Perang Diponegoro: 200.000 Jiwa Penduduk Jawa Tewas Lawan Penjajah
Selasa, 31 Agustus 2021 - 08:07 WIB
loading...
A
A
A
Tonggak-tonggak yang dipasang Patih Danureja atas perintah Belanda untuk membuat rel kereta api pun membuat kekecewaan Pangeran Diponegoro semakin memuncak. Sebab, tonggak-tonggak yang dipasang itu melewati makam leluhur Pangeran Diponegoro.
Saat itu lah Pangeran Diponegoro kemudian bertekad melawan Belanda dan menyatakan sikap perang. Pihak istana pada Rabu 20 Juli 1825 mengutus dua bupati keraton senior yang memimpin pasukan Jawa-Belanda untuk menangkap Pangeran Diponegoro dan Mangkubumi di Tegalrejo sebelum perang pecah.
Pangeran Diponegoro dan sebagian besar pengikutnya berhasil lolos karena lebih mengenal medan di Tegalrejo, walaupun kediamannya jatuh dan dibakar. Beliau beserta keluarga dan pasukannya bergerak ke barat hingga Desa Dekso di Kabupaten Kulonprogo, dan meneruskan ke arah selatan.
Hingga keesokan harinya tiba di Goa Selarong yang terletak lima kilometer arah barat dari Kota Bantul. Kemudian, Pangeran Diponegoro pindah ke sebuah daerah berbukit-bukit yang dijadikan markas besarnya, Selarong. Goa Selarong yang terletak di Dusun Kentolan Lor, Guwosari Pajangan Bantul dijadikan Pangeran Diponegoro sebagai basisnya.
Pangeran Diponegoro menempati Goa Kakung, goa sebelah barat yang juga menjadi tempat pertapaannya. Sementara Raden Ayu Retnaningsih beserta pengiringnya menempati Goa Putri di sebelah Timur. Raden Ayu Retnaningsih adalah selir yang paling setia menemani Pangeran Diponegoro setelah dua istrinya wafat.
Penyerangan di Tegalrejo menjadi awal perang Diponegoro. Pangeran Diponegoro memimpin masyarakat Jawa, dari kalangan petani hingga golongan priyayi yang menyumbangkan uang dan barang-barang berharga lainnya sebagai dana perang. Semangatnya yaitu sejari kepala sejengkal tanah dibela sampai mati atau “Sadumuk bathuk, sanyari bumi ditohi tekan pati”.
Sebanyak 15 dari 19 pangeran bergabung dengan Diponegoro. Diponegoro juga bahkan berhasil memobilisasi para bandit profesional yang sebelumnya ditakuti oleh penduduk pedesaan, walaupun hal ini menjadi kontroversi tersendiri.
Saat itu lah Pangeran Diponegoro kemudian bertekad melawan Belanda dan menyatakan sikap perang. Pihak istana pada Rabu 20 Juli 1825 mengutus dua bupati keraton senior yang memimpin pasukan Jawa-Belanda untuk menangkap Pangeran Diponegoro dan Mangkubumi di Tegalrejo sebelum perang pecah.
Pangeran Diponegoro dan sebagian besar pengikutnya berhasil lolos karena lebih mengenal medan di Tegalrejo, walaupun kediamannya jatuh dan dibakar. Beliau beserta keluarga dan pasukannya bergerak ke barat hingga Desa Dekso di Kabupaten Kulonprogo, dan meneruskan ke arah selatan.
Hingga keesokan harinya tiba di Goa Selarong yang terletak lima kilometer arah barat dari Kota Bantul. Kemudian, Pangeran Diponegoro pindah ke sebuah daerah berbukit-bukit yang dijadikan markas besarnya, Selarong. Goa Selarong yang terletak di Dusun Kentolan Lor, Guwosari Pajangan Bantul dijadikan Pangeran Diponegoro sebagai basisnya.
Pangeran Diponegoro menempati Goa Kakung, goa sebelah barat yang juga menjadi tempat pertapaannya. Sementara Raden Ayu Retnaningsih beserta pengiringnya menempati Goa Putri di sebelah Timur. Raden Ayu Retnaningsih adalah selir yang paling setia menemani Pangeran Diponegoro setelah dua istrinya wafat.
Penyerangan di Tegalrejo menjadi awal perang Diponegoro. Pangeran Diponegoro memimpin masyarakat Jawa, dari kalangan petani hingga golongan priyayi yang menyumbangkan uang dan barang-barang berharga lainnya sebagai dana perang. Semangatnya yaitu sejari kepala sejengkal tanah dibela sampai mati atau “Sadumuk bathuk, sanyari bumi ditohi tekan pati”.
Sebanyak 15 dari 19 pangeran bergabung dengan Diponegoro. Diponegoro juga bahkan berhasil memobilisasi para bandit profesional yang sebelumnya ditakuti oleh penduduk pedesaan, walaupun hal ini menjadi kontroversi tersendiri.
Lihat Juga :