Kasus Baru Covid-19 Pascalibur Lebaran Harus Diantisipasi
Senin, 17 Mei 2021 - 05:57 WIB
loading...
A
A
A
Dia juga meminta dilakukan screening ketat saat pekerja yang kembali bekerja, terutama bagi yang tetap melakukan mudik. Adapun peningkatan tracing atau pelacakan terhadap orang yang melakukan kontak dengan orang yang positif, Adib menyarankan agar kemampuan petugas dalam melakukan deteksi dini ditingkatkan. Tidak kalah penting adalah penyiapan fasilitas kesehatan.
“Perlu memetakan kemampuan fasilitas kesehatan, termasuk SDM, alat kesehatan, obat , ICU dan ventilator, serta sistem rujukan yang terintegrasi,” paparnya.
Baca juga: Lonjakan COVID-19, KKP Soetta Perpanjang Masa Karantina WNA Filipina dan Pakistan
Kedua, Adib mengingatkan perlunya konsistensi dalam penerapan regulasi baik oleh pemerintah pusat terlebih lagi pemerintah daerah. Ketiga, perlu meningkatkan kemampua dan kapasitas tim surveillance genomic/biomolekuler untuk memantau mutasi virus. Apalagi, diketahui varian baru virus korona kini juga sudah masuk ke Indonesia.
Epidemiolog dari UI, Kamaluddin Latief berpandangan, kaitan antara mobilitas masyarakat dengan kenaikan kasus positif memang sangat erat. Hal ini pun terjadi pada libur Lebaran tahun ini. Dia mengaku khawatir tingginya mobilitas masyarakat akan menaikan kasus dalan dua pekan dihitung dari Lebaran hari pertama.
Mengenai langkah mitigasi dalam mengantisipasi lonjakan kasus, Kamaluddin mengatakan sistemnya sudah benar, titik kritis sudah dapat diidentifikasi, namun ada masalah pada implementasinya sehingga selama ini tidak berjalan maksimal.
“Seperti tenaga tracing yang masih kurang. Indonesia kini hanya memiliki 8.000-10.000 saja, itu tidak mencapai 20% dari tenaga ideal tracer yang seharusnya di atas 50.000,” ujarnya.
Tenaga surveilans, kata Kamaluddin, sangat diperlukan. Ketika ada yang positif, para surveilans yang akan mencari dengan siapa saja mereka bertemu dan melakukan kontak, termasuk d mana saja tempat tinggalnya.Selain jumlah yang masih kurang, tenaga surveilans juga perlu meningkatkan pengetahuannya.
Baca juga: Kasus Covid-19 di Indonesia Kembali Naik, IDI Sarankan Untuk Tetap Pakai Masker
Menurutnya, aplikasi yang dipakai sekarang ini belum sepenuhnya dipahami, karena kemampuan tenaga surveilans terbatas. Selain itu surveilans juga lebih terkonsentrasi di Jabodetabek sehingga pelacakan di luar wilayah ini masih terbatas.
“Jadi, update informasi maupun alat kerja para surveilans menjadi pekerjaan rumah selanjutnya dari pemerintah. Idealnya tracing itu dilakukan pada saat kasus sedikit agar hasilnya maksimal. Jika kasus terlanjuur membeludak akan kewalahan,” paparnya.
Siagakan Rumah Sakit
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyebut pihaknya sudah menyiapkan langkah antisipasi jika kasus Covid-19 melonjak. Termasuk memastikan ketersediaan tempat tidur di rumah sakit, kesiapan obat-obatan dan fasilitas lainnya termasuk oksigen.
Secara keseluruhan, data Kementerian Kesehatan menunjukkan total tempat tidur yang tersedia saat ini sebanyak 390.000 unit. Khusus tempat tidur untuk melayani pasien Covid-19 tersedia 70.000 unit.
“Saat ini tingkat keterisian tempat tidur untuk pasien Covid-19 sekitar 23.000-an,” kata Menkes.
“Perlu memetakan kemampuan fasilitas kesehatan, termasuk SDM, alat kesehatan, obat , ICU dan ventilator, serta sistem rujukan yang terintegrasi,” paparnya.
Baca juga: Lonjakan COVID-19, KKP Soetta Perpanjang Masa Karantina WNA Filipina dan Pakistan
Kedua, Adib mengingatkan perlunya konsistensi dalam penerapan regulasi baik oleh pemerintah pusat terlebih lagi pemerintah daerah. Ketiga, perlu meningkatkan kemampua dan kapasitas tim surveillance genomic/biomolekuler untuk memantau mutasi virus. Apalagi, diketahui varian baru virus korona kini juga sudah masuk ke Indonesia.
Epidemiolog dari UI, Kamaluddin Latief berpandangan, kaitan antara mobilitas masyarakat dengan kenaikan kasus positif memang sangat erat. Hal ini pun terjadi pada libur Lebaran tahun ini. Dia mengaku khawatir tingginya mobilitas masyarakat akan menaikan kasus dalan dua pekan dihitung dari Lebaran hari pertama.
Mengenai langkah mitigasi dalam mengantisipasi lonjakan kasus, Kamaluddin mengatakan sistemnya sudah benar, titik kritis sudah dapat diidentifikasi, namun ada masalah pada implementasinya sehingga selama ini tidak berjalan maksimal.
“Seperti tenaga tracing yang masih kurang. Indonesia kini hanya memiliki 8.000-10.000 saja, itu tidak mencapai 20% dari tenaga ideal tracer yang seharusnya di atas 50.000,” ujarnya.
Tenaga surveilans, kata Kamaluddin, sangat diperlukan. Ketika ada yang positif, para surveilans yang akan mencari dengan siapa saja mereka bertemu dan melakukan kontak, termasuk d mana saja tempat tinggalnya.Selain jumlah yang masih kurang, tenaga surveilans juga perlu meningkatkan pengetahuannya.
Baca juga: Kasus Covid-19 di Indonesia Kembali Naik, IDI Sarankan Untuk Tetap Pakai Masker
Menurutnya, aplikasi yang dipakai sekarang ini belum sepenuhnya dipahami, karena kemampuan tenaga surveilans terbatas. Selain itu surveilans juga lebih terkonsentrasi di Jabodetabek sehingga pelacakan di luar wilayah ini masih terbatas.
“Jadi, update informasi maupun alat kerja para surveilans menjadi pekerjaan rumah selanjutnya dari pemerintah. Idealnya tracing itu dilakukan pada saat kasus sedikit agar hasilnya maksimal. Jika kasus terlanjuur membeludak akan kewalahan,” paparnya.
Siagakan Rumah Sakit
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyebut pihaknya sudah menyiapkan langkah antisipasi jika kasus Covid-19 melonjak. Termasuk memastikan ketersediaan tempat tidur di rumah sakit, kesiapan obat-obatan dan fasilitas lainnya termasuk oksigen.
Secara keseluruhan, data Kementerian Kesehatan menunjukkan total tempat tidur yang tersedia saat ini sebanyak 390.000 unit. Khusus tempat tidur untuk melayani pasien Covid-19 tersedia 70.000 unit.
“Saat ini tingkat keterisian tempat tidur untuk pasien Covid-19 sekitar 23.000-an,” kata Menkes.
Lihat Juga :