Masinton Nilai Pelaporan Pimpinan Bukti Nyata Kelompok Powerfull di KPK
Rabu, 02 Juni 2021 - 20:31 WIB
loading...
Anggota DPR RI Fraksi PDIP, Masinton Pasaribu menilai polemik TWK itu menjadi bukti nyata adanya friksi ataupun kelompok powerfull yang berada di tubuh KPK. Foto/SINDOnews
A
A
A
JAKARTA - Polemik Tes Wawasan Kebangsaan (TW K) guna alih status pegawai Komisi pmberantasan Korupsi (KPK) menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN) masih terus bergulir hingga saat ini. Para pegawai yang tak lolos TWK pun melaporkan para pimpinan kepada beberapa pihak karena dianggap sengaja menyingkirkan.
Anggota DPR RI Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (F-PDIP), Masinton Pasaribu menilai polemik TWK itu menjadi bukti nyata adanya friksi ataupun kelompok powerfull yang berada di tubuh KPK. Baca juga: KPK Tahan Wakil Direktur PT Adonara Propertindo Terkait Kasus Korupsi Tanah Munjul
"Menurut saya ini sudah gamblang yang dulu mungkin publik sebagai besar tidak percaya ketika kita sampaikan ada klik di sana, ada friksi di sana, ada pengelompokan di sana, ada yang merasa powerfull di sana dan itu sekarang terjadi nah sekarang muncul," ujar Masinton dalam diskusi secara daring, Rabu (2/6/2021).
Masinton menilai bahwa beberapa pegawai yang tidak lulus TWK diduga menjadi bagian dari suatu kelompok yang dianggap powerfull. Menurut Masinton, kelompok tersebut merasa paling berintegritas dari pegawai KPK lainnya.
"Nah ternyata dengan kejadian ini mereka merasa bahwa sebagai pemegang otoritas yang paling berintegritas di KPK itu ternyata mereka enggak siap dengan UU yang sekarang yang mengharuskan mereka dapat diangkat sebagai ASN sepanjang memenuhi ketentuan perundang-undangan," jelasnya.
Maka dari itu, adanya pelaporan dari pegawai yang tak lolos dan adanya penolakan dari pegawai yang lolos TWK itu merupakan bukti nyata adanya kelompok powerfull. Hal tersebut tersisih dengan sendirinya oleh TWK.
"Jadi menurut saya ini penolakan ini lebih pada yang selama ini merasa paling mapan dan merasa kelompok yang sangat selama ini mengklaim sebagai penyidik atau penyelidik atau pegawai KPK yang memiliki integritas lebih dibanding yang lainnya," katanya.
Anggota DPR RI Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (F-PDIP), Masinton Pasaribu menilai polemik TWK itu menjadi bukti nyata adanya friksi ataupun kelompok powerfull yang berada di tubuh KPK. Baca juga: KPK Tahan Wakil Direktur PT Adonara Propertindo Terkait Kasus Korupsi Tanah Munjul
"Menurut saya ini sudah gamblang yang dulu mungkin publik sebagai besar tidak percaya ketika kita sampaikan ada klik di sana, ada friksi di sana, ada pengelompokan di sana, ada yang merasa powerfull di sana dan itu sekarang terjadi nah sekarang muncul," ujar Masinton dalam diskusi secara daring, Rabu (2/6/2021).
Masinton menilai bahwa beberapa pegawai yang tidak lulus TWK diduga menjadi bagian dari suatu kelompok yang dianggap powerfull. Menurut Masinton, kelompok tersebut merasa paling berintegritas dari pegawai KPK lainnya.
"Nah ternyata dengan kejadian ini mereka merasa bahwa sebagai pemegang otoritas yang paling berintegritas di KPK itu ternyata mereka enggak siap dengan UU yang sekarang yang mengharuskan mereka dapat diangkat sebagai ASN sepanjang memenuhi ketentuan perundang-undangan," jelasnya.
Maka dari itu, adanya pelaporan dari pegawai yang tak lolos dan adanya penolakan dari pegawai yang lolos TWK itu merupakan bukti nyata adanya kelompok powerfull. Hal tersebut tersisih dengan sendirinya oleh TWK.
"Jadi menurut saya ini penolakan ini lebih pada yang selama ini merasa paling mapan dan merasa kelompok yang sangat selama ini mengklaim sebagai penyidik atau penyelidik atau pegawai KPK yang memiliki integritas lebih dibanding yang lainnya," katanya.
Lihat Juga :