Perang Diponegoro: 200.000 Jiwa Penduduk Jawa Tewas Lawan Penjajah
Selasa, 31 Agustus 2021 - 08:07 WIB
loading...
sosok Pangeran Diponegoro dikenal secara luas karena memimpin perlawanan penjajahan di tanah Jawa. Foto/Ist
A
A
A
JAKARTA - Perang Diponegoro adalah salah satu pertempuran terbesar yang pernah dialami Belanda selama masa pendudukannya di Nusantara. Nah, sosok Pangeran Diponegoro dikenal secara luas karena memimpin perlawanan penjajahan di tanah Jawa.
Baca juga: Kapal Perang KRI Diponegoro-365 Latihan Bersama RSS Tenacious 71 Singapura
Adapun Pangeran Diponegoro yang memiliki nama asli Raden Mas Ontowiryo dan lahir pada 11 November 1785 di Yogyakarta itu merupakan putra dari Sri Sultan Hamengku Buwono III. Tidak sedikit korban tewas yang terjadi dalam Perang Diponegoro selama lima tahun ini, sejak tahun 1825 hingga 1830. Seperti apa sejarahnya?
Baca juga: 26 Hari di Batavia, Jejak Terakhir Pangeran Diponegoro di Tanah Jawa
Perang itu terjadi karena Pangeran tidak menyetujui campur tangan Belanda dalam urusan kerajaan. Di samping itu, para petani lokal juga menderita akibat penyalahgunaan penyewaan tanah oleh warga Belanda, Inggris, Prancis, dan Jerman sejak tahun 1821.
Perang ini juga merupakan perang sesama saudara antara orang-orang keraton yang berpihak pada Diponegoro dan yang anti-Diponegoro alias antek Belanda. Dikutip dari situs Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, pada tanggal 6 Mei 1823 Van der Capellen mengeluarkan dekrit yang menyatakan bahwa semua tanah yang disewa orang Eropa dan Tionghoa wajib dikembalikan kepada pemiliknya per 31 Januari 1824.
Akan tetapi, pemilik lahan diwajibkan memberikan kompensasi kepada penyewa lahan Eropa. Saat itu, Pangeran Diponegoro membulatkan tekad untuk melakukan perlawanan dengan membatalkan pajak Puwasa. Tujuannya adalah agar para petani di Tegalrejo dapat membeli senjata dan makanan.
Baca juga: Kapal Perang KRI Diponegoro-365 Latihan Bersama RSS Tenacious 71 Singapura
Adapun Pangeran Diponegoro yang memiliki nama asli Raden Mas Ontowiryo dan lahir pada 11 November 1785 di Yogyakarta itu merupakan putra dari Sri Sultan Hamengku Buwono III. Tidak sedikit korban tewas yang terjadi dalam Perang Diponegoro selama lima tahun ini, sejak tahun 1825 hingga 1830. Seperti apa sejarahnya?
Baca juga: 26 Hari di Batavia, Jejak Terakhir Pangeran Diponegoro di Tanah Jawa
Perang itu terjadi karena Pangeran tidak menyetujui campur tangan Belanda dalam urusan kerajaan. Di samping itu, para petani lokal juga menderita akibat penyalahgunaan penyewaan tanah oleh warga Belanda, Inggris, Prancis, dan Jerman sejak tahun 1821.
Perang ini juga merupakan perang sesama saudara antara orang-orang keraton yang berpihak pada Diponegoro dan yang anti-Diponegoro alias antek Belanda. Dikutip dari situs Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, pada tanggal 6 Mei 1823 Van der Capellen mengeluarkan dekrit yang menyatakan bahwa semua tanah yang disewa orang Eropa dan Tionghoa wajib dikembalikan kepada pemiliknya per 31 Januari 1824.
Akan tetapi, pemilik lahan diwajibkan memberikan kompensasi kepada penyewa lahan Eropa. Saat itu, Pangeran Diponegoro membulatkan tekad untuk melakukan perlawanan dengan membatalkan pajak Puwasa. Tujuannya adalah agar para petani di Tegalrejo dapat membeli senjata dan makanan.
Lihat Juga :