Cerita Influencer Yunita Kariman Cari Rumah Sakit untuk Ayahnya yang Terpapar Covid-19
Jum'at, 23 Juli 2021 - 21:29 WIB
loading...
A
A
A
Baca juga: Cerita Penyintas Covid 'Alumni' RSDC Wisma Atlet dan Kegigihan Nakes yang Bertugas
Saat itu batuk, demam, muntah dan diare tidak lagi dialami ayah Yunita. Pada 28 Juni, ayah Yunita tiba-tiba tak sadarkan diri. Selain masih belum bisa buang air besar, saturasi oksigennya saat itu masih 95.
Yunita dan keluarga mulai menghubungi sejumlah rumah sakit. Semua rumah sakit yang dihubungi menyatakan penuh. Sekitar 20-an rumah sakit telah dihubunginya selama hampir tiga hari untuk sang ayah agar mendapatkan perawatan khusus pasien Covid-19.
Kemudian, Kariman dibawa ke puskesmas terdekat. Namun, puskesmas menyarankan keluarga membawa Kariman ke rumah sakit atau Wisma Atlet karena saturasi 80-90. Kondisi ayah Yunita semakin memburuk. Saturasi oksigen ayah Yunita tiba-tiba turun ke 89 pada 29 Juni. Napas sudah mulai dari mulut, perut ada kembang dan kempis. Namun, saat itu masih belum dapat rumah sakit.
Selanjutnya, Yunita memutuskan untuk membawa ayahnya ke Rumah Sakit Darurat Covid-19 Wisma Atlet ( RSDC Wisma Atlet ) pada 30 Juni karena saturasi oksigen jatuh hingga ke 79. Tidak bisa masuk makanan dan minuman, dan masih belum buang air besar. Pada pukul 15:36 WIB, mereka tiba di Wisma Atlet.
Dari pukul 15:53 WIB hingga pukul 16.15 WIB, petugas medis memeriksa ayah Yunita di parkiran UGD. Lalu, Yunita pada pukul 16.20 WIB diminta masuk ke bagian registrasi di ruang UGD untuk mengisi data ayahnya yang saat itu masih berada di mobil pribadi keluarga di parkiran UGD.
Pada pukul 21.40 WIB, walaupun sudah berada di UGD, ayah Yunita masih belum mendapatkan perawatan seperti infus. Kemudian, saudara Yunita memberi kabar bahwa ada satu rumah sakit yang mau menerima ayahnya.
Saat itu batuk, demam, muntah dan diare tidak lagi dialami ayah Yunita. Pada 28 Juni, ayah Yunita tiba-tiba tak sadarkan diri. Selain masih belum bisa buang air besar, saturasi oksigennya saat itu masih 95.
Yunita dan keluarga mulai menghubungi sejumlah rumah sakit. Semua rumah sakit yang dihubungi menyatakan penuh. Sekitar 20-an rumah sakit telah dihubunginya selama hampir tiga hari untuk sang ayah agar mendapatkan perawatan khusus pasien Covid-19.
Kemudian, Kariman dibawa ke puskesmas terdekat. Namun, puskesmas menyarankan keluarga membawa Kariman ke rumah sakit atau Wisma Atlet karena saturasi 80-90. Kondisi ayah Yunita semakin memburuk. Saturasi oksigen ayah Yunita tiba-tiba turun ke 89 pada 29 Juni. Napas sudah mulai dari mulut, perut ada kembang dan kempis. Namun, saat itu masih belum dapat rumah sakit.
Selanjutnya, Yunita memutuskan untuk membawa ayahnya ke Rumah Sakit Darurat Covid-19 Wisma Atlet ( RSDC Wisma Atlet ) pada 30 Juni karena saturasi oksigen jatuh hingga ke 79. Tidak bisa masuk makanan dan minuman, dan masih belum buang air besar. Pada pukul 15:36 WIB, mereka tiba di Wisma Atlet.
Dari pukul 15:53 WIB hingga pukul 16.15 WIB, petugas medis memeriksa ayah Yunita di parkiran UGD. Lalu, Yunita pada pukul 16.20 WIB diminta masuk ke bagian registrasi di ruang UGD untuk mengisi data ayahnya yang saat itu masih berada di mobil pribadi keluarga di parkiran UGD.
Pada pukul 21.40 WIB, walaupun sudah berada di UGD, ayah Yunita masih belum mendapatkan perawatan seperti infus. Kemudian, saudara Yunita memberi kabar bahwa ada satu rumah sakit yang mau menerima ayahnya.
Lihat Juga :