa (Kantor Bahasa Yogyakarta), Humaniora (FIB UGM), Widya Dharma (USD Yogyakarta), Diksi (UNY Yogyakarta), Semiotika (UST Yogyakarta), Seni (ISI Yogyakarta), Citra Yogya (DK Yogyakarta), Haluan Sastra Budaya (FIB UNS Solo), Kajian Bahasa dan Sastra (UMS Solo), Kajian Sastra (FIB Undip Semarang), Widya Pustaka (FIB Unud Bali), Lontara (Unhas Makassar), Puitika (FIB Unand Padang), Pengajaran Bahasa dan Sastra (Depdikbud Jakarta), Majalah Ilmu-Ilmu Sastra Indonesia (FIB UI Jakarta), Fenolingua dan Magistra (Unwidha Klaten). Bukankah data media ini bisa dideret di PTN pun PTS seluruh Indonesia? Apa kabar publikasi kesastraannya? Belum lagi sindrom tumbuh dan tumbang majalah trendi Majas (Jakarta), Jurnal Madah dan Serindit (Riau), Basis dan Sabana (Yogyakarta), Kidung dan Suluk (DK Jatim).

baca juga: 5 Kampus Swasta dengan Jurusan Sastra Terbaik di Indonesia

Pertumbuhan, perkembangan, dan penyebaran kritik sastra Indonesia memang sangat lambat jika dibandingkan dengan siar karya sastra yang memiliki wawasan dan pandangan luas atau netral seperti dikabarkan almarhum Jassin. Tengara pokok disebabkan oleh pluralitas karya sastra yang menuntut kepekaan khusus dari para kritisi atau penelaah sastra dalam upaya pemahaman total, serta menggali nilai bulat dari karya tersebut.

Kritisi sastra Indonesia pada umumnya adalah deretan penulis kreatif serba bisa dan sangat terpengaruh aliran atau mazhab sastra yang dianutnya. Akibatnya terjadi kesulitan ketika menilai karya yang berada di luar kerangka mazhab yang diilmuinya. Efek yang menjadi cemooh terkini yakni kritisi kurang menjadi objektif dan cenderung subjektif belaka. Namun subjektivitas bukanlah harga mati. Subjektivitas tak membuat pengaburan isi karya. Sebagai teladan romantisme yakni Arief Budiman, A Teeuw, pun Subagio Sastrowardoyo.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Budayawan Denny JA Publikasikan...
Budayawan Denny JA Publikasikan 8 Buku Puisi Esai tentang Luka Sejarah
Raih Penghargaan BRICS...
Raih Penghargaan BRICS Literature Award 2025, Denny JA Donasikan Seluruh Dana demi Sastra
MaxNovel Award 2025,...
MaxNovel Award 2025, Kemenbud: Sastra adalah Ingatan Kolektif Bangsa
Dua Sastrawan Dunia...
Dua Sastrawan Dunia Salwa Bakr dan Denny JA Raih BRICS Award 2025
Denny JA Serukan Penguatan...
Denny JA Serukan Penguatan Suara Global South di BRICS Award 2025
Denny JA Dapat Penghargaan...
Denny JA Dapat Penghargaan Sastra Global untuk Pengembangan Puisi Esai
Meja Keabadian, Potret...
Meja Keabadian, Potret Indonesia dalam Kacamata Penyair Perempuan Korea
Okky Madasari Berbagi...
Okky Madasari Berbagi Kisah Inspiratif di Gelar Wicara Kalpasastra 2025
Perpustakaan Jakarta...
Perpustakaan Jakarta Gelar Pameran Ruang Sastra Bicara
Rekomendasi
PM Inggris: Rusia Akan...
PM Inggris: Rusia Akan Serang NATO 4 Tahun Lagi
Penasihat Militer Mojtaba...
Penasihat Militer Mojtaba Khamenei: Iran Siap Ubah Israel Jadi Neraka Jika Beirut Diinvasi
Pemain Israel Dilempari...
Pemain Israel Dilempari Sepatu Buntut Selebrasi Provokatif saat Lawan Albania
Berita Terkini
Kasus Korupsi MBG Jadi...
Kasus Korupsi MBG Jadi Alarm Integritas Yayasan, PFI Dorong Audit dan Pengawasan Ketat
BI Rate Naik dan Rupiah...
BI Rate Naik dan Rupiah (tetap) Melemah
Penahanan Sudewo Dipindah...
Penahanan Sudewo Dipindah ke Semarang Jelang Sidang Perdana Kasusnya
Mensos Gus Ipul Tegaskan...
Mensos Gus Ipul Tegaskan Tak Ada Zona Aman untuk Korupsi di Kemensos
Alasan Natalius Pigai...
Alasan Natalius Pigai Usul Jabatan Utama Polri Bisa Diisi Sipil
Silmy Karim Cs Ditahan...
Silmy Karim Cs Ditahan KPK, DPR Bakal Minta Penjelasan Kemenimipas
Infografis
Salah Satunya Mudah...
Salah Satunya Mudah Lelah, Berikut Ciri Ginjal Bermasalah
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved