Belajar dari GAM, Masalah Konflik Papua Diharapkan lewat Pendekatan Dialog
Sabtu, 15 Mei 2021 - 16:57 WIB
loading...
A
A
A
"Sebagai contoh adalah pernyataan Ketua MPR RI Bambang Soesatyo yang meminta KKB Papua ditumpas habis dan menomorduakan Hak Asasi Manusia. Bambang Soesatyo sebagai Ketua MPR di berbagai kesempatan selalu mengatakan MPR adalah Rumah Kebangsaan Bersama guna merekatkan anak bangsa, namun beliau justru tidak ada membahas nasib pengungsi yang ada di wilayah konflik di Papua," sambungnya.
Gamki juga mengingatkan kepada Ketua MPR, untuk berkomunikasi lebih intens dengan anggota MPR yang berasal dari Tanah Papua seperti Yorrys Raweyai, Robert Kardinal, dan anggota MPR lainnya agar paham gambaran utuh persoalan Papua, sebelum mengambil sikap terkait penanganan persoalan Papua.
"Persoalan Papua harus diselesaikan dengan pendekatan kearifan lokal dan kemanusiaan. Penyelesaian dengan tindakan kekerasan hanya akan membuat konflik terjadi secara berlarut-larut," jelasnya.
"Meminta pemerintah, baik Presiden Jokowi, Menko Polhukam, Kapolri, Panglima TNI, Kepala BIN, dan kementerian lembaga lainnya untuk dapat mendengar persoalan Papua dari sumber-sumber yang objektif, terpercaya, dan memahami konteks Papua secara utuh sehingga dapat mengambil kebijakan yang arif dan bijaksana," tutupnya.
Gamki juga mengingatkan kepada Ketua MPR, untuk berkomunikasi lebih intens dengan anggota MPR yang berasal dari Tanah Papua seperti Yorrys Raweyai, Robert Kardinal, dan anggota MPR lainnya agar paham gambaran utuh persoalan Papua, sebelum mengambil sikap terkait penanganan persoalan Papua.
"Persoalan Papua harus diselesaikan dengan pendekatan kearifan lokal dan kemanusiaan. Penyelesaian dengan tindakan kekerasan hanya akan membuat konflik terjadi secara berlarut-larut," jelasnya.
"Meminta pemerintah, baik Presiden Jokowi, Menko Polhukam, Kapolri, Panglima TNI, Kepala BIN, dan kementerian lembaga lainnya untuk dapat mendengar persoalan Papua dari sumber-sumber yang objektif, terpercaya, dan memahami konteks Papua secara utuh sehingga dapat mengambil kebijakan yang arif dan bijaksana," tutupnya.
(maf)
Lihat Juga :