Belajar dari GAM, Masalah Konflik Papua Diharapkan lewat Pendekatan Dialog
Sabtu, 15 Mei 2021 - 16:57 WIB
loading...
A
A
A
Baca juga: Kontak Senjata dengan TNI, Ini Identitas KSB Papua yang Tewas
"Meminta kedua pihak, baik Polri-TNI dan KKB untuk menghentikan kontak senjata, demi menjaga keselamatan nyawa warga sipil yang tinggal di wilayah konflik," kata Kepala Departemen DPP GAMKI Bidang Pembangunan SDM Papua, Bernard Rumpeday, Sabtu (15/5/2021).
"Saat ini banyak warga, baik orang asli Papua dan pendatang di Intan Jaya, Puncak Ilaga, dan Ndugama yang telah mengungsi dan meninggalkan rumah mereka, karena khawatir dengan konflik senjata antara aparat keamanan dan KKB," tambahnya.
Bernard mengungkapkan, pihaknya meminta pemerintah pusat, terkhusus para pimpinan nasional dan elite di Jakarta untuk memperhatikan nasib warga sipil di wilayah konflik di Papua. Selain mereka rawan menjadi korban penembakan, mereka juga kesulitan memenuhi kebutuhan hidup di pengungsian mereka di hutan.
"Menyayangkan pernyataan beberapa pimpinan nasional yang terkesan tidak memahami konteks persoalan Papua dan tidak memiliki rasa empati kepada warga sipil yang berada di wilayah konflik," ucapnya.
"Meminta kedua pihak, baik Polri-TNI dan KKB untuk menghentikan kontak senjata, demi menjaga keselamatan nyawa warga sipil yang tinggal di wilayah konflik," kata Kepala Departemen DPP GAMKI Bidang Pembangunan SDM Papua, Bernard Rumpeday, Sabtu (15/5/2021).
"Saat ini banyak warga, baik orang asli Papua dan pendatang di Intan Jaya, Puncak Ilaga, dan Ndugama yang telah mengungsi dan meninggalkan rumah mereka, karena khawatir dengan konflik senjata antara aparat keamanan dan KKB," tambahnya.
Bernard mengungkapkan, pihaknya meminta pemerintah pusat, terkhusus para pimpinan nasional dan elite di Jakarta untuk memperhatikan nasib warga sipil di wilayah konflik di Papua. Selain mereka rawan menjadi korban penembakan, mereka juga kesulitan memenuhi kebutuhan hidup di pengungsian mereka di hutan.
"Menyayangkan pernyataan beberapa pimpinan nasional yang terkesan tidak memahami konteks persoalan Papua dan tidak memiliki rasa empati kepada warga sipil yang berada di wilayah konflik," ucapnya.
Lihat Juga :