Demokrat Ungkit Jasa AHY untuk Tiket Pilkada Anak Yusril
Senin, 27 September 2021 - 13:26 WIB
loading...
A
A
A
Setidaknya, Yusril dinilai bisa memajukan advokat lain demi konsistensinya sendiri dan bisa bekerja di belakang layar saja. "Tapi tidak, Yusril justru menerima pekerjaan dari Kubu Moeldoko dengan sangat percaya diri, malah menganggap dirinya begawan yang sedang memberi pencerahan berdemokrasi. Ia mengejek kader Demokrat sebagai dewa mabuk. Tapi siapakah di sini yang sebenarnya mabuk ketenaran dan mabuk kesombongan?" kata Rachland.
Menurut Rachland, Yusril bukan cuma profesor hukum tata negara, ia juga politisi karatan yang merupakan Ketua Umum Partai Bulan Bintang (PBB), serta menteri pada tiga rezim. Tapi, kata dia, kenapa tiba-tiba saja Yusril tak bisa melihat relasi kuasa di balik peristiwa politik yang sedang menghajar Partai Demokrat.
"Kenapa ia seolah buta, bahwa apa yang dialami Demokrat berbeda, karena pada kasus partai lain tak ada agresi terang-terangan dari Kepala Staf Kepresidenan?," ujar Rachland.
"Kenapa ia justru mengiris lepas semua itu dari konteks dan konstelasi politik, seolah semua ini berlangsung dalam ruang hampa? Apa yang membuatnya mengira bisa membangun demokrasi yang sehat, dengan mengamini praktek politik opresif dan hina? Bisakah kita simpulkan, Profesor Tata Negara ini pada akhirnya cuma manusia biasa yang menjual pengetahuannya pada para begal untuk membuka paksa pintu rumah korban?" pungkasnya.
Menurut Rachland, Yusril bukan cuma profesor hukum tata negara, ia juga politisi karatan yang merupakan Ketua Umum Partai Bulan Bintang (PBB), serta menteri pada tiga rezim. Tapi, kata dia, kenapa tiba-tiba saja Yusril tak bisa melihat relasi kuasa di balik peristiwa politik yang sedang menghajar Partai Demokrat.
"Kenapa ia seolah buta, bahwa apa yang dialami Demokrat berbeda, karena pada kasus partai lain tak ada agresi terang-terangan dari Kepala Staf Kepresidenan?," ujar Rachland.
"Kenapa ia justru mengiris lepas semua itu dari konteks dan konstelasi politik, seolah semua ini berlangsung dalam ruang hampa? Apa yang membuatnya mengira bisa membangun demokrasi yang sehat, dengan mengamini praktek politik opresif dan hina? Bisakah kita simpulkan, Profesor Tata Negara ini pada akhirnya cuma manusia biasa yang menjual pengetahuannya pada para begal untuk membuka paksa pintu rumah korban?" pungkasnya.
(rca)
Lihat Juga :