Orkestra Keolahragaan Nasional (Renungan Haornas 2021)
Kamis, 09 September 2021 - 15:01 WIB
loading...
A
A
A
Ekosistem Keolahragaan yang Sehat
Sebuah keniscayaan bahwa mengawal perjalanan proses pembangunan olahraga wajib menghadirkan dan menuangkan formula lengkap yang mengekosistem. Interaksi antarkomponen dan sumberdaya keolahragaan dipastikan dalam wujud kiprah kebersamaan yang sinergi, harmoni, dan saling melengkapi serta saling memperkuat. Melipat-gandakan kekuatan “indah” bagai kontribusi aneka peralatan instrumen musik yang berpadu apik dalam sebuah panggung orkestra. Memang, perlu prioritas capaian sesuai dengan semangat penciptaan ekosistem keolahragaan yang sehat. Namun, jangan kemudian seolah “panggung orkestra” hanya akan didominasi oleh pertunjukan “alat musik” tertentu.
Pertama, DBON wajib dimaknai sebagai sebuah rencana strategis utuh bagi bangsa yang sedang membangun olahraga (development of sport) sekaligus membangun melalui olahraga (development trough sport). Kejayaan dan kebanggaan karena prestasi olahraga di kancah dunia internasional yang mengharumkan nama bangsa, merupakan orientasi dasar dari development of sport. Diracik dan ditata prosesnya melalui mekanisme yang mengarah pada pertumbuhan dan akselerasi prestasi berdasarkan potensi dan kejeniusan lokal spesifik yang dimiliki bangsa. Reviu potensi dan gambaran sumber daya bangsa dalam keolahragaan menjadi hal yang sangat urgen.
Layak diapresiasi bahwa pemerintah melalui Menteri Pemuda dan Olahraga, Zainudin Amali dalam berbagai kesempatan telah menjelaskan ke media, bahwa DBON tersebut dirancang untuk memberikan jawaban atas persoalan perbaikan ekosistem dan tata kelola olahraga, terutama ranah olahraga prestasi. DBON merupakan mesin industri (pabrik) untuk memproduksi by design prestasi bertaraf dunia. Pertumbuhan daya saing didesain dengan memperhatikan cabang olahraga potensial yang jika ditangani secara serius akan berpeluang mendulang medali emas di olimpiade-olimpiade mendatang.
Kedua, pada saat bersamaan secara simultan, DBON juga wajib diartikan sebagai rencana besar development trough sport, memberikan ruang yang memadai untuk memintal nilai-nilai kesejahteraan olahraga. Kesejahteraan olahraga menunjuk pada orientasi membangun olahraga dengan cara memunculkan manfaat luas kesehatan, perdamaian, dan kemakmuran melalui olahraga. Indonesia memiliki karakter sebagai ‘Negara Kesejahteraan”, yakni negara yang selalu hadir responsif untuk memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat. Olahraga di DBON menjadi arti penting sebagai sebuah tombol eksekusi dalam memajukan kecerdasan kehidupan bangsa dan kesejahteraan umum.
Ketiga, DBON menjadi dokumen inti pemantik untuk menjawab “pekerjaan rumah” (PR) permasalahan dasar keolahragaan nasional. Setidaknya dalam rapat terbatas kabinet yang diselenggarakan pada awal Maret 2021, terdapat setidaknya 13 (tiga belas) poin penting hal-hal mendasar yang wajib segera dikerjakan. Penyusunan PR itu merupakan hasil reviewpencermatan lintas kementerian dan lembaga. Beberapa PR yang penting, misalnya adalah persoalan kebugaran jasmani dan partisipasi berolahraga masyarakat yang masih jauh dari angka ideal. Dalam kalkulasi Sport Development Index (SDI), indeksnya masih berada di kisaran 0,3. Masih jauh dari kondisi ideal.
Sebuah keniscayaan bahwa mengawal perjalanan proses pembangunan olahraga wajib menghadirkan dan menuangkan formula lengkap yang mengekosistem. Interaksi antarkomponen dan sumberdaya keolahragaan dipastikan dalam wujud kiprah kebersamaan yang sinergi, harmoni, dan saling melengkapi serta saling memperkuat. Melipat-gandakan kekuatan “indah” bagai kontribusi aneka peralatan instrumen musik yang berpadu apik dalam sebuah panggung orkestra. Memang, perlu prioritas capaian sesuai dengan semangat penciptaan ekosistem keolahragaan yang sehat. Namun, jangan kemudian seolah “panggung orkestra” hanya akan didominasi oleh pertunjukan “alat musik” tertentu.
Pertama, DBON wajib dimaknai sebagai sebuah rencana strategis utuh bagi bangsa yang sedang membangun olahraga (development of sport) sekaligus membangun melalui olahraga (development trough sport). Kejayaan dan kebanggaan karena prestasi olahraga di kancah dunia internasional yang mengharumkan nama bangsa, merupakan orientasi dasar dari development of sport. Diracik dan ditata prosesnya melalui mekanisme yang mengarah pada pertumbuhan dan akselerasi prestasi berdasarkan potensi dan kejeniusan lokal spesifik yang dimiliki bangsa. Reviu potensi dan gambaran sumber daya bangsa dalam keolahragaan menjadi hal yang sangat urgen.
Layak diapresiasi bahwa pemerintah melalui Menteri Pemuda dan Olahraga, Zainudin Amali dalam berbagai kesempatan telah menjelaskan ke media, bahwa DBON tersebut dirancang untuk memberikan jawaban atas persoalan perbaikan ekosistem dan tata kelola olahraga, terutama ranah olahraga prestasi. DBON merupakan mesin industri (pabrik) untuk memproduksi by design prestasi bertaraf dunia. Pertumbuhan daya saing didesain dengan memperhatikan cabang olahraga potensial yang jika ditangani secara serius akan berpeluang mendulang medali emas di olimpiade-olimpiade mendatang.
Kedua, pada saat bersamaan secara simultan, DBON juga wajib diartikan sebagai rencana besar development trough sport, memberikan ruang yang memadai untuk memintal nilai-nilai kesejahteraan olahraga. Kesejahteraan olahraga menunjuk pada orientasi membangun olahraga dengan cara memunculkan manfaat luas kesehatan, perdamaian, dan kemakmuran melalui olahraga. Indonesia memiliki karakter sebagai ‘Negara Kesejahteraan”, yakni negara yang selalu hadir responsif untuk memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat. Olahraga di DBON menjadi arti penting sebagai sebuah tombol eksekusi dalam memajukan kecerdasan kehidupan bangsa dan kesejahteraan umum.
Ketiga, DBON menjadi dokumen inti pemantik untuk menjawab “pekerjaan rumah” (PR) permasalahan dasar keolahragaan nasional. Setidaknya dalam rapat terbatas kabinet yang diselenggarakan pada awal Maret 2021, terdapat setidaknya 13 (tiga belas) poin penting hal-hal mendasar yang wajib segera dikerjakan. Penyusunan PR itu merupakan hasil reviewpencermatan lintas kementerian dan lembaga. Beberapa PR yang penting, misalnya adalah persoalan kebugaran jasmani dan partisipasi berolahraga masyarakat yang masih jauh dari angka ideal. Dalam kalkulasi Sport Development Index (SDI), indeksnya masih berada di kisaran 0,3. Masih jauh dari kondisi ideal.