Lompatan Kekuatan Laut Indonesia

Senin, 14 Juni 2021 - 06:01 WIB
loading...
A A A
Senada, Susaningtyas Nefo Handayani Kertopati menilai kontrak pembelian kapal perang jenis Fregat dari Italia dan Jepang memang ditujukan untuk menggantikan beberapa kapal perang TNI AL yang sudah masuk program konservasi. Dinamika lingkungan strategis regional dan global tentu mempengaruhi kebijakan pertahanan Indonesia.

“Pembelian alutsista TNI selalu didasari dengan kalkulasi tempur sesuai doktrin dan strategi Sishankamrata. Artinya, pembangunan postur pertahanan, termasuk pembelian alutsista selalu ditujukan untuk memenuhi kebutuhan pertahanan,” ujar Nuning Kertopati kepada Koran SINDO, Minggu (13/6).

Menurut dia, luas perairan Indonesia hingga hak berdaulat di ZEE dan landas kontinental yang mencapai lebih dari 200 mil laut tentunya membutuhkan kapal perang jenis Frigate. Kebutuhan operasional di laut yang memiliki sea state 3 ke atas tentu membutuhkan kapal perang yang memiliki kemampuan jelajah lebih dari 15 hari.

Selain daya jelajah, dibutuhkan juga kapal perang yang mampu mengoperasikan semua jenis peralatan deteksi, baik deteksi udara, deteksi permukaan laut, dan deteksi bawah permukaan laut. Karena itu, dibutuhkan kapal perang jenis Frigate agar mampu membawa ketiga jenis peralatan deteksi tersebut. Belum lagi persenjataan yang harus dimiliki melengkapi sistem deteksi.

“Dengan proyeksi 25 tahun, maka pembelian kapal perang jenis Frigate tergolong cukup proporsional dengan kemampuan keuangan negara. Perhitungan benefit and cost analysis dapat disimulasikan hingga 25 tahun sehingga diperoleh rasio kebutuhan menghasilkan jumlah kapal perang yang harus dibeli. Kemenhan RI telah melakukan berbagai simulasi untuk mencapai nilai yang maksimal,” ujarnya.

Anggota Komisi I DPR Christina Aryani menyatakan dukungan atas langkah Kementerian Pertahanan memperkuat TNI dengan alutsista canggih. Sebab dalam pandangannya, , ancaman dari sisi militer dapat dilihat secara nyata dan sering terjadi, seperti pelanggaran wilayah laut seperti penyelundupan manusia, narkoba dan barang lainnya. Menurut diam, fakta tersebut terjadi karena kita tidak bisa mengawasi laut secara optimal.

"Bagaimana kita ingin menjaga kekayaan kita kalau alutsista belum mumpuni. Bukan hanya kapal perang atau kapal patroli tapi juga radar atau pengawasan dari udara dan darat juga penting sehingga memang dibutuhkan alutsista yang memadai," ungkapnya.

Seperti diketahui, kabar pembelian enam fregat Italia diumumkan Fincantieri yang menyebut Kementerian Pertahanan Indonesia telah meneken kontrak pembelian tersebut, besar dukungan logistiknya. Fincantieri sebagai kontraktor utama akan melibat perusahaan kelas dunia seperti Leonardo untuk combat system, MBDA untuk komponen rudal, Elettronika untuk komponen EW, serta galangan kapal nasional PT PAL yang disebut kebagian membangun 2 kapal frigat FREMM.

Desain Fregat FREMM sendiri merupakan hasil kerjasama Italia yang diwakili Fincantieri dengan Prancis yang diwakili Naval Grup. Italia selanjutnya memberi nama kapal canggih tersebut dengan Bergamini dan Prancis menamainya dengan Aquitane. Fregat FREMMmemiliki ukuran 144,6 meter dengan bobot 6.700 ton.

Sedangkan fregate bekas kelas Maestale berukuran 122,7 meter dengan bobot 3,040 ton. Rencananya kapal ini akan diakuisis terlebih dulu setelah pensiun dari AL Italia dan akan menjalani modernisasi terlebih dulu. Jika kabar pembelian ini terwujud, Indonesia akan menjadi negeri pengguna ke-10. Negara lain yang membeli kapal tersebut adalah Amerika Serikat yang memborong 10 kapal.
(ynt)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Indonesia di Antara...
Indonesia di Antara Quantum Warfare dan Multipolaritas
Indonesia-Prancis Bakal...
Indonesia-Prancis Bakal Latihan Militer Gabungan Misi Pegasus pada September 2026
1.773 Calon Komcad dari...
1.773 Calon Komcad dari ASN Kementerian dan Instansi Latihan Dasar Militer Selama 1,5 Bulan
2.019 ASN Ikut Pelatihan...
2.019 ASN Ikut Pelatihan Komcad, Diajari Pengetahuan Dasar Senjata
Peneliti UHAMKA Soroti...
Peneliti UHAMKA Soroti Dampak Perang Iran Terhadap Indonesia
Bahas Kode Etik Perilaku...
Bahas Kode Etik Perilaku di Laut China Selatan, Akademisi Tekankan Pentingnya Sentralitas ASEAN dan UNCLOS
Kapal Fregat Rusia Lepaskan...
Kapal Fregat Rusia Lepaskan Tembakan Peringatan di Selat Inggris
Respons Aksi China,...
Respons Aksi China, Jepang Perkuat Pertahanan Sisi Barat Daya
5 Kapal Perang Paling...
5 Kapal Perang Paling Canggih di ASEAN
Rekomendasi
GAPKI: Pengawasan Ekspor...
GAPKI: Pengawasan Ekspor Sawit Sudah Ketat, Kuncinya Penegakan Hukum
Rudal Ukraina Hancurkan...
Rudal Ukraina Hancurkan Pabrik Senjata Rusia
Jet Tempur China dan...
Jet Tempur China dan Rusia Kompak Masuk ke Zona Pertahanan Udara Korsel
Berita Terkini
Saatnya Muktamar NU...
Saatnya Muktamar NU Hadirkan Kepemimpinan yang Tak Lagi Wariskan Pertengkaran Berkepanjangan
Bareskrim Didesak Pulihkan...
Bareskrim Didesak Pulihkan Hak Korban Penipuan dan Penggelapan Dana Syariah Indonesia
Pengamat: Penegakan...
Pengamat: Penegakan Hukum Jadi Cermin Kualitas Demokrasi
Kemendagri dan DPR Sinergi...
Kemendagri dan DPR Sinergi Pemberdayaan Ormas untuk Percepat Kesejahteraan Masyarakat NTB
Survei Puspoll Indonesia,...
Survei Puspoll Indonesia, Kepuasan Publik Atas Kinerja Presiden Prabowo Capai 64,8 Persen
Jokowi Minta Kader PSI...
Jokowi Minta Kader PSI Hidupkan Mesin Partai sampai Tingkat Desa
Infografis
20 Universitas Terbaik...
20 Universitas Terbaik di Indonesia Versi QS WUR 2027
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved