Sentil Keras Ganjar Pranowo, PDIP Mainkan Model Marketing Politik Tradisional
Senin, 24 Mei 2021 - 10:50 WIB
loading...
A
A
A
Untuk mencapai itu, menurut dia, para elite PDIP dituntut mampu melakukan penetrasi pasar politik secara intens ke kalangan masyarakat luas melalui berbagai jenis interaksi langsung. "Namun di tengah menguatnya penggunaan berbagai jenis platform sosial media dan dalam situasi pandemic saat ini, penggunaan sosial media kian tak terelakkan," tuturnya.
Selain itu, dia berpendapat bahwa tanpa memaksimalkan penggunaan media sosial, penetrasi pasar PDIP di kalangan anak-anak muda kian terbatas. "PDIP bisa saja mampu mendapatkan dukungan besar dari para pemilih tua, namun bisa kurang populer di kalangan anak muda," imbuhnya.
Syarat ketiga, dia melanjutkan, para elite PDIP khususnya yang menjadi publik figure atau menjabat di lembaga-lembaga Negara atau pemerintahan mampu lebih memasarkan partainya, dibandingkan dengan dirinya. "Dalam hal ini, mereka dituntut memiliki semangat kolektif untuk lebih mengedepankan visibilitas kinerja PDIP sebagai sebuah parpol dalam panggung politik lokal dan nasional dibandingkan kinerja dirinya sebagai personal," ujarnya.
Menurut dia, kritik yang disampaikan oleh Bambang Wuryanto ke Ganjar Pranowo agar tidak terlalu ambisius masuk dalam bursa Capres 2024 sepertinya dapat dibaca sebagai warning bagi semua kader PDIP yang saat ini menjadi pejabat publik, khususnya memiliki popularitas dan elektabilitas yang tinggi, agar lebih mampu memasarkan Parpolnya, bukan sekadar memasarkan dirinya saja.
"Namun, hal tersebut sepertinya tidak mudah, karena dalam panggung politik local dan nasional saat ini, visibilitas profil dan kinerja elite-elite parpol, khususnya yang menjadi pejabat publik di lembaga eksekutif, lebih menonjol, dibandingkan visibilitas kinerja organisasi parpolnya," pungkasnya.
Selain itu, dia berpendapat bahwa tanpa memaksimalkan penggunaan media sosial, penetrasi pasar PDIP di kalangan anak-anak muda kian terbatas. "PDIP bisa saja mampu mendapatkan dukungan besar dari para pemilih tua, namun bisa kurang populer di kalangan anak muda," imbuhnya.
Syarat ketiga, dia melanjutkan, para elite PDIP khususnya yang menjadi publik figure atau menjabat di lembaga-lembaga Negara atau pemerintahan mampu lebih memasarkan partainya, dibandingkan dengan dirinya. "Dalam hal ini, mereka dituntut memiliki semangat kolektif untuk lebih mengedepankan visibilitas kinerja PDIP sebagai sebuah parpol dalam panggung politik lokal dan nasional dibandingkan kinerja dirinya sebagai personal," ujarnya.
Menurut dia, kritik yang disampaikan oleh Bambang Wuryanto ke Ganjar Pranowo agar tidak terlalu ambisius masuk dalam bursa Capres 2024 sepertinya dapat dibaca sebagai warning bagi semua kader PDIP yang saat ini menjadi pejabat publik, khususnya memiliki popularitas dan elektabilitas yang tinggi, agar lebih mampu memasarkan Parpolnya, bukan sekadar memasarkan dirinya saja.
"Namun, hal tersebut sepertinya tidak mudah, karena dalam panggung politik local dan nasional saat ini, visibilitas profil dan kinerja elite-elite parpol, khususnya yang menjadi pejabat publik di lembaga eksekutif, lebih menonjol, dibandingkan visibilitas kinerja organisasi parpolnya," pungkasnya.
(maf)
Lihat Juga :