Pentingnya Motivasi dalam Pandemi Berkepanjangan
Rabu, 23 Juni 2021 - 05:59 WIB
loading...
A
A
A
Motivasi sebagai Kunci
Bagi kita yang sudah terbiasa untuk bekerja secara virtual dengan koordinasi dan komunikasi yang juga berlangsung secara virtual, mengikuti ritme kerja yang demikian sesungguhnya telah menjadi suatu kebiasaan. Pembiasaan aktivitas sehingga menjadi habit, pada umumnya sudah dapat terbentuk ketika orang menjalani kegiatan yang sama secara berturut-turut dan konsisten selama 60 hari atau dua bulan. Artinya, dengan pandemi yang sudah memasuki bulan ke-16, kita telah delapan kali mengalami siklus pembiasaan.
Dalam pola kerja atau aktivitas yang berubah, pada umumnya yang diukur atas perubahan tersebut adalah output dan outcome yang dihasilkan oleh suatu unit kerja dalam organisasi atau korporasi. Output mengandaikan suatu hasil yang nyata dan dapat diukur, dikuantifikasi, dirasakan, dilihat, sehingga menghasilkan dampak yang lebih bersifat kualitatif.
Tantangannya adalah bagaimana menjaga supaya output atau outcome yang ditetapkan dapat dipenuhi oleh seorang pegawai atau pekerja, di tengah-tengah beban atau persoalan yang harus mereka tanggung selama menghadapi pandemi. Biaya kesehatan yang meningkat, pendapatan yang menurun, rasa cemas atau takut yang muncul, dan lebih jauh lagi masa depan yang terlihat muram.
Persoalannya, membangkitkan motivasi di tengah minimnya interaksi secara fisik sungguh tidak mudah. Suasana pandemi membuatnya makin muram. Tekanan emosional dan ekonomi sangatlah dominan di kalangan para pekerja atau pegawai, karena mereka sungguh-sungguh merasakan perbedaan yang ekstrem antara suasana sebelum dan pada saat pandemi.
Dalam kondisi seperti itu, apa yang ada dalam bayangan paling dekat adalah bagaimana supaya tidak kehilangan pekerjaan, bagaimana membayar tagihan dan pengeluaran ini itu, atau bagaimana melindungi diri mereka dan keluarga dengan proteksi kesehatan yang memadai.
Namun yang tidak mudah itu bukan berarti tidak mungkin. Bagaimana itu mungkin? Interaksi fisik yang minim, koordinasi yang serba terbatas dan komunikasi yang terhambat harus tetap menciptakan “Ruang Bermain” yang cukup bagi setiap pekerja atau pegawai.
Bagi kita yang sudah terbiasa untuk bekerja secara virtual dengan koordinasi dan komunikasi yang juga berlangsung secara virtual, mengikuti ritme kerja yang demikian sesungguhnya telah menjadi suatu kebiasaan. Pembiasaan aktivitas sehingga menjadi habit, pada umumnya sudah dapat terbentuk ketika orang menjalani kegiatan yang sama secara berturut-turut dan konsisten selama 60 hari atau dua bulan. Artinya, dengan pandemi yang sudah memasuki bulan ke-16, kita telah delapan kali mengalami siklus pembiasaan.
Dalam pola kerja atau aktivitas yang berubah, pada umumnya yang diukur atas perubahan tersebut adalah output dan outcome yang dihasilkan oleh suatu unit kerja dalam organisasi atau korporasi. Output mengandaikan suatu hasil yang nyata dan dapat diukur, dikuantifikasi, dirasakan, dilihat, sehingga menghasilkan dampak yang lebih bersifat kualitatif.
Tantangannya adalah bagaimana menjaga supaya output atau outcome yang ditetapkan dapat dipenuhi oleh seorang pegawai atau pekerja, di tengah-tengah beban atau persoalan yang harus mereka tanggung selama menghadapi pandemi. Biaya kesehatan yang meningkat, pendapatan yang menurun, rasa cemas atau takut yang muncul, dan lebih jauh lagi masa depan yang terlihat muram.
Persoalannya, membangkitkan motivasi di tengah minimnya interaksi secara fisik sungguh tidak mudah. Suasana pandemi membuatnya makin muram. Tekanan emosional dan ekonomi sangatlah dominan di kalangan para pekerja atau pegawai, karena mereka sungguh-sungguh merasakan perbedaan yang ekstrem antara suasana sebelum dan pada saat pandemi.
Dalam kondisi seperti itu, apa yang ada dalam bayangan paling dekat adalah bagaimana supaya tidak kehilangan pekerjaan, bagaimana membayar tagihan dan pengeluaran ini itu, atau bagaimana melindungi diri mereka dan keluarga dengan proteksi kesehatan yang memadai.
Namun yang tidak mudah itu bukan berarti tidak mungkin. Bagaimana itu mungkin? Interaksi fisik yang minim, koordinasi yang serba terbatas dan komunikasi yang terhambat harus tetap menciptakan “Ruang Bermain” yang cukup bagi setiap pekerja atau pegawai.
Lihat Juga :