Masalah Penanganan COVID-19, Drajad Wibowo: Tidak Berdasarkan Sains
Jum'at, 22 Mei 2020 - 13:44 WIB
loading...
A
A
A
“Kalau ini terus, akan banyak kasus positif dan sektor kesehatan tidak akan sanggup. Tolong jangan mengabaikan protokol kesehatan. Ketika kita sakit yang merawat itu dokter dan perawat. Mereka sudah 24 jam tidak tidur. Ketika tumbang, siapa yang merawat rakyat?” tuturnya.
Drajad mewanti-wanti jangan sampai sektor kesehatan jebol karena itu akan dianggap sebagai kegagalan menghadapi pandemi. Imbasnya akan merembet kemana-mana, salah satunya, anjloknya kepercayaan ekonomi.
“Pebisnis itu tidak risk taking untuk keselamatan diri. Tapu untuk bisnisnya, berani ambil risiko. Ketika kasus (covid-19) gede, tidak berani berbisnis di Jakarta. Balas akan dibawa lari. Krisis juga,” terang Politikus Senior PAN ini.
Drajad menilai penanganan masalah ekonomi di tengah pandemi ini juga kedodoran. Pendapatan pajak anjlok dan surat utang negara (SUN) tidak kondusif. Bahkan di saat bersamaan Filipina mengeluarkan surat utang yang lebih murah dari Indonesia. (Baca juga: Gugus Tugas Apresiasi Langkah BPOM Siapkan Laboratorium untuk Uji COVID-19)
Dengan segala indikatornya yang ada, menurutnya, Indonesia belum siap menghadapi new normal. Negara-negara lain sudah merancang ke arah sana, seperti di Amsterdam itu restoran menggunakan kerangkeng sehingga pelanggannya merasa aman. “Indonesia masih ketinggalan jauh, tapi sudah mau menormalkan. Itu berisiko,” pungkasnya.
Drajad mewanti-wanti jangan sampai sektor kesehatan jebol karena itu akan dianggap sebagai kegagalan menghadapi pandemi. Imbasnya akan merembet kemana-mana, salah satunya, anjloknya kepercayaan ekonomi.
“Pebisnis itu tidak risk taking untuk keselamatan diri. Tapu untuk bisnisnya, berani ambil risiko. Ketika kasus (covid-19) gede, tidak berani berbisnis di Jakarta. Balas akan dibawa lari. Krisis juga,” terang Politikus Senior PAN ini.
Drajad menilai penanganan masalah ekonomi di tengah pandemi ini juga kedodoran. Pendapatan pajak anjlok dan surat utang negara (SUN) tidak kondusif. Bahkan di saat bersamaan Filipina mengeluarkan surat utang yang lebih murah dari Indonesia. (Baca juga: Gugus Tugas Apresiasi Langkah BPOM Siapkan Laboratorium untuk Uji COVID-19)
Dengan segala indikatornya yang ada, menurutnya, Indonesia belum siap menghadapi new normal. Negara-negara lain sudah merancang ke arah sana, seperti di Amsterdam itu restoran menggunakan kerangkeng sehingga pelanggannya merasa aman. “Indonesia masih ketinggalan jauh, tapi sudah mau menormalkan. Itu berisiko,” pungkasnya.
(kri)
Lihat Juga :