Tantangan Industri Manufaktur di Masa PPKM Darurat
Senin, 05 Juli 2021 - 06:33 WIB
loading...
A
A
A
Terkait kinerja manufaktur pada Juni lalu, Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita mengungkapkan kita perlu bersyukur bahwa sektor industri manufaktur masih ekspansif dan masih ada gairah usaha kendati berada di tengah dampak peningkatan kasus korona. Apalagi berdasarkan data IHS Markit, dikutip dari situs Setkab.go.id, PMI Manufaktur Indonesia bulan lalu masih lebih tinggi dibanding PMI Manufaktur ASEAN yang berada di level 49,0. PMI Manufakur Indonesia juga mengungguli PMI Manufaktur Filipina (50,8), Thailand (49,5), Singapura (46,5), Vietnam (44,1), Malaysia (39,9), Cina (51,3), Jepang (52,4), dan India (50,8).
Kinerja di sektor industri manufaktur bersama sejumlah indikator lainnya, membuat Kemenperin tetap optimistis ekonomi nasional akan tumbuh positif pada kuartal II tahun ini. Terlebih dalam delapan bulan terakhir, PMI Manufaktur Indonesia terus berada di atas angka 50 yang berarti ada ekspansi dari kalangan dunia usaha.
Berdasarkan data dari Kemenperin, kinerja gemilang sektor industri manufaktur terlihat pada nilai ekspor industri pengolahan yang tercatat mencapai USD66,70 miliar pada Januari-Mei 2021, naik 30,53% dibandingkan periode yang sama 2020. Dengan capaian tersebut, industri pengolahan memberikan kontribusi paling tinggi, yakni 79,42% dari total ekspor nasional yang berada di angka USD83,99 miliar.
Menurut Agus, besarnya proporsi ekspor produk industri pengolahan sekaligus menggambarkan bahwa telah terjadi pergeseran ekspor Indonesia dari komoditas primer kepada produk manufaktur yang bernilai tambah tinggi. Artinya, Indonesia telah melakukan transformasi ekonomi, tidak lagi menjadi negara pengekspor bahan mentah, tetapi produk jadi atau barang setengah jadi.
Di samping itu, sepanjang kuartal I/2021, nilai investasi yang direalisasikan industri pengolahan menembus Rp88,3 triliun atau naik 38% dibanding capaian pada periode yang sama tahun sebelumnya. Dari Rp88,3 triliun tersebut, sektor manufaktur memberikan kontribusi signifikan hingga 40,2% terhadap total nilai investasi di Indonesia yang mencapai Rp219,7 triliun. (*)
Kinerja di sektor industri manufaktur bersama sejumlah indikator lainnya, membuat Kemenperin tetap optimistis ekonomi nasional akan tumbuh positif pada kuartal II tahun ini. Terlebih dalam delapan bulan terakhir, PMI Manufaktur Indonesia terus berada di atas angka 50 yang berarti ada ekspansi dari kalangan dunia usaha.
Berdasarkan data dari Kemenperin, kinerja gemilang sektor industri manufaktur terlihat pada nilai ekspor industri pengolahan yang tercatat mencapai USD66,70 miliar pada Januari-Mei 2021, naik 30,53% dibandingkan periode yang sama 2020. Dengan capaian tersebut, industri pengolahan memberikan kontribusi paling tinggi, yakni 79,42% dari total ekspor nasional yang berada di angka USD83,99 miliar.
Menurut Agus, besarnya proporsi ekspor produk industri pengolahan sekaligus menggambarkan bahwa telah terjadi pergeseran ekspor Indonesia dari komoditas primer kepada produk manufaktur yang bernilai tambah tinggi. Artinya, Indonesia telah melakukan transformasi ekonomi, tidak lagi menjadi negara pengekspor bahan mentah, tetapi produk jadi atau barang setengah jadi.
Di samping itu, sepanjang kuartal I/2021, nilai investasi yang direalisasikan industri pengolahan menembus Rp88,3 triliun atau naik 38% dibanding capaian pada periode yang sama tahun sebelumnya. Dari Rp88,3 triliun tersebut, sektor manufaktur memberikan kontribusi signifikan hingga 40,2% terhadap total nilai investasi di Indonesia yang mencapai Rp219,7 triliun. (*)
(ynt)
Lihat Juga :