Reformis Lengah, Presiden Tiga Periode yang Digaungkan Kelompok Oportunis Jadi Kenyataan
Sabtu, 19 Juni 2021 - 11:32 WIB
loading...
Ilustrasi/SINDOnews
A
A
A
JAKARTA - Relawan Joko Widodo (Jokowi) dan Prabowo Subianto (Jok-Pro) 2024 menginginkan Jokowi dan Prabowo berpasangan pada Pilpres 2024 demi mencegah polarisasi ekstrem di Indonesia. Pengamat menilai ini hanya tameng meloloskan presiden tiga periode .
Pengamat Komunikasi Politik Universitas Esa Unggul M. Jamiluddin Ritonga melihat, kehawatiran Jok-Pro 2024 akan terjadinya polarisasi setelah pilpres mendatang tampaknya sangat spekulatif. Sebab, polarisasi ekstrem pendukung Jokowi dan Prabowo harusnya sudah teratasi dengan bergabungnya Prabowo ke Pemerintahan Jokowi.
"Bergabungnya Sandiaga Uno ke Pemerintahan Jokowi juga seharusnya semakin melenyapkan polarisasi tersebut. Tapi nyatanya, 'cebong' dan 'kampret' tetap saja bertarung di media sosial. 'Cebong' dan 'kampret' terus berhadap-hadapan dalam konfrontasi yang terkesan tidak berujung," kata Jamil, Sabtu (19/6/2021).
Baca juga: Wacana Presiden 3 Periode Muncul Lagi, Pengamat: Pak Jokowi Jangan Terima Rayuan Politik Seperti Itu
Jadi, kata Jamil, masalah polarisasi anak bangsa tidak akan selesai hanya karena menyatukan Jokowi dan Prabowo sebagai pemimpin Indonesia. Sebab, mereka saat itu memilih Jokowi bisa saja karena tidak menyukai Prabowo atau semata karena tidak ada pilihan lain. Sebaliknya, yang memilih Prabowo juga kemungkinannya sama. Mereka memilih Prabowo bisa saja karena memang tidak menyukai Jokowi.
Pengamat Komunikasi Politik Universitas Esa Unggul M. Jamiluddin Ritonga melihat, kehawatiran Jok-Pro 2024 akan terjadinya polarisasi setelah pilpres mendatang tampaknya sangat spekulatif. Sebab, polarisasi ekstrem pendukung Jokowi dan Prabowo harusnya sudah teratasi dengan bergabungnya Prabowo ke Pemerintahan Jokowi.
"Bergabungnya Sandiaga Uno ke Pemerintahan Jokowi juga seharusnya semakin melenyapkan polarisasi tersebut. Tapi nyatanya, 'cebong' dan 'kampret' tetap saja bertarung di media sosial. 'Cebong' dan 'kampret' terus berhadap-hadapan dalam konfrontasi yang terkesan tidak berujung," kata Jamil, Sabtu (19/6/2021).
Baca juga: Wacana Presiden 3 Periode Muncul Lagi, Pengamat: Pak Jokowi Jangan Terima Rayuan Politik Seperti Itu
Jadi, kata Jamil, masalah polarisasi anak bangsa tidak akan selesai hanya karena menyatukan Jokowi dan Prabowo sebagai pemimpin Indonesia. Sebab, mereka saat itu memilih Jokowi bisa saja karena tidak menyukai Prabowo atau semata karena tidak ada pilihan lain. Sebaliknya, yang memilih Prabowo juga kemungkinannya sama. Mereka memilih Prabowo bisa saja karena memang tidak menyukai Jokowi.
Lihat Juga :