Dokter Muda yang Tak Lelah Mengedukasi Masyarakat dan Tangkal Hoaks Covid-19
Rabu, 21 Juli 2021 - 13:21 WIB
loading...
A
A
A
Selanjutnya, mengenai pemberian obat-obatan pada self treatment, pasien saling membanding-bandingkan antara obat pasien yang satu dengan pasien. Pada akhirnya pasien memutuskan obat dirinya sama dengan yang lain. "Padahal kondisinya berbeda antara satu pasien dengan pasien lain. Jadi misalnya kalau mau berobat percayakanlah fasilitas layanan kesehatan, jangan berdasarkan apa kata orang," jelasnya.
Ia juga menyampaikan bahwa masyarakat saat ini masih termakan hoaks mengenai vaksinasi dan pada akhirnya enggan divaksin. "Banyak dari mereka yang masih tidak mau divaksin karena beranggapan setelah vaksin ada yang meninggal, ada ini, ada itu. Padahal jika kita melihat negara lain sudah pada lepas masker karena mereka cepat dan vaksinnya juga tinggi. Ayo sama-sama kita sukseskan kalau ada program vaksin terdekat di rumah kita, ya udah itulah vaksin terbaik untuk diri kita saat ini, jadi kita nggak usah mikir panjang dan lain-lain sih itu."
Permasalahannya, masyarakat Indonesia khususnya para milenial juga mengidap perilaku FOMO, yaitu adanya kekhawatiran berlebihan jika tertinggal dengan tren yang ada. Hal ini menyebabkan tingginya penyebaran informasi hoaks tanpa diketahui kebenarannya terlebih dahulu.
"Saat ini banyak sekali orang yang memiliki smartphone, ada euforia FOMO, jadi misalnya kalau mereka men-share sesuatu terus dianggap tahu segalanya, dia merasa dirinya penting untuk perannya. Perasaan ini membawa dirinya merasa eksis dengan mengetahui informasi-informasi, padahal belum tahu itu benar atau salah," urai Dwita.
Dwita melihat masyarakat Indonesia lebih senang untuk mendengar apa yang dikatakan orang lain daripada membaca, mencari tahu sendiri serta berpikir karena keduanya merupakan hal yang berbeda. Menurutnya, ketika seseorang menyaring informasi dan akhirnya berpikir bahwa hal tersebut benar atau tidak, akan membutuhkan tingkat pemikiran yang lebih tinggi dibandingkan hanya membaca kemudian dan langsung share tanpa berpikir dua kali.
"Jadi kemampuan untuk berpikir lebih dalam dan lebih lanjut ini tampaknya belum ada di masyarakat. Gampang sekali terpengaruh informasi yang belum benar karena banyaknya informasi yang belum benar beredar jadinya seolah-olah itu Jadi benar," jelasnya.
Karena itu, menurut Dwita, setidaknya ada tiga hal guna menghindari berita hoaks. Pertama, apakah dari sumber yang jelas termasuk dari penulis yang memiliki kompetensi untuk berbicara hal tersebut. Lalu, alamat website harus merupakan media arus utama yaitu media-media yang memang tepercaya dan informasinya kredibel selama ini.
"Apakah berita itu benar atau tidak, kita bisa kroscek dulu jika memang beberapa media yang utama, sudah memiliki nama untuk memberitakan hal tersebut itu bisa jadi suatu informasi yang kita percaya. Tapi kalau misalnya itu dari blog-blog nggak jelas, patut dicurigai ini kira-kira informasi belum tepat kebenarannya," urainya.
Baca juga: Luhut Anggap Hoaks Covid-19 Bisa Menyebabkan Orang Lain Meninggal
Kedua, berpikir terlebih dahulu sebelum membagikan informasi. Alangkah lebih baik jika informasi yang dibagikan dapat bermanfaat bagi orang lain. Ketiga, setelah melihat sumber dan website-nya benar namun masih ragu terhadap informasi yang diberikan, ada baiknya dapat ditanyakan langsung kepada ahlinya misalnya bertanya ke dokter untuk info terkait Covid-19.
"Atau misalnya tidak ada kenalan dokter, ada banyak layanan telemedicine yang sudah disediakan pemerintah atau media-media sosial dari Kemenkes, WHO dan lain-lain. Sebenarnya banyak sekali informasi dari sumber yang tepercaya dan merupakan portal resmi dari suatu lembaga tertentu," tambahnya.
Pada proses edukasi menangkal hoaks Covid-19, lanjutnya, memang harus dilakukan oleh para dokter dan dilakukan secara terus-menerus karena membutuhkan waktu dalam proses mengonstruksi sekelompok masyarakat.
"Memang tugas kita (dokter) orang-orang inilah yang meluruskan, jadi harapannya dengan banyaknya informasi yang membanjiri masyarakat sesuai fakta dan akhirnya akan ter-brainwash lagi dengan informasi yang benar. Untuk menghilangkan informasi yang salah itu memang harus terus-menerus, karena perilaku tidak bisa (diubah) sehari-dua hari, jadi ini memang PR banget buat bangsa kita yang gampang kemakan hoaks."
Ajeng Wirachmi/Litbang MPI/Widya Michella Nur Syahida
Ia juga menyampaikan bahwa masyarakat saat ini masih termakan hoaks mengenai vaksinasi dan pada akhirnya enggan divaksin. "Banyak dari mereka yang masih tidak mau divaksin karena beranggapan setelah vaksin ada yang meninggal, ada ini, ada itu. Padahal jika kita melihat negara lain sudah pada lepas masker karena mereka cepat dan vaksinnya juga tinggi. Ayo sama-sama kita sukseskan kalau ada program vaksin terdekat di rumah kita, ya udah itulah vaksin terbaik untuk diri kita saat ini, jadi kita nggak usah mikir panjang dan lain-lain sih itu."
Permasalahannya, masyarakat Indonesia khususnya para milenial juga mengidap perilaku FOMO, yaitu adanya kekhawatiran berlebihan jika tertinggal dengan tren yang ada. Hal ini menyebabkan tingginya penyebaran informasi hoaks tanpa diketahui kebenarannya terlebih dahulu.
"Saat ini banyak sekali orang yang memiliki smartphone, ada euforia FOMO, jadi misalnya kalau mereka men-share sesuatu terus dianggap tahu segalanya, dia merasa dirinya penting untuk perannya. Perasaan ini membawa dirinya merasa eksis dengan mengetahui informasi-informasi, padahal belum tahu itu benar atau salah," urai Dwita.
Dwita melihat masyarakat Indonesia lebih senang untuk mendengar apa yang dikatakan orang lain daripada membaca, mencari tahu sendiri serta berpikir karena keduanya merupakan hal yang berbeda. Menurutnya, ketika seseorang menyaring informasi dan akhirnya berpikir bahwa hal tersebut benar atau tidak, akan membutuhkan tingkat pemikiran yang lebih tinggi dibandingkan hanya membaca kemudian dan langsung share tanpa berpikir dua kali.
"Jadi kemampuan untuk berpikir lebih dalam dan lebih lanjut ini tampaknya belum ada di masyarakat. Gampang sekali terpengaruh informasi yang belum benar karena banyaknya informasi yang belum benar beredar jadinya seolah-olah itu Jadi benar," jelasnya.
Karena itu, menurut Dwita, setidaknya ada tiga hal guna menghindari berita hoaks. Pertama, apakah dari sumber yang jelas termasuk dari penulis yang memiliki kompetensi untuk berbicara hal tersebut. Lalu, alamat website harus merupakan media arus utama yaitu media-media yang memang tepercaya dan informasinya kredibel selama ini.
"Apakah berita itu benar atau tidak, kita bisa kroscek dulu jika memang beberapa media yang utama, sudah memiliki nama untuk memberitakan hal tersebut itu bisa jadi suatu informasi yang kita percaya. Tapi kalau misalnya itu dari blog-blog nggak jelas, patut dicurigai ini kira-kira informasi belum tepat kebenarannya," urainya.
Baca juga: Luhut Anggap Hoaks Covid-19 Bisa Menyebabkan Orang Lain Meninggal
Kedua, berpikir terlebih dahulu sebelum membagikan informasi. Alangkah lebih baik jika informasi yang dibagikan dapat bermanfaat bagi orang lain. Ketiga, setelah melihat sumber dan website-nya benar namun masih ragu terhadap informasi yang diberikan, ada baiknya dapat ditanyakan langsung kepada ahlinya misalnya bertanya ke dokter untuk info terkait Covid-19.
"Atau misalnya tidak ada kenalan dokter, ada banyak layanan telemedicine yang sudah disediakan pemerintah atau media-media sosial dari Kemenkes, WHO dan lain-lain. Sebenarnya banyak sekali informasi dari sumber yang tepercaya dan merupakan portal resmi dari suatu lembaga tertentu," tambahnya.
Pada proses edukasi menangkal hoaks Covid-19, lanjutnya, memang harus dilakukan oleh para dokter dan dilakukan secara terus-menerus karena membutuhkan waktu dalam proses mengonstruksi sekelompok masyarakat.
"Memang tugas kita (dokter) orang-orang inilah yang meluruskan, jadi harapannya dengan banyaknya informasi yang membanjiri masyarakat sesuai fakta dan akhirnya akan ter-brainwash lagi dengan informasi yang benar. Untuk menghilangkan informasi yang salah itu memang harus terus-menerus, karena perilaku tidak bisa (diubah) sehari-dua hari, jadi ini memang PR banget buat bangsa kita yang gampang kemakan hoaks."
Ajeng Wirachmi/Litbang MPI/Widya Michella Nur Syahida
(zik)
Lihat Juga :