RE Martadinata, Pendiri Barisan Banteng Laut yang Gugur di Udara
Jum'at, 16 Juli 2021 - 05:27 WIB
loading...
A
A
A
Dikutip dari situs www.tnial.mil.id, kesatuan laskar Barisan Banteng Laut ini merupakan bagian penting dalam perjuangan untuk merebut kemerdekaan. Menjelang proklamasi 17 Agustus 1945, kelompok bahariawan ini berhasil menghubungi Bung Karno dan Bung Hatta untuk berdiskusi dan menyampaikan informasi dalam rangka membantu persiapan proklamasi.
Baca juga: Halim Perdanakusuma, Perintis TNI AU yang Gugur Setelah Tuntaskan Misinya
Setelah proklamasi dikumandangkan, para pelaut di bawah pimpinan RE Martadinata melucuti senjatatentara Jepang, merebut kapal-kapal milik Jawatan Pelayaran Jawa Unko Kaisya, menguasai pelabuhanpenting dan menduduki gedung-gedung dan kantor milik pendudukan Jepang.
Setelah pengakuan kemerdekaan, Belanda menyerahkan dua korvet kepada pemerintah RI. RE Martadinata menjadi salah satu komandan kapal yang diberi nama RI Hang Tuah.
Perjalanan karirnya terus menanjak dan dipercaya menjadi Komandan Kesatuan ALRI di Italia (Kalita)untuk mengawasi pembuatan dua kapal korvet dan dua kapal fregat. Puncak karir di ALRI ketikadiangkat menjadi KSAL pada 17 Juli 1959 dan saat itu dilakukan perubahan dengan program "MenujuAngkatan Laut yang Jaya" dengan bertitik tolak pada konsepsi Wawasan Nusantara. Membangun AngkatanLaut yang kuat perlu penataan kekuatan Armada dan operasi yang didukung dengan pendirian darat.
Armada Angkatan Laut menjadi bertambah kuat dengan pengadaan kapal perang, pesawat udara, pasukan komando dan peralatannya serta pendirian fasilitas pangkalan secara moderen sehingga pada 5Desember 1959 lahirlah Armada Republik Indonesia yang menjadi kekuatan terbesar di Asia Tenggaradan menjadi kebanggaan rakyat.
Baca juga: Halim Perdanakusuma, Perintis TNI AU yang Gugur Setelah Tuntaskan Misinya
Setelah proklamasi dikumandangkan, para pelaut di bawah pimpinan RE Martadinata melucuti senjatatentara Jepang, merebut kapal-kapal milik Jawatan Pelayaran Jawa Unko Kaisya, menguasai pelabuhanpenting dan menduduki gedung-gedung dan kantor milik pendudukan Jepang.
Setelah pengakuan kemerdekaan, Belanda menyerahkan dua korvet kepada pemerintah RI. RE Martadinata menjadi salah satu komandan kapal yang diberi nama RI Hang Tuah.
Perjalanan karirnya terus menanjak dan dipercaya menjadi Komandan Kesatuan ALRI di Italia (Kalita)untuk mengawasi pembuatan dua kapal korvet dan dua kapal fregat. Puncak karir di ALRI ketikadiangkat menjadi KSAL pada 17 Juli 1959 dan saat itu dilakukan perubahan dengan program "MenujuAngkatan Laut yang Jaya" dengan bertitik tolak pada konsepsi Wawasan Nusantara. Membangun AngkatanLaut yang kuat perlu penataan kekuatan Armada dan operasi yang didukung dengan pendirian darat.
Armada Angkatan Laut menjadi bertambah kuat dengan pengadaan kapal perang, pesawat udara, pasukan komando dan peralatannya serta pendirian fasilitas pangkalan secara moderen sehingga pada 5Desember 1959 lahirlah Armada Republik Indonesia yang menjadi kekuatan terbesar di Asia Tenggaradan menjadi kebanggaan rakyat.
Lihat Juga :